1.3. Si Tawon Merah
Cin Lan menghampiri dan merangkulnya. “Adik Bwee Hwa, marilah engkau ikut dengan kami ke rumah. Engkau bukan saja telah menyelamatkan kami, akan tetapi aku sudah menganggap engkau sebagai adikku sendiri. Marilah, Bwee Hwa!”
Nyonya Thio juga membujuk. “Bwee Hwa, kami mohon agar engkau suka ikut dengan kami. Kami
1.2. Penyelamatan Keluarga Thio-taijin
Beberapa orang laki-laki yang sedang berdesakan itu melotot dan mereka terbelalak memandang kepada Bwee Hwa dengan penuh kagum. Memang gadis ini mirip Thio-siocia, cantik jelita, bahkan lebih cantik ditambah gagah lagi. Mereka berseru kagum dan seruan ini membuat sebagian besar pria yang sedang menonton ke dalam menengok.
1.1. Hemmmm, engkau…… takut?
Musim dingin baru tiba. Bunga-bunga salju kecil ringan bagaikan kapas melayang-layang turun dari langit, bertebaran menutupi segala benda di permukaan bumi. Di mana-mana tampak putih, putih bersih menyedapkan penglihatan. Biasanya, pada awal musim salju, segalanya tampak indah. Warna keputih-putihan yang bersih itu diselingi warna totol-totol hitam dari
“Bwee Hwa, engkau tidak mengecewakan hati gurumu. Tidak sia-sia kiranya aku menculikmu dahulu dan mengambilmu sebagai murid. Akan tetapi engkau tidak usah merasa berhutang budi kepadaku, Bwee Hwa. Engkau tidak berhutang apapun kepadaku, karena akupun tidak merasa menghutangkan apa-apa kepadamu. Aku tidak merasa telah memberi apapun kepadamu dan kalau pelajaran
12.3. Permusuhan antara Keluarga Yu dan Liem
Yu Lee menggeleng kepala. “Maaf nona bukan sekali-kali saya seorang pelayan berani lancang mulut mencampuri urusan pribadi nona. Akan tetapi nona amatlah baik kepada saya, juga keluarga Yu telah menanam budi besar kepada saya. Oleh karena itu bolehkah saya mengetahui apa sebabnya nona mencari
12.2. Berani kau melukai pelayanku......?
Siok Lan meloncat bangun diturut oleh Yu Lee yang bangkit juga dengan tenang. “Wah, memang tidak salah dugaanku! Ang-kin Kai-pang hanyalah sekumpulan perampok yang menyamar sebagai pengemis kelaparan! Sungguh hal ini amat memalukan golongan liok-lim (perampok) dan kai-pang (kaum pengemis) yang tulen!”
Kakek pengemis itu mengangkat tongkatnya
12.1. Apa...? Kau... minta digaplok, A-liok?
Dara itu menghela napas panjang. “Engkau tidak mengerti keadaan hati wanita, Siong-koko. Aku dan Suci Lauw Ci Sian mempunyai pendapat yang sama. Kalau ada laki-laki yang melihat keadaan kami bertelanjang bulat seperti dahulu itu, dia harus kami bunuh! Itulah sebabnya mengapa kami membunuh Yang-ce Su-go.
11.3. Pernyataan Kasih Pendekar Perkasa
Untuk menjadi seorang raja bijaksana seperti itu membutuhkan rasa cinta kasih yang mendalam kepada rakyat dan negaranya, terutama kepada rakyat kecil. Pemerintah Goan adalah pemerintah penjajah, kaisarnya pun seorang asing. Tentu saja andaikata ada perasaan kasih sayang di hatinya terhadap rakyat, maka bukanlah rakyat yang dijajahnya,
11.2. Dua Pasang Sejoli Pemimpin Pasukan
Di dalam hutan kecil itu mereka berdua duduk di bawah pohon besar, menanggalkan topi dan mengebut-ngebut leher mengeringkan keringat. Dua orang gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak mereka memasuki hutan, banyak pasang mata mengikuti gerak gerik mereka mata yang memandang penuh gairah ke
11.1. Totokan Gelap Sang Pelayan
Pukulan itu cepat menyambar ke arah dada Yu Lee. Pemuda ini maklum bahwa kalau ia tidak cepat-cepat mengakhiri pertandingan ini tentu rahasianya akan terbuka, maka ia sengaja seperti tidak tahu akan datangnya pukulan ini.
“A-liok, awas......!” teriak Siok Lan.
Namun terlambat, biarpun A-liok yang bingung itu menggerakkan tubuh,