SUMPAH BERDARAHBab Tujuhbelas

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis sejam lalu

TUJUH BELAS

SUKRI melihat berkeliling. Ketakutan.

Bayangan-bayangan apa itu yang membungkuk-bungkuk mendekat. Mengintip dari balik kegelapan malam?

Oh... oh... hanya bongkah-bongkah batu dan gundukan semak belukar. Tetapi yang berdiri diam, dengan kaki-kakinya yang besar-besar dan tinggi? Ah, batang-batang pepohonan raksasa, kiranya. Lalu suara bisikan-bislkan lirih mencekam itu....

Ada suara terkekeh-kekeh. Seperti orang merasa geli.

Sukri


SUMPAH BERDARAHBab Enambelas

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis 14 jam lalu

[b[ENAGMGBELAS

SUNGGUH suatu pengalaman menakjubkan. Andaikata hanya mendengar dari mulut orang lain, pastilah Zuraida menuduhnya seorang gombal, pembual besar. Atau penggemar karatan buku komik picisan. Lain halnya jika sudah dialami sendiri.

Tadi semasih di rumah, semangat Zuraida meluap-luap. la akan pergi menolong suaminya dari ancaman bahaya! Tetapi begitu ke luar rumah, dan


SUMPAH BERDARAHBab Limabelas

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis 16 jam lalu

LIMA BELAS

SUKRI terhenyak duduk di tepi jalan setapak. Nafasnya tersengal-sengal kelelahan. Hati-hati sekali, kardus pembungkus kepala Suparta ia letakkan di sebelah ia duduk. Sejak berangkat dari rumah, Suparta tak sekali pun menunjukkan pertanda ia masih ada di dalam kardus. Dan masih hidup, tentu. Yang ada cuma bobotnya yang semakin memberat


SUMPAH BERDARAHBab Empatbelas

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis kemarin jam 2:31pm

EMPAT BELAS

BAJURI juga menunggu cukup lama. Namun baik putri, maupun menantunya, tak iuga pulang-pulang ke rumah. ltu menggelisahkan. Apalagi anak dan menantunya akhir-akhir ini terlihat perang dingin. Tadi malam, Asgar tidur di luar rumah. Dan pagi ini, menurut pelayan, Sukaesih tampak sangat berang dan menyetir sendiri mobilnya ke pabrik, untuk


SUMPAH BERDARAHBab Tigabelas

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis kemarin jam 12:12am

TIGA BELAS

UPACARA pemakaman jauh dari suasana berkabung. Tidak sebagaimana lazimnya, yang terasa justru suasana gelisah yang kemudian berkembang memanas. Keadaan ini sudah mulai terasa semenjak jenazah akan diberangkatkan dari rumah. Di sana-sini orang pada berbisik resah setelah Juragan Bajuri mengajukan diri sebagai salah seorang pembicara pada akhir pemakaman. Lumrah, mengingat


SUMPAH BERDARAHBab Duabelas

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis Senin jam 1:52pm

DUA BELAS

BAJURI duduk gelisah di atas mobil landrovernya.

la sedang dilanda perasaan gundah, ketika terasa suatu denyut aneh dan menyakitkan di ubun-ubunnya. Hanya sebentar dan ia tidak terlalu menanggapi. Pikiran Bajuri lebih tercurah pada kematian berturut-turut dua orang sahabat lamanya: Jukardi, dan tadi malam Sobara.

Bajuri menunggu sampai dua orang centeng-centengnya mendekati


SUMPAH BERDARAHBab Sebelas

Bab oleh Tjareuh_Boelan ditulis Senin jam 12:03pm

SEBELAS

IJANG terpesona menyaksikan apa yang tampak didepan mata. Halaman rumah yang berantakan, dan bekas lubang galian yang telah berubah menjadi semacam tempat kerbau berkubang. Tak tampak lagi rerumputan yang subur dengan taman bunga mini yang menyedapkan pandang itu. Apa yang tersisa hanyalah sampah. Potongan cabang atau ranting patah pepohonan di


Pendekar Penyebar Maut (Lanjutan Darah Pendekar)44b (T.A.M.A.T)

Bab oleh Roony ditulis Senin jam 11:40am

"Heh, celaka! Ada suara wanita di sini ! Aku harus cepat- cepat pergi......!" mendadak seperti orang kebakaran jenggot kakek bertubuh pendek itu menjerit, lalu bergegas mengambil daun teratainya dan....... ambles ke dalam air! Dan yang tampak kemudian hanyalah daun itu saja yang hanyut menjauhi perahu Chin Yang Kun. "Ah, makanya


Pendekar Penyebar Maut (Lanjutan Darah Pendekar)44a

Bab oleh Roony ditulis Senin jam 11:40am

Jilid 44 DAN pertempuran itu menjadi semakin kejam dan ganas tatkala orang-orang seperti Siang-hou Nio-nio, Siangkoan Ciangkun dan para pengawal mereka ikut pula terjun dalam kancah perebutan harta karun tersebut. Korbanpun segera berjatuhan. Darah segera mengalir membasahi lantai pendapa yang licin itu. Keh-sim Siau-hiap sudah tidak bisa mencegah orang-orang itu


Pendekar Penyebar Maut (Lanjutan Darah Pendekar)43b

Bab oleh Roony ditulis Senin jam 10:51am

Tampaknya Hek-eng-cu juga dapat membaca pikiran Chin Yang Kun. Tetapi karena sudah tidak punya banyak waktu lagi, maka iblis yang pada saat-saat terakhirnya telah menyadari kesalahannya kembali itu tidak bertanya lebih lanjut. Sebaliknya iblis itu malah meneruskan kata-katanya. “Yang Kun, anakku.....! Ketahuilah! Sebelumnya sudah kauketahui pula, bahwa sifat dan watak


Ulasan

Bacaan

Cerita Pendek

Statistik