Home → Cerita Pendek → DEWA KIPAS vs PUTRI IRENE (Bagian Dua)
"Aku keberatan, tetapi aku menghormati keputusan yang telah diambil. Sayembara ini belum selesai dan memasuki tahap kedua. Karena Dewa Kipas yang bisa membawa kepala kambing dan kemenangannya batal maka dialah satu-satunya peserta yang berhak mengikuti sayembara tahap kedua. Aku sendiri yang putuskan jenis sayembara tahap kedua. Dewa Kipas berhak atas tahta kerajaan dan menikahi putriku bila dia bisa mengalahkan putriku dalam adu ketangkasan menggunakan selendang..."
Pangeran Ghotam melongo mendengar perkataan Sang Prabu. Harapannya untuk bersanding dengan Putri Irene hampir tertutup. Peluang dia akan kembali terbuka bila Dewa Kipas kalah melawan Putri Irene.
Di tempatnya Putri Irene terlihat lesu. Kini malah dia yang harus bertarung melawan Dewa Kipas. Ayahandanya memang bijak memilih jenis pertarungan yang sangat dia kuasai. Sejak kecil dia memang telah belajar dan berlatih menggunakan selendang sebagai senjata. Kemampuannya makin terasah setelah Putri Irene berguru pada Nini Kedasih yang memang pakarnya menggunakan selendang. Walau hati kecilnya kecewa dan tidak setuju pada kehendak ayahandanya namun Putri Irene tidak kuasa menolaknya. Satu-satunya jalan memutus mata rantai masalah yang timbul karena Dewa Kipas dia harus bisa mengalahkannya. Bila dia berhasil, masalah selesai dan dia bisa kembali menjalin kasih dengan Pangeran Ghotam, pujaan hatinya. Berpikir begitu Putri Irene membulatkan tekad untuk mengalahkan Dewa Kipas.
Dua bulan sebelum Dewa Kipas mengikuti sayembara...
"Sang Putri menempa keahliannya secara manual. Berguru pada ahlinya. Rajin belajar dan berlatih. Sering latih tarung dengan para seniornya. Menyempurnakan teknik dengan terus belajar dan berlatih. Singkatnya untuk meraih gelar terbaik dia harus berdarah-darah, sakit dan jatuh bangun untuk waktu yang lama. Belum lagi dia harus berkorban waktu, tenaga dan pikiran. Juga mengorbankan masa indahnya sebagai remaja. Disaat teman sebayanya bersenang-senang dia malah sibuk berlatih. Itu dijalaninya bertahun-tahun sampai dia dewasa. Jadi sangat wajar dia sakit hati, kecewa dan frustasi karena kamu kalahkan. Dia yang harus merasakan sakit dan pahitnya berlatih bertahun-tahun harus kalah oleh orang yang tidak dikenal sebelumnya dan yang menusuk hatinya kamu baru saja belajar menggunakan selendang. Jadi itu sangat wajar dan manusiawi...."
"Bagaimana kamu yakin aku akan menang? Aku belum pernah menggunakan selendang sebagai senjata sebelumnya," kata Dewa Kipas pesimis.
"Asal kamu mau belajar dan berlatih kamu pasti bisa. Setiap ilmu bisa dipelajari dan dipraktikan. Begitu pula menggunakan selendang sebagai senjata..."
"Tapi aku kalah jam terbang. Apa mungkin belajar dan berlatih dua bulan bisa mengalahkan orang yang telah belajar dua puluh tahun?" Dewa Kipas tetap pesimis.
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Semua serba mungkin. Walau peluangnya kecil tetapi kemungkinan itu tetap ada. Kembali ke kamu dan usahamu. Ingat, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Bila usahamu biasa-biasa saja, maka hasilnyapun biasa dan berakhir kecewa. Tetapi bila kamu menaikan level usahamu ke level atau batas tertinggi atau maksimal maka kamu akan lihat hasilnya. Sekali lagi, usaha tidak akan mengkhianati hasil...."
Untuk sesaat Dewa Kipas terdiam. Hatinya masih bimbang dan ragu. Semua orang tahu kalau Putri Irene masternya menggunakan selendang. Statistik pertarungannya mengagumkan. Selalu menang di setiap pertandingan. Latihan keras dan kerja cerdasnya berbuah gemilang. Dia meraih gelar super master dibidang menggunakan selendang. Kini dirinya harus berhadapan dengan Sang Putri. Sungguh bagai pipit melawan merak. Levelnya berbeda jauh.
"Kemajuan teknologi bisa membantumu. Aku yakin bila kamu sungguh-sungguh dua bulan latihan nilainya setara dengan 20 tahun yang dihabiskan Sang Putri untuk menempa dirinya..."
"Caranya?" tanya Dewa Kipas mulai tertarik.
"Aku sudah membuat robot dengan kecerdasan buatan dan memprogram level yang saat ini dicapai Sang Putri sebagai teman berlatihmu. Kamu bisa menganalisa setiap pergerakannya di smart phone yang akan aku berikan. Pelajari kemudian ciptakan gerakan untuk menghindar, menahan dan meloloskan diri. Kamu juga bisa berkreasi menciptakan gerakan menyerang dari simulasi komputer yang aku berikan..."
"Kamu yakin itu akan berhasil?" tanya Dewa Kipas masih ragu.
"Semua kembali pada dirimu. Ingat, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Seberapa keras level usahamu, maka itulah yang akan didapat..."
"Dewa Kipas, apakah kamu bersedia bertanding dengan putriku?" tanya Sang Prabu.
"Hamba bersedia, Gusti...." sahut Dewa Kipas tanpa ragu. Dirinya sudah gerah dan ingin cepat-cepat pulang ke kampung halamannya. Kalah tidak jadi soal bagi dirinya karena level keahlian dirinya dengan Putri Irene bagai langit dan bumi. Jadi secara logika awam pantas dia kalah dari Sang Putri. Dewa Kipas juga siap dicemooh para hatersnya karena kemampuan nol berani bertanding dengan master. Pujian dan cacian akan tetap dia terima terlepas dari kalah atau menang. Jadi untuk apa dipikirkan. Keinginan Dewa Kipas saat ini adalah pulang ke kampung halamannya dan menjalani hari-harinya sebagai petani....
.
.
.
Pengarang | Nur S |
---|---|
HitCount | 210 |
Nilai total | ![]() |