PRABU SILIWANGI: Bara di Balik Terkoyaknya Raja DigdayaMENDAKI KAKI SENDIRI

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis 15 jam lalu

MENDAKI KAKI SENDIRI

Dalam semedinya Sri Maharaja Prabu Siliwangi, tak berhasil menemukan sinar terang. Berkali-kali memusatkan segenap rasa dan pikirannya pada Hyang Jaga Nata, berharap diberi petunjuk tentang apa yang bakal terjadi. Gelap. Terawangannya terlihat masih tetap gelap. Ia tidak tahu apa yang bakal terjadi.

Seperti ketidaktahuannya tentang Ratu Subanglarang yang bertemu


PRABU SILIWANGI: Bara di Balik Terkoyaknya Raja DigdayaKE HILIR MENCARI HULU

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis kemarin jam 12:20pm

KE HILIR MENCARI HULU

Langit Pajajaran makin mendung. Tapi tak ada yang berhasil meramal atau sekadar mengira-ngira. Sri Maharaja Prabu Siliwangi sendiri tak banyak bicara, tidak juga dengan para penasihat kerajaan. Hal inilah yang membuat mereka saling bertanya. Sepanjang hari Sri Maharaja Prabu Siliwangi mengisi waktunya dengan semedi. Mendekatkan diri pada


PRABU SILIWANGI: Bara di Balik Terkoyaknya Raja DigdayaMENDUNG DI PAJAJARAN

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis Rabu jam 1:42pm

MENDUNG DI PAJAJARAN

Purbatisi purbajati
Mana mo kadatangan ku musuh
Ganal musuh alit
Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa
Tan kreta ja lakibi dina urang reya
Ja loba di sanghiyang siksa

***

Prabu Jayadewata menegang. Kegundahan menyergapnya. Memuncak. Sesekali diliriknya Prabu Anom Walangsungsang, darah dagingnya sendiri, calon putra mahkota yang telah dipersiapkan sejak jabang


PRABU SILIWANGI: Bara di Balik Terkoyaknya Raja DigdayaBEBER LAYAR

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis Selasa jam 4:57pm

BEBER LAYAR

Nurut galuring karuhun.
Mapay tata para bujangga

Menelisik hilir Kerajaan Pajajaran terutama saat mencapai zaman keemasan dibawah kepemimpinan Sri Maharaja Prabu Siliwangi, perlu mengetahui aliran dari hulunya. Dengan demikian kita yang di hilir, bisa menerima aliran air kehidupan dari hulu dengan dada penuh kebanggaan. Sikap yang akan menumbuhkan semangat untuk


PRABU SILIWANGI: Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya

Bacaan oleh Tjareuh_Boelan ditulis Selasa jam 4:11pm

Setitik cahaya membentuk bayangan

Gelap di sisi dalamnya

Tak sempurna adanya

Tapi bukankah gelap itulah yang mengakui keberadaan cahaya

______

Daftar Isi:
Beber Layar
1. Mendung di Pajajaran
2. Ke Hilir Mencari Hulu
3. Mendaki Kaki Sendiri
4. Sudut Mata Ki Nalaraya
5. Eyang Danuwarsih
6. Pesona Nini Indangayu
7. Tangkuban Parahu
8. Cincin Ampai
9. Basilat
10. Palintang
11. Gunung Cangak
12. Halimun Mengambang


Satria WilwatiktaEpisode 20 (Sumpah Sang Amangku Bumi 2)

Bab oleh amur ditulis Selasa jam 1:01pm

Semilir angin lembut membelai dedaunan, goyangan pucuk pohon seperti menari mengikuti iringan dan lambaian sang angin. Deritan pohon yang berselisih memberikan bunyi yang khas.
Teriknya matahari terihat meredup seiring semakin menurunnya sang penguasa siang. Riak sungai kecil terdengar mencari celah diantara bebatuan. Di pinggirnya nampak pohon-pohon raksasa menjuntai, akarnya bahkan


Menertawakan Dunia Persilatan(124) Antara Hidup dan Mati

Bab oleh antapurwa ditulis Selasa jam 10:34am

Kembali terdengar Zuo Lengchan berseru, “Bola mata kalian dibutakan oleh siapa, apa kalian sudah lupa?”

Serentak belasan orang buta itu menjadi murka. Mereka meraung-raung kemudian melompat ke atas sambil mengayunkan pedang serta menusuk secara serabutan.

Linghu Chong dan Ren Yingying diam saja. Serangan belasan orang buta itu sia-sia dan tidak mengenai sasaran.


Menertawakan Dunia Persilatan(123) Malapetaka di Gua Maut

Bab oleh antapurwa ditulis Selasa jam 10:13am

Jarak antara tempat Linghu Chong berdiri dengan dinding gua sebenarnya hanya belasan meter saja. Akan tetapi, karena terhalang oleh hujan sambaran senjata yang bertubi-tubi, terpaksa ia harus berhati-hati kalau tidak mau lekas-lekas kehilangan nyawa. “Jika aku mati terkena pedang seorang tokoh persilatan papan atas rasanya masih berharga,” pikirnya kemudian. “Tapi


Pendekar Sejati38.152. Serang Orang Jahat Dengan Cara Jahat

Bab oleh alysa ditulis Sabtu jam 11:36pm

38.152. Serang Orang Jahat Dengan Cara Jahat

“Aha, kiranya kau sendiri juga mengincar kitab pusaka keluarga Siang!” jengek Sebun Bok-ya.

“Terserah apa kesimpulanmu, yang jelas aku cuma menegakkan keadilan!” ujar Le Kim-liong.

Meski Sebun Bok-ya merasa jeri terhadap Le Kim-liong, tapi suruh menyerah begitu saja betapa pun ia tidak rela. Karena itu ia


Pendekar Sejati38.151. Biarpun Mati Pantang Bertekuk Lutut

Bab oleh alysa ditulis Sabtu jam 11:35pm

38.151. Biarpun Mati Pantang Bertekuk Lutut

Selain itu Kong-sun Bok mendapat tahu bahwa Oh-hong-tocu datang ke Uh-seng juga bertujuan hendak menaklukkan kawanan bajak Hong-ho sebagaimana tugas yang diembannya. Jadi dirinya harus berusaha agar musuh gagal mencapai tujuan.

Setelah ambil keputusan itu, Kong-sun Bok sengaja memberi kesempatan agar musuh dapat menyusulnya.

Sebaliknya Umong juga


Resensi

Bacaan

Cerita Pendek

Statistik