Home → Forum → Komentar Review → TERBIT!!! NAGA BHUMI MATARAM II: LUDIRA JATININGRAT
Komentar untuk TERBIT!!! NAGA BHUMI MATARAM II: LUDIRA JATININGRAT
#1 | ![]() |
danielson
8 Februari 2017 jam 9:31pm
 
Tolong di cuplik 1 atau 2 halaman yang seru untuk promosi |
#2 | ![]() |
onomarp
8 Februari 2017 jam 9:48pm
 
Cuplikan halaman 375 - 381 Antara Praja Mataram dengan Poh Pitu membentang jarak kurang lebih dua puluh lima pal. Lima belas pal lebih pendek dibandingkan jarak antara Poh Pitu dan Mamrati. Rombongan Wwatan terus bergerak dan berlalu lima belas pal meninggalkan Praja Mataram. Mereka memasuki jalur jalan penuh semak perdu dan berbatu di masing-masing tepinya. “Haa... Haa... Haa...†Tawa parau dan hambar menggema. Senopati Utama Rudira melepaskan isyarat kepada rombongan untuk berhenti, saling merapatkan diri dan bersiap siaga. Seperti tiga orang yang bersamanya, ia mengamati keadaan sekeliling penuh waspada dan seksama. Mereka memastikan asal tawa bersumber. “Perhatikan semak perdu sebelah kanan, sepuluh tumbak jauhnya.†“Aku pun mengira suara bersumber dari sana.†“Tunggu ia menampakkan dirinya.†Senopati Utama Wwatan dan Tetua Perguruan Banteng Perak telah memastikan dari mana tawa parau hambar berasal. Dua ekor burung terbang ke luar dari rumpun perdu tidak jauh dari tempat sumber tawa diduga bersembunyi. “Haa... Haa... Haa...†Dua bayangan. putih dan merah, melesat. Alih-alih menghalau atau menangkis anak panah, sumber tawa keluar dari semak untuk menghindar. Beriringan mereka melangkah dan berhenti menghadang sejauh lima tumbak di depan rombongan Wwatan. Mereka dua sosok berselubung kain putih dan merah. Topeng pahatan kayu yang dibentuk serupa menutup rapat di wajah masing-masing. Senopati Utama Rudira tidak lagi memerintah prajurit melepaskan anak panah. Ia tahu anak panah prajurit tidak berarti sama sekali bagi dua orang yang telah menyatakan diri. “Berhati-hatilah. Mereka mungkin orang yang telah menurunkan petaka pada Carangsoka dan Bhumi Bantan.†Kembali Senopati Utama Rudira mengatakan peringatan. Mengambil kendali pimpinan prajurit Tembelang di baris belakang, Ki Gilingwesi pun telah memerintah kesiagaan. “Mereka telah muncul.†Dari tempatnya berada, Dyah Agni melihat dua sosok penghadang. “Paman, aku mengkhawatirkan mereka.†Turun dari kuda, Arga melangkah ke sisi Dyah Agni bersama Pangeran Janaloka dan Maheswari. “Sekuat tenaga aku akan mencegah agar tidak ada lagi jatuhnya korban.†Arga meminta izin bertindak. “Ehm.†Dyah Agni tidak keberatan Arga bertindak. “Kakang, bagaimana dengan lukamu?†“Bibi, keadaanku sepenuhnya telah pulih.†Arga menatap Maheswari. “Tidak perlu mengkhawatirkannya Mbokayu Maheswari. Kakang Arga sudah tidak lagi terganggu oleh kekuatan Ratapan Kemurkaan Siwa.†Kanistha menguatkan keterangan Arga. “Paman, aku pergi.†Prajurit Wwatan dan murid perguruan Banteng Perak sudah turun dari kuda masing-masing, ketika Arga melangkah ke depan. Menyingkirkan kuda berkumpul dekat gerobak kurungan tawanan, mereka berbaris rapat memenuhi lebar jalan. Arga menghentikan langkah di antara murid Perguruan Banteng Perak dan mencermati perkembangan yang berlangsung. “Tidak seharusnya Ki Sanak berdua menghadang jalan rombongan yang aku pimpin. Aku menyayangkan Ki Sanak telah bertindak yang mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri. Ada akibat yang akan diterima atas tindakan Ki Sanak sekalian.†Seperti prajurit Wwatan, Senopati Utama Rudira pun sudah turun dari kuda. Begitu juga dengan tiga orang yang berjalan bersamanya di depan rombongan. “Kami sudah berdiri di sini!†Suara parau dari sosok merah. “Tentang kesulitan dan akibat yang akan kami terima, bukan kalian yang menentukan. Apa yang akan kami terima di luar kekuatan kalian untuk memutuskan.†“Jabrang, cepatlah beri mereka kehormatan merasakan keperkasaan kekuatan Matahari Murni. Sudah sejak fajar menunggu di tempat ini, kesabaranku tidak lagi tersisa.†SRETTT... Senopati Utama Rudira sudah mencabut senjata dari balik punggung. Wujudnya berupa keris sepanjang dua jengkal, bilahnya lurus tanpa luk, tajam pada dua sisi bilahnya, hitam pekat berkilau memantulkan sinar matahari. Dari tampilannya, keris tanpa luk di tangan Senopati Utama Rudira bisa dipastikan bukan senjata biasa. “Bawa mereka mundur.†Ia menoleh pada Senopati Utama Umbarda. Prajurit Wwatan dan murid Perguruan Banteng Perak mundur hingga dua tumbak. Mereka berkerumun penuh siaga di depan gerobak kurungan jati pada baris paling depan. Di dalam kurungan tawanan berdiri berjajar berusaha melihat apa yang terjadi. “Biar aku temani Paman duduk di sini.†Arga naik ke tempat penghela gerobak kurungan jati dan duduk bersanding dengan laki-laki paruh baya. Bukan prajurit, ia hanya kawula biasa yang bekerja menangani angkutan bagi keperluan Wwatan. Dua tumbak di depan, Senopati Utama Umbarda tegak berdiri. Ia hanya ditemani Ki Kurantaka. Dua kali Senopati Utama Rudira ringan menyabetkan keris di udara. Ia melakukannya dalam pengerahan tenaga. “Mereka telah bersiap. Jabrang, aku menanti segalanya cepat kau selesaikan.†Sosok putih pun melesat menyingkir ke samping satu tumbak jauhnya dari sosok merah. “Wiron, aku akan memberikan pertunjukan padamu.†WUITT... Bergerak cukup cepat, sosok merah meluncur ke depan. Ia mengarah pada Senopati Utama Rudira dan Ki Kurantaka. Didatangi lawan, mereka tidak menunggu. Senopati Utama Rudira menyambut dari sisi kiri dengan keris di tangan. Ki Kurantaka bergerak sigap menyongsong pada sisi kanan. Sebentar saja, tiga orang telah terlibat pertarungan. Masing-masing belum bersungguh. Mereka bergerak masih pada tataran permulaan dari apa yang mereka miliki. Berbeda dengan Ki Kurantaka, kelenturan dan kelincahan memberikan ciri pada kecepatan serangan keris dari Senopati Utama Rudira. Tidak kalah cepat dari kepalan Ki Kurantaka, keris meliuk-liuk menyarangkan tusukan atau goresan pada tubuh lawan. Seperti gemulai nartana (penari) memukau penonton, Senopati Utama Rudira begitu leluasa memainkan keris. Diselingi tusukan menggulung dan sabetan panjang menyilang atau lurus membelah, keris dihujamkan penuh kecepatan pada tempat berbeda di tubuh lawan secara hampir bersamaan. Gerakan keris tidak ubahnya patukan ular, lentur gemulai namun telengas mematikan. Layaknya memiliki mata, keris terus membayangi dan mengejar kemana pun lawan bergerak. “Sungguh luar biasa dan mengagumkan Senopati memainkan Bujaga Maléla (Ular Hitam Berkilau).†Terdengar bisikan di antara prajurit Wwatan. “Selain penuh wibawa, Senopati Utama pun merupakan satriya tangguh yang pilih tanding.†Bisikan lain menambahkan kekaguman pada Senopati Utama Rudira. Mengamati di sisi penghela gerobak tawanan, bisikan prajurit Wwatan tertangkap pada pendengaran Arga. Ular Hitam Berkilau, begitu disebut nama keris pusaka di tangan Senopati Utama Rudira. “Paman mengenal Senopati Utama Rudira?†Menengok ke samping, Arga bertanya pada penghela gerobak tawanan. “Ehm.†Penghela gerobak tawanan mengangguk. Wajahnya terheran memandang Arga. “Seluruh Wwatan mengenal Senopati Utama Rudira.†Sambungnya. “Aku tidak berasal dari Wwatan, Paman. Hanya kebetulan ikut bersama rombongan Wwatan.†“Senopati Utama Rudira mengabdi penuh kesetiaan dan keprawiraan pada Wwatan. Mungkin lebih dari satu dasawarsa, ia memimpin prajurit Wwatan.†Ia mengatakan sosok Senopati Utama Rudira pada Arga. “Semoga, Hyang Agung memberikan perlindungan kepada Senopati Utama Rudira.†Tulus permohonan diutarakan bagi keselamatan Senopati Wwatan yang tengah berlaga dengan sosok merah. Pada laga sosok merah sama sekali tidak terlihat lemah menerima gempuran gabungan penuh kecepatan dari Ki Kurantaka dan Senopati Utama Rudira. Kecepatan berbalas kecepatan. Tidak kalah gesit dan tangkas, sosok merah bergerak mengimbangi dua lawan. Dalam bergerak penuh kecepatan, kain selubung pada sosok merah berkibar namun tetap rapat membungkus sosok di baliknya. Kemampuan sosok merah melepaskan diri dari sergapan gabungan sungguh luar biasa. Datangnya serangan bergilir silih berganti masih belum menempatkan dirinya pada kedudukan yang terdesak. Bahkan, ia sanggup melayangkan serangan balasan hebat, entah menyasar Senopati Utama Rudira entah Ki Kurantaka, sama-sama mematikan. Sejauh berlangsung, keadaan pertarungan berimbang. “Kita lihat lebih dekat Paman.†“Mintalah izin pada Mpu Geni Jaya.†Permintaan Putri Rajni diterukan Ki Antargata kepada Dyah Agni. “Paman, berilah kami izin ke sana. Pertarungan mereka akan membuka wawasan kami.†Sambung Kanistha. “Pergilah. Tetaplah menjaga jarak dan tidak hilang kewaspadaan.†Tidak menunggu waktu, Putri Rajni dan Kanistha bergegas begitu izin Dyah Agni turun. Maheswari dan Acyntia tidak diam dan ikut membuntut, diiringi Labdajaya dan yang lain. Hanya Ki Antargata dan Pangeran Janaloka yang tetap bersama Dyah Agni. Di belakang kumpulan prajurit Wwatan dan murid Perguran Banteng Perak, mereka mencari kedudukan yang lebih baik mengamati berlangsungnya pertarungan. “Terlalu berlama-lama dan begitu membosankan, Jabrang. Kau tentu tidak ingin mempermalukan kekuatan Matahari Murni.†Sosok putih tidak sepenuhnya salah. Pertarungan di antara sosok merah dengan Senopati Utama Rudira dan Ki Kurantaka memang telah berlangsung cukup lama. Hasilnya, belum terlihat tanda-tanda siapa yang lebih unggul. Lagipula, mereka masih bertarung pada tataran wadhag mengandalkan kecepatan, kelincahan dan kekuatan badani. “Jabrang, lakukanlah sesuatu untuk menyatakan kebesaran kekuatan Matahari Murni.†Desakan dari sosok putih. Dalam keadaan masih seimbang, pertarungan memberi daya tarik besar bagi prajurit Wwatan. Mereka memandang dengan tatapan berapi-api penuh gairah. Kebanyakan prajurit belum pernah menyaksikan langsung pertarungan hebat sebagaimana berlangsung di antara sosok merah dengan Senopati Utama Rudira dan Ki Kurantaka. Decak kagum pun ramai berkumandang, melupakan bayang-bayang petaka yang sewaktu-waktu bisa mengemuka sebagai akibat dari pertarungan. “Aku segera meringkus dan menangkapmu.†Kata-kata Senopati Utama Rudira membulatkan tekad saat dirinya melayang di udara untuk melepaskan diri dari serangan balik sosok merah. Tekad telah menuntun Senopati Utama Rudira pada pengerahan kekuatan lebih jauh. Begitu kakinya menginjak tanah, sertamerta berlangsung perubahan pada diri Senopati Utama Rudira sebagaimana tidak terjadi sebelumnya. Keris hitam berkilau pun memerah seperti berpijar. Dalam keadaan itu, Ular Hitam Berkilau di tangan Senopati Utama Rudira menyatakan pamor tuah. DESS... Sosok merah menyapok tinju Ki Kurantaka, dilakukan sambil berputar dan berlanjut dengan serangan susulan menyasar pada perut Ki Kurantaka. Tidak ingin termakan serangan, Ki Kurantaka menarik surut dirinya ke belakang. Sesaat Ki Kurantaka menahan kedudukan dirinya. Ia bersiap meraih pada kedalaman kekuatan miliknya. Dua kepalan Ki Kurantaka memberi pemandangan menakjubkan. Jauh lebih garang dan bengis, kepalan Ki Kurantaka menebarkan cahaya ungu gelap, begitu menyolok mata tampil di tengah terang matahari siang. GRRRRR... GRRRRR... GRRRRR... GRRRRR... Dengan kepala menggeleng-geleng, empat kali Ki Kurantaka melepaskan geraman menyeramkan. “Grandaka Kartala (Lahirnya Banteng Buas)... Kakang Kurantaka tidak akan memberi kesempatan pada lawan.†Di samping Senopati Utama Umbarda, Ki Jagratara tidak terlalu keras menyebut kekuatan yang telah dikerahkan Kakak Seperguruannya. |
#3 | ![]() |
t4nu
9 Februari 2017 jam 4:11pm
 
Bila boleh tahu, ongkos kirimnya ke Bandung/Cimahi berapa mas Pramono? |
#4 | ![]() |
onomarp
9 Februari 2017 jam 7:47pm
 
Ongkos kirim ke Bandung / Cimahi Rp. 25.000,- (7-8 hari kirim) |
#5 | ![]() |
kurotagusu
16 Februari 2017 jam 10:10am
 
di kirim dari jakarta ya om Pram? |
#6 | ![]() |
Radha
14 Maret 2017 jam 5:12pm
 
Ditunggu buku lanjutannya..Om |
#7 | ![]() |
cepmustafa
3 Juni 2017 jam 1:42pm
 
Apakahd gramedia sdh ada? |
#8 | ![]() |
Rybel77
16 Oktober 2017 jam 3:41pm
 
Mas Pramono, cerita Jalan Naga ada bukunya juga gak? Klo ada mau pesan juga nih. |
#9 | ![]() |
ariswanto
24 Oktober 2018 jam 7:24am
 
Mau pesan buku lidira jtngrat dari malang bisa |
#10 | ![]() |
ariswanto
24 Oktober 2018 jam 7:24am
 
Mau pesan buku lidira jtngrat dari malang bisa |
#11 | ![]() |
Zavylon
1 Februari 2022 jam 4:53pm
 
Tror du att det inte finns något värre än problemen med bakteriell infektion i tarmarna? Då kan jag naturligtvis lösa ditt värsta problem. Gå till den här webbplatsen på länken köpa xifaxan. Då kommer du äntligen att kunna glömma det och inte komma ihåg det längre. |