Tuan Tanah Bagian 2

HomeCerita PendekTuan Tanah Bagian 2

kampretos
3 jam lalu

Tanjung Priok, dua minggu setelah kematian Kubil.

Udara di gudang pelelangan ikan itu terasa berat, campuran aroma garam, solar, dan keringat ratusan laki-laki yang berteriak histeris. Di tengah lingkaran manusia itu, sebuah pertarungan tanpa aturan sedang berlangsung. Tidak ada ronde, tidak ada wasit. Hanya ada uang taruhan yang berpindah tangan saat salah satu petarung berhenti bernapas.

Tama berdiri di balkon lantai dua gudang itu, jauh dari kerumunan yang berdesakan. Ia mengenakan kemeja putih yang kontras dengan lingkungan kumuh di bawahnya. Matanya terfokus pada satu sosok di tengah arena.

Seorang pria bertubuh kecil. Rambutnya gondrong berantakan, kulitnya sawo matang terbakar matahari. Ia bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot kawat yang padat. Lawannya adalah seorang kuli pelabuhan bertubuh raksasa, mungkin beratnya dua kali lipat si pria kecil.

"Habisi dia, Gajah!" teriak penonton.

Si Raksasa mengayunkan tinju sebesar martil. Si Kecil tidak mundur. Ia justru maju.

Dengan gerakan luwes seperti air, ia menunduk, menghindari tinju maut itu hanya selisih satu sentimeter. Dalam sepersekian detik, tubuh kecil itu melesat masuk ke pertahanan lawan.

Krak.

Suara siku yang menghantam tulang rusuk terdengar mengerikan, bahkan mengatasi riuh penonton. Si Kecil tidak berhenti. Lututnya naik menghantam ulu hati, tangannya mencengkeram leher si Raksasa, dan dengan bantingan silat yang efisien, ia menjatuhkan raksasa itu ke lantai beton.

Si Kecil tidak merayakan kemenangannya. Ia tidak mengangkat tangan. Ia hanya berdiri di sana, menatap lawannya yang muntah darah, menunggu jika raksasa itu masih mau bangkit. Ada kekosongan di matanya—bukan rasa takut, bukan kemarahan, tapi rasa lapar yang tak terpuaskan. Dia menikmati rasa sakit itu.

Tama tersenyum. Senyum yang jarang terlihat. Ia menemukan apa yang ia cari.

Tiga puluh menit kemudian, gudang sudah sepi. Pria kecil itu sedang duduk di atas peti kayu, menyeka darah di wajahnya dengan kain kusam.

Tama mendekat, langkah sepatunya menggema di lantai beton. Pria kecil itu menoleh tajam, insting membunuhnya langsung menyala.

"Gerakanmu bagus," kata Tama tenang, berhenti pada jarak aman—jarak di mana ia bisa melihat, tapi cukup jauh untuk tidak langsung dipatahkan lehernya. "Silat beraliran keras. Jarang ada yang memakainya di tempat sampah seperti ini."

Pria kecil itu tidak menjawab. Tatapannya liar.

"Kau bosan," lanjut Tama, seolah membaca pikiran orang itu. "Kau menang terus di sini, tapi kau bosan. Lawan-lawanmu terlalu lambat. Terlalu lemah. Tidak ada... sensasinya."

Mata pria kecil itu menyipit. Tama telah menyentuh saraf yang tepat.

"Siapa lu?" suaranya parau, seperti jarang digunakan untuk bicara.

"Sebut saja aku seorang arsitek. Aku sedang membangun sebuah ekosistem," Tama mengeluarkan sebungkus rokok, menawarkan satu, tapi pria itu bergeming. Tama menyalakan rokoknya sendiri. "Aku punya gedung. Gedung yang akan penuh dengan orang-orang jahat. Orang-orang putus asa. Orang-orang berbahaya."

Tama menghembuskan asap rokok ke udara.

"Aku butuh seseorang untuk menjaga pintu gerbang neraka itu. Seseorang yang tidak butuh uang, tapi butuh mainan."

Pria kecil itu turun dari peti kayu, berjalan mendekati Tama. Tingginya jauh di bawah Tama, tapi auranya mencekik.

"Lu nawarin gue kerja jadi satpam?" tanyanya dengan nada menghina.

Tama tertawa kecil. "Bukan. Satpam itu untuk menjaga orang baik dari orang jahat. Aku butuh seseorang untuk menghukum orang jahat yang melanggar aturanku. Aku memberimu tempat tinggal, makanan, dan yang paling penting..."

Tama menatap lurus ke mata pria itu.

"...Aku memberimu arena bermain tanpa batas. Kau bisa mematahkan tulang siapa saja yang masuk tanpa izin. Tidak ada polisi. Tidak ada aturan. Hanya kau dan keahlianmu."

Hening sejenak. Pria kecil itu membayangkan tawaran tersebut. Sebuah gedung di mana kekerasan adalah bahasa sehari-hari.

"Siapa nama lu?" tanya pria kecil itu, nadanya sedikit melunak, tanda ketertarikan.

"Tama."

"Gue nggak punya nama," jawab pria kecil itu. "Orang-orang di sini panggil gue seenaknya."

Tama mengangguk, lalu melihat cara pria itu berdiri—waspada, ganas, namun setia pada instingnya.

"Kalau begitu, kau butuh julukan yang pas," Tama membuang puntung rokoknya dan menginjaknya hingga padam. "Sesuatu yang memperingatkan orang untuk tidak mendekatimu."

Tama berbalik badan, mulai berjalan pergi, yakin bahwa pria itu akan mengikutinya.

Di belakangnya, pria kecil itu menyeringai. Ia pun melangkah mengikuti tuan barunya, meninggalkan pelabuhan amis itu menuju takdir yang lebih berdarah.

Bab 3 dan selanjutnya bisa dibaca di https://ceritawu.blogspot.com/

Pengarang kampretos
HitCount 3
Nilai total

Belum ada komentar

Tulis Komentar