Home → Literatures → Gelegak Sinar di tanah Pasundan
Di sepanjang jalan berliku di hutan sepi itu terdapat sungai yang mendampingi jalan tersebut. Air nya mengalir elok tertimpa gugusan sinar matahari pagi, kabut masih mengalun tipis diatas permukaan sungai tersebut. Sungguh keindahan yang tercengkram oleh dinginnya pagi. Aliran sungai itu begitu serasi dengan semilir angin pagi yang jarang berhembus, semuanya serba serasi bunyi riak sungai yang berirama teratur menambah kompleksnya pemikiran seorang remaja kecil yang duduk semedi terpekur. Remaja itu berusia sangat belia sekitar 14 tahun saja. Rambutnya tidak panjang dan tidak pendek, dibiarkan saja tergerai jatuh sebatas leher bahu. Kulitnya putih laki-laki (tidak terlalu putih juga tidak sawon matang), dadanya bidang, lengannya kokoh terurai otot kelaki-lakiannya. Dia mengenakan celana kolor hitam dan bertelanjang dada saja, namanya Raden Purbaya yah...Raden Purbaya Rakeswara Wardana. Nama itu saja yang dia ingat, dia hanya ingat sebuah nama yang disemantkan oleh ibu dan bapaknya yang telah meninggal sekitar 6 tahun yang lalu pada saat dia masih berusia 8 tahun. Namanya saja sudah cukup membingungkan dia mengapa dia bernama “Raden Purbaya”, apakah dia seorang keturanan raja, atau apa ? dia sendiri tidak pernah tahu.
“Hemm...mungkin tidak tenaga dalam itu mengalir bebas mengikuti wadahnya yang berkesudahan dan bermuaran di laut lepas?”, pikirnya. Tidak habis pikir Raden Purbaya memahami alam. Air keluar dari sumber mata air, kemudian mengalir terus mengikuti kelokan jalan sungai hingga menuju laut, seharusnya tenaga dalam seperti itulah tidak berhenti jika tidak digunakan, mengalir jika digunakan, seharusnya tenaga dalam mengalir terus tanpa henti mengikuti bentuk wadag kita. Ahhh...mengapa bertentangan sekali dengan teori ilmu dalam yang pernah aku dapatkan dari ayah dan ibu, bahwa tenaga dalam itu dapat digunakan semau kita, mau diam berarti diam, mau bergerak berarti bergerak, seharusnya tenaga dalam itu tetap “mengalir mengikut wadag kita” dan kembali pada muaranya....
Lalu tanpa sadar Raden Purbaya mulai memejamkan mata, berusaha menyatu dengan air sungai, segala daya dan upaya dia camkan dalam pikiran, dia rasakan aliran darahnya, dia rasakan aliran semangatnya, dia coba mencari bentuk “kelokan sungai” yang ada dalam tubuhnya, sekonyong-konyong seberkas urat disekitar pusarnya menegang dan membuncahkan sebuah arus panas yang langsung menerobos kearah jantung, mengalir terus ke paru-paru, ke tulang belikat kemudian berhenti di kedua tangan, “ohh...nyaman sekali perasaan ini, aku seperti mendapat tenaga baru, tapi...kenapa berhenti hingga tangan saja, seharusnya berlanjut ke arah kepala kemudian langsung menuju tulang belakang, dan ginjal, hingga menuju ke arah kaki”...aku seperti mendapatkan jalan berujung “ketidakjelasan” hemmm..., gumannya. Sementara itu tanpa sadar, disekitar tangan, dada, hingga pusar Raden Purbaya secara tipis dan bersih terdapat sebentuk kabut tipis kuning keemasan mengitarinya. Bahkan tanpa sadar tangan Raden Purbaya sudah membentuk sebuah gerakan, tangan kiri membentuk tekanan ke arah pusar, tangan kanan menuju lurus kedepan dengan seberkas kabut putih terlontar keluar secara pelan dan pasti, dari tepi sungai Raden Purbaya duduk, hingga ke ujung sebarang sungai tiba-tiba saja sudah terbentuk sebuah keanehan, “Jalan ES” yang dibawahnya menggelegak air PANAS, namun ES dan PANAS itu tidak saling mencairkan atau membekukan...semuanya seperti normal saja, semuanya seperti seimbang dan memang apa adanya...seperti terjadi kehendak alam saja. Memang sungguh luar biasa tenaga dalam Raden Purbaya, dalam dingin ada Panas dalam panas ada Dingin, semuanya sama saja, Itulah Prinsip Ilmu Dalam yang diyakininya selama ini.
| Author | akbar yudha putera |
|---|---|
| Finished | Yes |
| Total rating |
| 1 |
Bab I. Pemahaman Mendalam
akbar_y_putera 30 September 2009 at 4:29pm |
|
| 2 |
Bab II. Pencapaian pemahaman
akbar_y_putera 20 May 2010 at 12:00pm |
|
| 3 |
Bab III. Gejolak perasaan
akbar_y_putera 19 July 2010 at 11:21am |
|
| 4 |
Bab IV. Gading Sangkala
akbar_y_putera 29 June 2011 at 8:46pm |
| #11 |
katnou
9 March 2011 at 9:19am
 
ceritanya keren nih, mengingatkan pada sandiwara radio, mohon dilanjutkan suhu |
|
| #12 |
akbar_y_putera
9 April 2011 at 5:00pm
 
terima kasih terima kasih, pasti saya lanjutkan tapi, masih sibuk dengan pekerjaan, saya akan mencoba disiplin untuk memberikan waktu minim 2 jam untuk melanjutkan cerita ini. |
|
| #13 |
nightelf
17 November 2011 at 5:43pm
 
matap nih!! hayooo teruskan mas |
|
| #14 |
stenlyjuventus
18 January at 2:37pm
 
Mana dong lanjutannya........ |
|
| #15 |
garak
20 March at 5:02pm
 
ditunggu truzzz suhu lanjutttt... |