Chapter 30 ini awalnya pingin dibahas sedikit lebih dalam biar semuanya jelas, tapi karena mepetnya waktu terpaksa gw rubah modelnya, penggambaran suasana gw cut semaksimal mungkin, dialognya pun dibabat habis, gw coba eksperimen dijalur cepat tanpa buat cerita jadi flat. Ini karena dlm seminggu gw cuma ada waktu luang hari sabtu minggu, kalo kemaren ga selesai ditulis, berarti batal upload dan mesti nunggu akhir pekan berikut. Kasian pembaca plus gw jadi mundur dari jadwal. akhirnya gw upload juga dengan harapan mudah2an isinya udah cukup jelas bagi pembaca.
Tapi kliatannya gagal yah? Jadi rada kaget juga… 
Kenapa dichapter2 sebelumnya gw banyak buang waktu tuk penggambaran suasana hutan, usaha siang malam si a sai dalam berlatih dan keadaan tubuh lo-tong? Satu diantaranya tuk pertarungan a sai vs lo-jie ini. Harapannya biar pembaca jadi ada gambaran sebab kemenangan a sai, dan dengan mengaitkan ketiga hal diatas, rasanya mudah bagi pembaca menarik kesimpulan. kalo pembaca udah tahu maka gw bisa langsung lompat ke kejadian berikut, akan lumayan menghemat waktu/halaman.
Soal “kenapa lo-jie bisa kalah?†:
Sejak awal a sai udah coba gw gambarkan sebagai orang yg bisa dibilang punya tubuh yg nyaris tak mempan racun. Sedangkan Racun bius pelemas otot.
gw gambarkan sebagai jenis racun yg sangat keras dan cepat daya kerjanya, saking lihaynya hingga saat racun bekerja sama sekali tak menunjukkan gejala seperti umumnya jika kena racun, saat sadar terkena, udah terlambat. Saat itu a sai tak sanggup lama-lama menyerang jaring yang penuh racun ini, bahkan semua usahanya seperti menahan nafas, membungkus tubuh dengan kain, mencari cara melawan daya kerja racun ini dalam kitab thian bun pun tak berhasil melawan racun yg ada (lihat chapter 27-28).
Lo-jie sebaliknya walau juga seorang ahli racun tapi ia tak mengenal satu dua jenis racun yang ada, bahkan sebelum mendekati asai, terlebih dulu harus minum 3 butir pil untuk mencegah kemungkinan terkena racun.
Kalo si asai aja masih juga tak kuasa melawan pengaruh racun ini, apa lagi Lo-jie?
A sai pun tak berani secara langsung menyentuh permukaan jaring dan memilih berdiri diatas tongkat, bahkan saat bertarung pun ia lebih memilih menyerang dari udara ini karena ia cukup paham keampuhan racun pada jaring, sebaliknya Lo-jie sejak awal sudah menginjak permukaan jaring saat sedang berusaha mendekati a sai, saat bertarung pun tetap menginjak jaring. Tak menyentuh langsung saja bisa terkena racun, apalagi langsung menginjak jaring seperti itu? akibatnya semakin lama kemampuan lo-jie jadi semakin menurun tanpa dia sendiri menyadarinya.
Jadi kenapa lojie bisa kalah? Salah satu faktor adalah karena a sai mengenal situasi dan medan yang ada dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin, lawannya. tidak. untuk faktor kecil lainnya silahkan dikira2 sendiri 
Soal “kebingungan lo-tong†:
Sebenarnya tak ada yg aneh, ingat ga… disini gw coba nulis jalannya pertarungan dari sudut pandang lo-tong, bukan sudut pandang gw/penulis 
Kondisi tubuh lo-tong udah mirip dengan orang biasa yg tak bisa silat. Walau ia yg senantiasa memberi petunjuk selama sebulan terakhir pada a sai tapi bagaimana mungkin ia bisa mengikuti kemajuan pemuda itu dengan kemampuannya yg sekarang dimilikinya? Kalau pertarungan antara a sai dan lo-jie aja ga sanggup diikuti oleh mata lo-tong, bagaimana ia dapat menilai pertarungan tersebut dengan baik? wajar aja dia bingung 
Jangan lupa pemuda itu berlatih menyerang jaring yg berada puluhan tombak diatas kepalanya, ini berarti berlatih bukan hanya “keampuhan jurus serangan†tapi juga berlatih meningkatkan ginkang, lweekang, daya tahan tubuh terhadap racun dan indera-indera lain ditubuhnya. Apalagi ia berlatih sungguh2 siang malam dan hanya berhenti kalau tubuhnya sudah nyaris tak bisa digerakan lagi, dengan berlatih secara demikian kerasnya ditambah dengan dasar tubuhnya yang berbeda, otomotis kemajuan yang dicapainya besar sekali.
Sebaliknya lo-tong, kalau matanya saja tak bisa mengikuti gerakan pemuda itu, bagaimana ia bisa menilai tingkat ilmu silat a sai sekarang? Ia hanya bisa mengira-ngira berdasarkan pengalaman diwaktu lampau tapi soal sampai dimana tingkat ilmu silat a sai hanya a sai yg tahu, lo-tong tak mungkin mengetahuinya 
Kira2 demikian, mudah2an udah ga penasaran lagi soal ini.
Bagian “apa yg terjadi ini†kalo ada waktu lebih, akan gw masukan dichapter berikut, tapi kalo mepet waktunya, gw akan langsung lanjut ke kejadian berikut. Gw anggap udah cukup jelas dibahas disini. Kalau ada yg terasa ganjil bagi pembaca dan ingin ditanyakan, silahkan aja.
Thanks tuk semua posting pembaca yg masuk, lanjutannya bisa dicek pada akhir pekan nanti.
Gbu all 