The Deer and The CauldronChapter 2- The best friendship forged in a most peculiar circumstance.

Chapter by mardi posted 4 hours ago

Chapter 2 - The best friendship forged in a most peculiar circumstance.
(Translated by Foxs)

Since the ancient times Yangzhou has always been known as a flourishing city with famous scenic spots. Tang dynasty's poet Du Mu wrote, "I awake, after dreaming ten years in Yangzhou, Known as fickle, even in the


The Deer and The Cauldron

Literature by mardi posted 4 hours ago

aka Pangeran Manjangan
TrAnslAtor: Foxs on spctv.net


ILMU PEDANG PENGEJAR ROHBagian-15

Chapter by lavender posted 5 hours ago

ILMU PEDANG PENGEJAR ROH
Karya: Mong Long
Sumber: lavilla
Ebook: Dewi KZ

Bagian-15

Ruangan pertama tampak terang dan tinggi, catnya sangat indah. Di ruangan itu berdiri empat orang laki-laki, semuanya berbadan tegap dan sehat.

Di tengah ruangan itu terdapat sebuah huruf Wu (silat) yang ditulis dengan ukuran besar dan tergantung disana.

Huruf itu ditulis dengan sangat


“PEDANG KUNANG-KUNANG”BAB 17 - Bagian 17.2

Chapter by kupay posted 15 hours ago

Disajikan Oleh : T.A.H.
Sumber : Buku Cersil
“PEDANG KUNANG-KUNANG”
Karya : S.D. LIONG
JILID 08
BAB 17 :TOPENG BESI
BAGIAN : BAB-17.

HUTAN kembali sunyi senyap seperti semula. Tetapi kesunyian itu hanya sementara waktu saja. Karena tak berapa lama, tiba-tiba sesosok tubuh yang aneh menyerupai setan muncul ditempat itu. Ternyata yang datang itu adalah Gak


~Seruling Gading Harimau Putih~Membobol Barisan Penghadang

Chapter by chucky posted 18 hours ago

Memang benar bayangan putih yang melesat itu adalah Prahara yang diikuti oleh Si Putih bersama Tetua Jangkung Berbudi, Tetua Mulut Bisu, Tetua Bintang Perak dan Tetua Perguruan Langit Biru.
Sebelumnya, Prahara bersama 4 tetua, 9 pendekar muda dan 3 barisan perguruan membuat Formasi Satu Arah Penjuru untuk menghadang kelompok Utusan Api


TaikoBuku 08-Bab 05 : Bertemu Keluarga

Chapter by dino posted 19 hours ago

Eiji Yoshikawa

Taiko

Buku 08-Bab 05 : Bertemu Keluarga

Perintah-perintah itu sangat jelas, dan Nobutaka hanya mendengarkan semuanya, tanpa berkata apa-apa. Namun di mata para jendral, sikap Hideyoshi sungguh lancang. Meski demikian, Sebei pun, yang semula menyuarakan ketidak-senangannya secara terang-terangan, kini diam saja dan menerima perintah yang diberikan padanya seperti yang lain. Akhirnya

Chapter 95 of 95 from Taiko

TaikoBuku 08-Bab 04 : Dua Gerbang

Chapter by dino posted 19 hours ago

Eiji Yoshikawa

Taiko

Buku 08-Bab 04 : Dua Gerbang

ANGIN sunyi berembus di antara pohon-pohon pinus yang tumbuh di sekitar perkemahan Mitsuhide di Onbozuka. Tirai markasnya yang mengembang tampak bagaikan makhluk raksasa berwarna putih. Tak henti-hentinya tirai itu mengepak-ngepak tertiup angin, melantunkan nyanyian kematian yang menyeramkan.

"Yoji! Yoji!" Mitsuhide memanggil.

"Ya, tuanku!"

Chapter 94 of 95 from Taiko

TaikoBuku 08-Bab 03 : Kecepatan Tak Terduga

Chapter by dino posted 22 hours ago

Eiji Yoshikawa

Taiko

Buku 08-Bab 03 : Kecepatan Tak Terduga

Pada malam hari kesembilan, Mitsuhide masih belum mempunyai bayangan di mana Hideyoshi berada, tapi sikap para pembesar setempat menimbulkan rasa gelisah dalam dirinya. Keesokan paginya ia meninggalkan perkemahan di Shimo Toba dan mendaki ke Terusan Horagamine di Yamashiro, tempat ia telah mengatur pertemuan

Chapter 93 of 95 from Taiko

TaikoBuku 08-Bab 02 : Upacara Berdarah

Chapter by dino posted 22 hours ago

Eiji Yoshikawa

Taiko

Buku 08-Bab 02 : Upacara Berdarah
PASUKAN Oda harus segera mundur—itulah alasan di balik perjanjian perdamaian, dan malam itu juga sekutu Hideyoshi, orang-orang Ukita, mulai menarik pasukan. Tapi tak satu prajurit pun ditarik dari perkemahan utama Hideyoshi. Pada pagi hari kelima, Hideyoshi belum juga bergerak. Walaupun pikirannya sudah

Chapter 92 of 95 from Taiko

“PEDANG KUNANG-KUNANG”BAB 17 - Bagian 17.1

Chapter by kupay posted 22 hours ago

Disajikan Oleh : T.A.H.
Sumber : Buku Cersil
“PEDANG KUNANG-KUNANG”
Karya : S.D. LIONG
JILID 08
BAB 17 :TOPENG BESI
BAGIAN : BAB-17.1

DALAM renungannya, dalam Gak Lui melalu-lalang peristiwa yang telah terjadi. Musuh menari-nari dan tertawa-tawa seperti setan bergembira ria di bawah hujan darah. Sedang orang tuanya dan beberapa tokoh persilstan yang tak berdosa, susul


Articles

Reviews

Literatures

Catalog

Statistics