DEWA KIPAS vs PUTRI IRENE (Bagian Enam)

HomeCerita PendekDEWA KIPAS vs PUTRI IRENE (Bagian Enam)

Nurslamet
25 Maret 2021 jam 8:10am

"Fokus, bro. Jangan hiraukan suara-suara sumbang. Kalah dan menang hal biasa dalam pertandingan. Tugas kamu adalah berusaha untuk tidak kalah. Minimal kembali seri," suara menggema di dalam diri Dewa Kipas. "Bila kamu sudah berusaha dengan segenap kemampuan untuk tidak kalah tapi masih kalah, itu sudah diluar kemampuanmu. Kalah setelah bertanding lebih terhormat daripada kalah sebelum bertanding..."

"Siap... Bersedia..." wasit memberi aba-aba.

Dewa Kipas menarik nafas panjang dan berusaha konsentrasi. Tekanan dari orang-orang di sekitarnya begitu berat. Dirinya seperti sedang menyelam di kedalaman samudra. Semakin dalam menyelam semakin besar tekanan yang mendera dirinya.

Sebenarnya, secara teori, beban yang mendera Dewa Kipas tidak seberapa bila dibandingkan dengan beban yang dipikul Putri Irene. Mengingat statusnya sebagai grand master profesional Putri Irene harus menang. Bila dirinya kalah melawan Dewa Kipas, apa kata dunia. Publik akan heboh dan terjadi kekacauan tatanan. Institusi tercoreng. Syarat menjadi GM dipertanyakan dan sederet masalah lain yang timbul akibat kekalahannya atas Dewa Kipas. Agar "bom waktu" itu tidak terjadi Putri Irene harus meredamnya. Jalan satu-satunya dirinya harus menang melawan Dewa Kipas. Harus! Itu harga mati yang tidak bisa ditawar bila tidak ingin karirnya tamat.

Di sisi lain pertandingan melawan Putri Irene bagai buah simalakama bagi Dewa Kipas. Kalah atau menang dirinya tetap dihujat. Menang dicurigai curang dengan sederet alasan pembenaran yang memojokannya dan menjadikannya "figur hitam" di mata publik. Kalah apalagi karena kecurigaan dia telah berbuat curang dianggap terbukti.

"Fokus, bro. Fokus!" suara menggelegar di dalam diri Dewa Kipas. "Astaga, aku lupa memberimu kopi tubruk. Ini gawat. Kamu akan susah konsentrasi bila tidak ada atau tidak minum kopi. Shit, sudah terlambat. Pertandingan sudah dimulai. Bertahanlah..."

Performa pertandingan Dewa Kipas di sesi kedua benar-benar hancur. Kehebatannya pada pertandingan pertama yang bisa mengimbangi skill Putri Irene tidak tampil. Di sesi kedua ini Putri Irene menang telak. Dewa Kipas K.O.

"Huuuuu...." cibir penonton.

"Ketahuan aslinya. Dia Dewa Cheat. Dewa Bot..." cibir yang lainnya.

"Yang curang itu kalian. Mengganggu konsentrasinya. Dia mana bisa fokus bertanding kalau kalian recoki," bela yang lain. "Kalian aja kalau bermain di belakang kalian penonton ribut pasti gak fokus. Dewa Kipas aja sama...."

"Gua curiga ini gara-gara gak ada kopi tubruk dia jadi kalah," celetuk penonton lain.

Apapun alasan dan argumen penonton, Dewa Kipas telah kalah telak di sesi kedua. Kini tersisa dua pertandingan lagi.

"Terbukti benar kan dugaanku Dewa Kipas telah curang dipertandingan sebelumnya," kata Nini Kedasih pada Putri Irene. Saat itu mereka sedang jeda dan menunggu pertandingan ketiga.

"Iya, guru. Ananda merasa Dewa Kipas di pertandingan pertama dan kedua berbeda," sahut Putri Irene.

"Itu karena dipertandingan pertama dia pakai cheat atau bot. Sedang dipertandingan kedua itu skill aslinya. Level ananda dengan dia terpaut jauh. Ananda pro. Dia amatir. Ananda GM. Dia pemain pos ronda," cibir Nini Kedasih.

Di tempat lain Dewa Kipas terduduk lesu. Wajahnya muram. Dia sedang Andy Lau (antara dilema dan galau).

"Aku tak sanggup lagi meneruskan pertandingan. Aku mengaku kalah saja dan mundur dari sayembara," kata Dewa Kipas frustasi.

"Selow, bro. Jalan menuju kesuksesan itu dipenuhi onak dan duri. Mantapkan tekad. Yakinlah di ujung jalan ada keindahan dan penawar sakit yang bisa mengobati luka-lukamu selama proses menuju ke garis finish. Jangan berhenti di tengah jalan. Maju terus walau harus berdarah-darah dan kaki patah. Berhenti di tengah jalan kamu akan semakin sakit dan infeksi. Bila maju terus ada harapan kamu mendapat obat atas semua rasa sakit yang kamu alami..."
.
.
.

Pengarang Nur S
HitCount 96
Nilai total rating_0

Belum ada komentar

icon_add Tulis Komentar