Post-9539

Post 6 dari 30 dalam Gosip Dari Dunia Silat

HomeForumBooksGosip Dari Dunia SilatPost-9539

#6 avatar
Azalae 19 Agustus 2004 jam 8:50pm  

justice_121 menulis:
asik banget ngarang yang kaya gini. pengen nulis apapun bisa, tinggal pake alasan "jangan lupa, dunia aneh ini beda dengan dunia ini"
iya dong. belajar dari jin yong dan kawan2 ;)

----------------

Beberapa hari kemudian sang hwesio sedang berjalan di tengah salju di suatu desa kecil.

Negara luas. Letak desa tersebut dan kota tempat insiden pemenggalan pejabat cukup jauh. Segala perjalanan harus melewati dataran yang susah ditempuh tanpa adanya mobil dan pesawat. Itupun memakan waktu mingguan bahkan bulanan. Namun berita insiden dan usaha pemerintah untuk menangkap si hweesio sudah mencapai telinga penduduk setempat dalam beberapa hari. ;)

Sementara ia berjalan sambil menahan dingin dan rasa lapar di perut, terdengar panggilan. 'Hwesio! Hari ini sangat dingin. Di sini ada arak hangat dan daging lezat!'

Dua orang berbadan tegar berdiri di depan pintu gubuk sederhana.

Namun pedang keluar dan si hwesio melompat dengan gerakan tajam hendak menusuk pemilik suara. Ternyata benar dugaan hwesio, pria ini bukan orang sembarang. Secepat kilat ia menghindar. Sekarang di tangan ada tombak putih indah menawan yang ga pernah diasah tapi tetap tajam.

Tusukan pedang kedua dari hwesio ditahan oleh tombak. Namun setelah beberapa jurus terbukti ilmu hwesio yang lebih tinggi. Dengan sabetan kilat, tombak terpotong. Melihat hal ini pria kedua mengeluarkan tombak dan ikut menyerang. Dua lawan satu.

Setelah beberapa saat muncul kesempatan lagi buat hwesio. Tapi persis sblom hwesio hendak memotong tombak kedua, perutnya protes. Sudah lama ia tidak makan dan musim dingin dengan salju yang lebat memperburuk suasana. Tenaga dalam sih tenaga dalam tapi perut juga perut.

Bertahun2 ia berkelana mengelilingi dunia untuk menghindari segala utang dan omelan di rumah. Melintasi daerah yang penuh muslihat dan kelicikan. Banyak sudah ia mencicipi asam dan garam. Tidak terhitung pula gula, terigu, kopi, susu, telor, ayam, cumi, ikan dan berbagai makanan lain. Singkatnya, dia bisa membaca situasi tidak menguntungkan dan tau cara untuk lolos.

'Kawan! Cukup!' ia melompat beberapa langkah ke belakang dan menunjukkan telapak kiri terbuka di depan tanda berhenti. 'Hwesio tadi salah kira, menyangka kalian bandit yang ingin memancing masuk gubuk setelah menyiapkan perangkap.'

Kedua pria tersebut berhenti menyerang dan saling pandang.

'Kakak, jebakan kita ketauan.' Kata yang muda.

'Pstt adik jangan keras2.' Pria lebih tua memperingatkan. 'Ini hwesio ilmunya tinggi. Kita harus hati2'.

Melihat mereka berhenti menyerang, si hwesio melanjutkan. 'Saya adalah Hwesio Pedang Kilat.'

Dengan berbisik bandit tua berkata ke bandit muda, 'Adik pernah dengar nama dia ga?'

'Ga tau tuh. Sok terkenal aja dia.'

'Hwesio Pedang Kilat nama anda terkenal di mana2. Kami hanyalah keluarga sederhana tapi silahkan mampir dan minum biar badan hangat dulu. Benar2 pedang kilat, gerakan anda hampir tak terlihat.'

Dengan pipi memerah Hwesio Pedang Kilat menjawab, 'Guru memberi saya julukan pedang kilat karena terlalu cepat mengikuti perasaan. Mengeluarkan pedang secepat kilat sblom tau duduk persoalan.'

'Oh ... ehehe begitu ehehe.' Kedua bandit bersaudara mengiyakan saja.

'Tapi setelah beberapa jurus saya langsung mengenali jurus tombak keluarga anda yang termasyur.' Hwesio berusaha mencari jalan keluar. Kaki mulai lemas kurang makanan.

'Wahh terima kasih.' Kini kedua bandit mulai membusungkan dada.

Melihat mereka termakan rayuan, si hwesio melanjutkan 'Ilmu tombak ... er ... Chin memang ter--'

'Yang!' kata bandit tertua.

'Ilmu tombak Yang memang termasyur! Err ... turun temurun dari generasi ke generasi. Dan ... err ... memakai tombak.' Hwesio memasang senyum lebar. (like this :D)

Muka kedua bandit sangat cerah dan hati berbunga. Saking senangnya mereka mengundang makan. Serta merta hwesio menyetujui.

Setelah makan, minum, tepuk2 pundak, cubit2 pipi, memperkenalkan nama, cubit2 pipi lagi, memperkenalkan istri, hwesio ngelirik istri, hwesio ngeliat wajah istri sampe lama, bandit cubit pipi hwesio lagi, hwesio ga ngeliat istri lagi, minum lagi, ... dan diakhiri dengan ketawa sekarang hwesio sudah kenyang dan mereka sudah saling kenal.

Setelah kenyang Hwesio Pedang Kilat berpamitan (Sblom ditagih bayar makan minum, enak aja masa minta gratisan) tapi berusaha ditahan oleh kedua bersaudara (pengen minta bayaran secara halus).

'Kawan, pemerintah telah memasang pengumuman untuk menangkap saya. Saya tidak ingin membahayakan kalian dan keluarga.'

'Hwesio, kita sudah makan dan minum bersama. Kita sudah saling mengenal masa.' Kata bandit tertua yang ternyata bernama Yang Kang Kung. 'Makanan dan minuman dari kami.'

Hwesio Pedang Kilat pura2 ga ngerti. 'Lihat ini saya bawa2 kepala pejabat. Keberadaan saya di sini tidak aman bagi kalian. Biarpun ilmu saya tinggi. Tinggi sekali! Biarpun ilmu saya lebih tinggi dari kalian, tetap akan berbahaya.'

Bandit muda, yang bernama Guo Kwee Jing, berdiri menutupi pintu keluar. 'Kami bersaudara tidak takut segala bahaya. Apalagi demi orang yang sudah makan minum dari kami.'

Hwesio mengeluarkan jurus lain. 'Saya punya dua pisau bagus. Bagaimana kalo saya hadiahkan buat kalian. Bisa buat potong jeruk. Ato kasih ke anak kalian. Cocok buat mas kawin.'

Setelah mengeluarkan dua pisau tua berkarat, Hwesio Pedang Kilat menulis dua nama bandit di pisau. Berhubung ini pisau kualitas jelek, gagang pisau terbuat dari kayu lapuk. Jadi mudah sekali seseorang menggores untuk menulis. Di pisau pertama tertulis 'Yang Kang Kung', pisau kedua tertulis 'Guo Kwee Jing.' Pada tiap bandit diberikan pisau masing2.

Kedua bandit melihat kedua pisau dengan rasa tidak senang. Kondisi pisau dan gagangnya benar2 buruk. Baru dipegang sebentar, beberapa tempat putus dan kulit gagang kayu mengelupas. Sekarang terbaca 'Yang Kang ...' dan 'Guo ... Jing'.

Melihat ini kedua bandit langsung marah dan mengambil tombak baru.

Tiba2 terdengar teriakan dari luar. 'Hwesio Pedang Kilat! Keluar dan menyerah! Tempat ini sudah terkepung!'