Home → Bacaan → KOLEKSI CERPEN DINASTI MING
Dari perjalanan panjang sejarah Tiongkok, di setiap era selalu muncul Zhe-xue-jia (filsuf), Yi-shu-jia (seniman), ataupun Xue-jia (sastrawan) yang umumnya menyuarakan hati rakyat jelata dalam mereaksi situasi dan kondisi jaman di mana mereka hidup. Di jaman dinasti T’ang misalnya, muncul Tu Fu, Li Po, dan penyair-penyair besar lainnya. Dinasti Ming adalah dinasti akhir dari bangsa Han yang memerintah di atas tanah dan rakyat Tiongkok sendiri, sebelumnya Tionggoan sudah jatuh ke dalam tangan penjajah Mongol, yang mendirikan dinasti Yuan, dan setelah itu the Dragon Throne (Tiongkok) jatuh ke dalam pelukan bangsa Manchu di tahun 1644. Tidak dapat diragukan lagi, selama beberapa abad dinasti Ming memerintah, Tionggoan tidak pernah mengalami masa keemasan, tetapi justru terpuruk dalam politik kotor yang bergelimang darah rakyat karena ambisi politik kotor dari para Tai-jian (thaikam). Dalam kemelut politik dan sosial inilah banyak bermunculan cerita-cerita rakyat yang ditulis oleh para pujangga dengan tujuan-tujuan tertentu.
Sebuah sekolah seni yang terletak di Lian-An, membuat karya besar yang menceritakan kisah-kisah percintaan di jaman itu. The Lady Who was a Beggar adalah kisah cinta dari Lin-An juga. Roman ini mengisahkan Mo-Chi yang berjuang untuk mewujudkan impiannya.
Diceritakan kembali oleh Pahlawan dalam bahasa Indonesia dengan gaya prosa bertutur Bebas. Sumber asli:
Cyril Birch, Stories From A Ming Collection. Translations of Chinese Short Stories Published in the Seventeenth Century. Bloomington: Indiana University Press, 1958.
Dan lain-lain sumber.
Pengarang | Pahlawan |
---|---|
Tamat | Tidak |
HitCount | 1.724 |
Nilai total | ![]() |
1 | ![]() |
THE LADY WHO WAS A BEGGAR
Pahlawan 28 Januari 2008 jam 1:04pm |
Baca semua komentar (6)
Tulis Komentar
#2 | ![]() |
lam_khie
29 Januari 2008 jam 8:13am
 
pelajaran yang sangat menarik. mohon diteruskan |
#3 | ![]() |
tembuyun
29 Januari 2008 jam 1:14pm
 
Memang dalam masa pemerintahan dinasti Ming sulit sekali mencapai puncak kejayaan. Kebanyakan memang diisi oleh perang dan tunduknya kaisar pada kekuasaan kasim2 istana. Tapi dinasti Ming pernah mencapai masa tenang dan makmur secara ekonomi koq, pada masa kaisar Xuande, walaupun pendek (cuma 10 tahun). |
#4 | ![]() |
asepso
21 November 2008 jam 8:45pm
 
Saya tertarik dengan perkembangan sastra Tiongkok zaman dinasti Ming. Mohon infonya lebih banyak. Terima kasih. Terjemahan ini bagus untuk dilanjutkan. |
#5 | ![]() |
Masfir
30 Januari 2010 jam 6:25pm
 
sangat menarik, sayang... |
#6 | ![]() |
Jokowidjaya
5 Juni 2017 jam 5:46am
 
Sambung dl lanjutan Sepasang bayangan dewa sampai tamat suhu.bikin gro gi yg menbaca.pdhl LG seru2nya sepasang bayangan dewa. |