Tuan Tanah Bagian 1

HomeCerita PendekTuan Tanah Bagian 1

kampretos
3 jam lalu

Jakarta, 1998. Kota ini sedang terbakar, namun di sudut-sudut terkumuh Jatinegara, bisnis tetap berjalan seperti biasa.

Hujan deras mengguyur aspal yang retak, menyamarkan bau amis darah yang baru saja tumpah. Di sebuah warung tenda yang sepi, seorang pemuda duduk sendirian. Ia tidak terlihat seperti petarung bertubuh besar, juga bukan tipe yang suka berteriak mengancam. Ia tenang, rapi, dan matanya setajam silet.

Namanya Tama Riyadi.

Di hadapannya, semangkuk mi instan mengepulkan uap panas. Ia menyeruput kuahnya pelan, seolah tidak peduli bahwa lima meter darinya, dua orang pria sedang mengerang kesakitan dengan lutut hancur—hasil karyanya beberapa menit yang lalu.

"Kau gila, Tam," suara serak terdengar dari balik tirai tenda. Itu Bang Kubil, bos kecil yang menguasai tiga blok ruko di wilayah itu. Kubil keluar sambil menyeka keringat dingin, menatap dua anak buah saingan yang kini tak berdaya. "Ini wilayahnya Si Gila Gonzo. Kalau dia tahu kita habisi kurirnya, habis kita."

Tama meletakkan sumpitnya dengan presisi. Ia menatap Kubil tanpa emosi.

"Kita tidak menghabisi mereka, Bang. Kita mengirim pesan," suara Tama pelan, namun setiap suku katanya terdengar jelas di tengah deru hujan. "Dan Gonzo tidak akan menyerang. Dia pebisnis, bukan tentara."

"Pebisnis apanya! Dia jagal!" bentak Kubil.

Tama berdiri, merapikan kerah kemejanya yang sedikit lusuh namun tetap licin. Ia berjalan mendekati pinggiran tenda, menatap ke seberang jalan. Di sana, menjulang sebuah bangunan apartemen tua yang mangkrak. Proyek gagal pemerintah yang ditinggalkan kontraktor saat krisis moneter menghantam. Jendelanya bolong seperti mata mayat, dindingnya kusam berlumut. Gelap. Mati.

Bagi orang lain, itu adalah gedung hantu. Bagi Tama, itu adalah istana yang belum berpenghuni.

"Bang," kata Tama tanpa menoleh. "Masalah abang selama ini adalah abang bermain terlalu melebar. Menguasai jalanan itu melelahkan. Polisi minta jatah, ormas minta jatah, belum lagi panas dan hujan."

"Lalu mau lu apa?"

Tama menunjuk gedung gelap di seberang jalan itu.

"Kita tidak perlu menguasai jalanan kalau kita bisa membuat jalanan datang ke kita," ujar Tama, sudut bibirnya terangkat sedikit—senyum tipis yang kelak akan menjadi mimpi buruk bagi banyak orang. "Lihat gedung itu? Itu bukan rongsokan. Itu benteng."

"Gedung kosong itu? Buat apa? Sarang tikus!"

"Tikus butuh lubang untuk sembunyi, Bang. Dan di kota ini, ada ribuan 'tikus'—bandar narkoba, pembunuh bayaran, buronan—yang butuh tempat tidur nyenyak tanpa takut digrebek polisi," Tama berbalik menatap bosnya. Kilatan ambisi di matanya membuat Kubil mundur selangkah.

"Aku punya visi, Bang. Kita ambil alih gedung itu. Kita sewakan kamarnya bukan dengan uang deposit, tapi dengan loyalitas. Kita berikan mereka perlindungan, dan mereka berikan kita kendali. Sebuah ekosistem tertutup."

Kubil tertawa meremehkan, tawa yang terdengar sumbang karena rasa takut. "Mimpi lu ketinggian, Tam. Lu cuma penagih utang. Sadar diri."

Tama menghela napas panjang, seolah kecewa pada murid yang lamban. Ia kembali duduk, menghabiskan sisa kuah mi-nya.

"Mungkin Abang benar," ucap Tama datar. "Visi ini terlalu besar untuk 'penagih utang'."

Tangan Tama bergerak secepat kilat. Garpu di atas meja menyambar, dan dalam sedetik, benda itu sudah menancap di punggung tangan Kubil, meminngya ke meja kayu.

Kubil menjerit, tapi Tama sudah membungkam mulutnya dengan kain lap kotor.

"Karena itu," bisik Tama tepat di telinga bosnya yang sedang meregang nyawa karena syok dan rasa sakit, "Aku harus berhenti jadi penagih utang. Mulai malam ini, aku adalah tuan tanah."

Malam itu, di bawah guyuran hujan Jakarta yang kejam, hierarki dunia hitam Jatinegara bergeser. Tama Riyadi baru saja meletakkan batu pertama untuk kerajaannya.

Tapi untuk menguasai gedung itu, dia butuh "anjing penjaga". Seseorang yang tidak punya rasa takut, yang hidup hanya untuk rasa sakit.

Dan Tama tahu persis di mana menemukannya.
BERSAMBUNG

Pengarang kampretos
HitCount 3
Nilai total

Belum ada komentar

Tulis Komentar