Home → Cerita Pendek → Cerita Pendek oleh kampretos
Tanjung Priok, dua minggu setelah kematian Kubil.
Udara di gudang pelelangan ikan itu terasa berat, campuran aroma garam, solar, dan keringat ratusan laki-laki yang berteriak histeris. Di tengah lingkaran manusia itu, sebuah pertarungan tanpa aturan sedang berlangsung. Tidak ada ronde, tidak ada wasit. Hanya ada uang taruhan yang berpindah tangan saat
Jakarta, 1998. Kota ini sedang terbakar, namun di sudut-sudut terkumuh Jatinegara, bisnis tetap berjalan seperti biasa.
Hujan deras mengguyur aspal yang retak, menyamarkan bau amis darah yang baru saja tumpah. Di sebuah warung tenda yang sepi, seorang pemuda duduk sendirian. Ia tidak terlihat seperti petarung bertubuh besar, juga bukan tipe yang