Xin Yue Chuan Qi, Kisah Pendekar Harum ke-7 dan Rak Buku Belakang

HomeArticlesEntertainmentXin Yue Chuan Qi, Kisah Pendekar Harum ke-7 dan Rak Buku Belakang

avatar danivn
8 December 2008 at 1:01am

p1001821125es3.jpg

Suatu malam di musim semi.

Hujan turun deras sekali.

Hujan musim semi di Jiang Nan sering kali menimbulkan duka, terlebih bagi mereka yang jauh dari kampung halaman dan lama meninggalkan saudara.

Malam semakin larut dan gelap.

Banyak orang telah jatuh terlelap.

Tapi di sebuah gang suram terpencil masih tersisa cahaya lentera berapi kecil.

Lentera tampak tua, menguning terkena asap, tergantung di sebuah kedai mie kaki lima sederhana.

Redup cahaya lentera menerangi beberapa meja dan kursi serta dua wajah tua suami isteri penjaja yang bermuram durja.

Malam hujan menggenaskan. Gang kecil begitu terpencil.

Siapakah malam-malam hujan begini sudi mencari semangkuk mie walau secuil?

Malam semakin kelam.

Kerut wajah suami isteri penjaja mie semakin dalam.

Tidak disangka tiba-tiba terdengar gaung langkah di gang kecil terpencil itu. Seorang lelaki bertubuh kecil berjalan sendirian membelah hujan. Bajunya hijau, wajahnya pucat kekuningan tampak payah lama menderita penyakit parah.

Hujan-hujan begini bukannya berselimut di atas ranjang, ia justeru datang langsung memesan dengan garang, “Beri aku tiga mangkok mie. Tiga mangkok yang besar!”

Orang macam begini ternyata tidak mau makan secuil, melainkan memesan sekaligus tiga porsi besar!

*

Begitulah kisah pembuka Legenda Bulan Sabit (LBS) yang saya re-write untuk artikel ini.

Seandainya saya mere-write buku ini sampai tamat, sedapat mungkin nama-nama pasti akan saya tulis dalam hokkian. Barulah di sini ada relevansi menulis dalam hokkian karena sebagai kelanjutan seri terdahulu, jika ditulis dalam pinyin, kenalkah pembaca dengan nama-nama ini: Hu Tie Hua atau Ji Bing Yan misalnya?

Itulah para sahabat si Pendekar Harum.

Jika ditulis dalam pinyin, masih dapatkah pembaca dengan mudah mengenali nama tiga dayang Pendekar Harum?

Jadi sederhana saja: jika sudah ada seri sebelumnya, gunakan hokian. Jika baru sama sekali, gunakan pinyin.

*

Mari tinggalkan perdebatan menjemukan antara hokian dan pinyin. Bagi saya, LBS memang tidak seburuk ATM, tapi tetap bukan karya terbaik GL. Walau dibuka dengan sangat menjanjikan, tapi ditutup tanpa kejutan yang cukup berarti.

Jika Empat Alis lebih merupakan Poirot-nya Agatha Christie, maka Pendekar Harum lebih mendekati James Bond-nya Ian Flemming.

Antara Empat Alis dan Pendekar Harum, jika diperhatikan, permasalahan dan cara memecahkan masalahnya punya karakteristik berbeda.

Maka sebagaimana James Bond, Pendekar Harum dipuja wanita, penjahatnya pun umumnya psikopat-megalomania. Walau begitu, teka-teki khas GL tetap menjadi ramuan utama. Kali ini kasus bermula dari ditemukannya bulan sabit di saputangan sutra mini.

Buku ini hanya terdiri dari 13 bab pendek-pendek, baca setengah hari pun tamat. Karena saya bukan kolektor GL, juga bukan kolektor Pendekar Harum, melainkan pengagum buku bermutu (ehm!), maka buku ini hanya saya simpan di tumpukan paling belakang yang tidak saya pajang dan banggakan, berbeda kasta dan karmanya dengan tiga kisah Pendekar Harum pertama yang ada di rak buku utama.

Entah menurut Anda!

Category Entertainment

112 people have read
avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar


4 comments

icon_comment Read all comments icon_add Add Comment

#1 avatar
lam_khie 8 December 2008 at 6:42am  

d'tunggu coy! :)

#2 avatar
fajarheriwibowo 9 December 2008 at 11:42am  

ditunggu ditunggu ditunggu

#3 avatar
suryakage 10 December 2008 at 11:42am  

Keren! GL rocks!!

#4 avatar
flawed 22 August 2009 at 12:46am  

Yup.. ceritanya gak semenarik cerita maling sakti yang pertama.. kedua and ketiga...

gak jelas and gak ada ujungnya yang pasti...

Capek Capek Capek Ah...

Bete Bete Bete Ah....

Lama-lama aku bisa jadi GILA>>>>>>