TAPAK GENISeri 38

Bab oleh DimasAndy ditulis kemarin jam 9:06am

Seri 38

DI DEPAN rumah Ki Lurah Randu terlihat Wulansari sedang duduk di sebuah amben, wajahnya tampak murung seperti memikirkan sesuatu. Sementara di samping rumah Ki Lurah Randu, Sumitra sedang membantu Ratih mengumpulkan kayu yg sudah di belah oleh Tantra.
"sepertinya Wulansari sedang sedih kakang" kata Ratih kepada Sumitra.
"mungkin dia sedang memikirkan


TAPAK GENISeri 37

Bab oleh DimasAndy ditulis Jumjam jam 12:18pm

Seri 37

INDRATAMA sedikit reda kemarahannya, karena Wiratama terus mengingatkan pesan dari Gurunya sebelum wafat. Tetapi ia ingin secepatnya mencari keberadaan Ki Bayan dan murid-muridnya, karena Indratama tidak ingin kitab Tapak Geni terus berada di orang yg berwatak jahat seperti Ki bayan.
"sabarlah adi, kita jangan tergesa-gesa. Menurut cerita Wulansari, murid Ki


TAPAK GENISeri 36

Bab oleh DimasAndy ditulis Kamis jam 5:11pm

Seri 36

DI WISMA kesatrian Senapati Bramasta sedang duduk di kursi, ia melihat dari kejauhan ada kereta kuda yg menuju ke Wisma kesatrian. Setelah mengetahui yg menaiki kereta kuda itu Wiratama, ia pun buru-buru bangun dari tempat duduknya.
Sebentar kemudian Wiratama sudah turun dari kereta kudanya, ia pun langsung menghampiri Senapati Bramasta.
"selamat


Balada Padang Pasir (大漠谣/ Da Mo Yao) Karya Tong HuaBuku Kedua Bab XIX Kepercayaan

Bab oleh gpp1971 ditulis Rabu jam 8:30pm

Hadiah yang digambarkan Huo Qubing dengan enteng sebagai 'kekuasaan, kedudukan dan kekayaan' ternyata membuat segenap pejabat sipil dan militer di istana serta seluruh negeri tercengang. Hanya untuk pertempuran kali ini, Han Wudi menghadiahinya lima ribu delapan ratus keluarga. Namun yang penting adalah bahwa semua perwira yang ikut Huo Qubing berperang


Lembah Selaksa Bunga ~ 03.09. Hadangan Keluarga Ibu Tiri

Bab oleh andu0396 ditulis Rabu jam 7:29pm

03.09. Hadangan Keluarga Ibu Tiri

“Baik, Enci. Aku berjanji.”

“Aku adalah seorang yatim piatu. Ayah Ibuku meninggal dunia ketika aku masih kecil. Namaku adalah Nyo Siang Lan.”

“Sejak berusia sepuluh tahun aku di rawat dan dididik oleh mendiang Guruku yaitu Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu. Guruku mempunyai seorang puteri bernama Ong Lian Hong


Lembah Selaksa Bunga ~ 03.08. Jatuh, Ditimpa Tangga Pula!

Bab oleh andu0396 ditulis Rabu jam 7:28pm

03.08. Jatuh, Ditimpa Tangga Pula!

Setelah membunuh dua orang tosu itu, Siang Lan merasa kepalanya pening. Pedang itu terlepas dari tangannya, tubuhnya terasa lunglai dan ia masih dapat melihat wajah seorang laki-laki berpakaian sederhana, berwajah lembut dan tampan, berusia sekitar empatpuluh tahun.

Ia masih teringat akan pertolongan tadi dan dapat menduga


Lembah Selaksa Bunga ~ 03.07. Akhir Pendeta Berbulu Domba

Bab oleh andu0396 ditulis Rabu jam 7:26pm

03.07. Akhir Pendeta Berbulu Domba

Hwe-thian Mo-li masih hendak membela Kui Ciang-kun, akan tetapi Kui Seng berkata. “Aku telah bersalah dan sudah sepatutnya dihukum mati sebagai pengkhianat. Biarlah aku menghukum diri sendiri sebagai pertanggungan-jawabku terhadap negara!”

Tiba-tiba dia mencabut dan menikamkan pedangnya ke dadanya sendiri. Dia roboh terkulai dan Hwe-thian Mo-li yang


Lembah Selaksa Bunga ~ 02.06. Apakah Panglima Kui Pengkhianat?

Bab oleh andu0396 ditulis Rabu jam 7:24pm

02.06. Apakah Panglima Kui Pengkhianat?

Nyonya Kui terkejut dan keduanya terdiam, tenggelam ke dalam lamunan dan bayangan masing-masing yang amat menggelisahkan. Akhirnya Nyonya Kui bertanya.

“Suamiku, apakah engkau tidak bisa membebaskan tiga orang itu?”

“Hemm, kepala penjara itu termasuk anak buahku, tentu saja aku bisa mengusahakan agar mereka dapat dibebaskan, akan tetapi......”

“Akan tetapi


Lembah Selaksa Bunga ~ 02.05. Siasat Mencegah Bunuh Diri

Bab oleh andu0396 ditulis Rabu jam 7:23pm

02.05. Siasat Mencegah Bunuh Diri

Bukan saja orang ini mengaku sebagai orang yang memperkosanya tadi malam, bahkan kini menghinanya dan mengatakan ia takut! Cepat seperti kilat menyambar ia menyerang dengan Lui-kong-kiam. Akan tetapi dengan gerakan ringan sekali sambil mengeluarkan suara tawa mengejek, orang bertopeng itu mengelak dan dengan lompatan tinggi dia


Lembah Selaksa Bunga ~ 02.04. Penyesalan Seorang Pendekar

Bab oleh andu0396 ditulis Rabu jam 7:21pm

02.04. Penyesalan Seorang Pendekar

“Sie Bun Liong, jahanam busuk kau! Apa yang telah kau lakuan......? Kau layak mampus......!” Sepuluh jari tangannya menjambak-jambak rambutnya sendiri sampai gelungnya terlepas awut-awutan, kemudian kedua tangannya menampari kedua pipinya dari kanan kiri.

“Plak-plak-plak-plak-plak-plak! Kau layak mampus, layak mampus huu-huu-huuhh......!” Dia menangis sambil menahan suaranya, air matanya bercucuran,


Ulasan

Bacaan

Cerita Pendek

Statistik