Menyelesaikan MBS dan Surat Terbuka bagi Pecinta Cersil

HomeArticlesEntertainmentMenyelesaikan MBS dan Surat Terbuka bagi Pecinta Cersil

avatar danivn
1 December 2008 at 12:48am

p1000017625rd2.jpg

Dear Elangbara-heng dan juga rekan semua,

Terima kasih untuk postingnya di thread MBS yang meminta agar cerita dituntaskan, demikian juga surat yang masuk dari beberapa kawan melalui mailbox.

Saya pasti akan mengusahakan untuk tamat, demi beberapa alasan, antara lain:

1. Kehebohan di Milis Tjersil kalau tidak hokkian bukan cersil, kalau bukan KPH juga bukan cersil

Di sini saya melihat "keangkuhan" dan "kekeraskepalaan" sebagian kita yang terikat dengan masa lalu. Padahal jelas2 pepatah bilang, "Your past success guarantee nothing, nothing at all!"

Kakek saya selalu memanggil cucu-cucunya dan bercerita tentang masa lalunya yang terus menerus di ulang, "Waktu zaman kakek dulu..."

Begitu selalu!

Sementara dalam hati para cucu berkata, "Iya, itu zaman dulu, kalau zaman sekarang sih bedaaaaa!"

Kalau para cucu gak berani berkata, maka melalui MBS ini saya mau tunjukkan bahwa perubahan merupakan kunci zaman.

Oya, sebelum lebih jauh bicara, saya ingin nyatakan: saya tidak membela KPH, bukan pengagum KPH, seperti saya juga tidak mengagumi GL atau LYS atau lainnya.

Saya hanya memuja karya-karya terbaik, dari siapa pun! Sekali pun itu adalah hasil bumi pertiwi sendiri.

Biar bagaimana KPH orang Indonesia, dan saya cinta produk dalam negeri :)) untuk beberapa karyanya yang memang baik, ya saya katakan baik dan tidak alergi dengan KPH.

Saya tidak mau sok mengagumi pengarang seberang, dan bilang KPH bukan cersil. Buat saya, pola pikir begini sungguh menggelikan.


2. Milis Tjersil selalu ribut bagaimana menyosialisasikan cersil ke kalangan yang lebih muda

Mereka hanya ribut melulu, tapi "paradigma" mereka tidak mau diubah. Buat saya, paradigma adalah cara pandang seseorang yang akan mempengaruhinya dalam berfikir (kognitif), bersikap (afektif), dan berperilaku (konatif).

Paradigmanya tetap jadul (jaman dulu), nostalgia semata, bagaimana mau mendekati khalayak yang lebih muda?

"There is nothing permanent except change!" kata Heraclitus. Tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan itu sendiri.

Maka kalau paradigmanya itu, sudut pandangnya, perspektifnya gak berubah, ya tetap saja jadul dan sulit mendekati generasi yang lebih muda, yang lebih "modern" <sulit bukan berarti tidak bisa!>

Dulu saya rajin posting di Milis Tjersil. Tapi sekarang saya gak mau ribut. Capek! Saya cuma mau tunjukkin bahwa kalau mau mendekati kalangan yang lebih muda, kalau ingin memperluas pasar, maka faktor-faktor yang menghambat bagi para pemula harus dihilangkan terlebih dulu.

Berdasarkan studi saya, yang paling menggangu bagi pembaca pemula cersil adalah nama orang, nama jurus, serta sebutan yang aneh-aneh.

Nama orang tidak mungkin diganti misalnya Meng Xin Hun jadi Yanto Tanubrata. Xiau Tie jadi Susi Wijaya. Maka yang saya lakukan adalah membuang faktor2 yang menyulitkan itu, terkecuali nama tempat dan nama orang.

Maka, nama gelar saya hilangkan, nama-nama jurus saya buang (walau di bab2 awal masih sempat "terlepas" tapi nanti akan saya edit kembali). Saya juga menambah daftar nama para tokoh guna membantu pembaca, utamanya para pemula.

Selain itu, saya membuat cover/ilustrasi MBS dengan cita rasa "modern", cara bertuturnya pun saya usahakan "modern", kebetulan thema MBS ini "modern" (ada isu assasin, honor untuk hidup, organisasi seperti mafia, dll).

Maka, begitulah, semua saya implementasikan dalam MBS yang saya re-write ini. Bukan apa-apa, saya rela bercapai lelah semata untuk memajukan cersil ini serta memberi contoh agar beberapa kita mau mengubah paradigmanya yang enggan berubah.

Saya sadari sepenuhnya, cara dan keyakinan yang saya tempuh ini belum tentu benar. Tapi kalau tidak dicoba, bagaimana tahu hasilnya? Kelelahan ini begitu nikmat, tentu berbeda dengan kecapekan posting di milis cersil. Karenanya, MBS pasti saya tuntaskan.

Buat semua pecinta cersil,

Kalau ada perkataan saya yang keras dan ada yang kurang berkenan, saya mohon maaf sebesarnya. Percayalah bahwa tujuan saya baik: memasyarakatkan cersil ke kalangan yang lebih luas. Mungkin kita hanya berbeda dalam cara dan keyakinan. Tapi kita mencintai satu hal yang sama: cersil!

Dan buat Elangbara-heng,

Sebagai Pemred sebuah media di Semarang dan juga pemilik blog yang begitu indah, begitu hidup dan inspiratif, saya percaya Anda pasti juga akan melakukan sesuatu demi cersil yang juga Anda cintai ini.

Sodjah

Category Entertainment

69 people have read
avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar


6 comments

icon_comment Read all comments icon_add Add Comment

#2 avatar
danivn 1 December 2008 at 10:13am  

lam_khie wrote:
seperti halnya rangkaian gerak yang disebut jurus, dibandingkan proyektil yang meluncur cepat... cepat sekali. menurutku yang tercepat yang menang, itulah sebab utama cersil kebanyakan mengambil setting jadul.
Terimakasih lam_khie-heng, saya pun sependapat. Pada tulisan saya di atas, yang ingin saya kemukakan adalah ketidaksetujuan saya hanya karena KPH maka dianggap bukan cersil.

Saya pun sependapat dengan lam_kie-heng, bahwa setting cersil harus jadul. Tapi pola pikir yang memandang bahwa cersil itu harus dengan bahasa ala OKT misalnya, itu yang saya tidak setuju.

Puluhan tahun lalu, ibu saya pecandu CY dan LYS, beliaulah yang memperkenalkan saya sewaktu SD pada cersil: STHL, STEH, TLT, dll. Di SMP saya mulai membaca Gan bersaudara (mulai dengan 4 alis) dan Tjan ID, dan ibu saya menertawakan. Katanya, itu bukan cersil! Kenapa? Karena gaya bahasanya. Padahal, bahasa Gan bersaudara dan Tjan ID lebih mudah diterima dan dipahami kalangan yang lebih muda.

*

Zaman berganti, ada sesuatu yang tidak berubah!

Ketika kalangan yang lebih muda lebih terbiasa dengan pinyin, kalangan yang lebih tua bilang, kalau bukan hokkian bukan cersil.

Nah itulah masalah saya, kenapa cersil dinilai dari atributnya?

Dulu nenek saya menegur adik saya yang wanita karena selalu pakai celana panjang dan suka memotong rambutnya pendek. Nenek saya bilang, kalau gak pake rok bukan perempuan. Kalau berambut pendek, juga bukan perempuan. Rambut pendek dan rok semata atribut. Essensinya, ya adik saya tetap perempuan, sekarang sudah beranak dua.

*

Maka, saya menilai cersil bukan dari atribut, bukan dari siapa pengarangnya, tapi dari esensinya.

Dalam mendekati kalangan yang lebih muda, dan kalau memang berniat memperluas cersil dan bukan sekedar bernostalgia, gunakanlah "bahasa" yang lebih bisa diterima kalangan yang lebih muda itu.

Dan saya tidak mau omdo, omong doang, maka saya hadirkan MBS di Indozone ini.

Sodjah

#3 avatar
atika1806 1 December 2008 at 12:10pm  

Sebenarnya ini masalah selera dan sudut pandang, jadi tidak ada alasan harus perduli dengan penilaian yang lain bahwa KPH bukan cersil. Jika menggunakan penilaian yang obyektif jelas cerita KPH adalah cersil. Masalah sebagian besar cerita bisa ditebak, ya itulah style KPH, dan suka atau tidak suka, penggemarnya juga banyak. Meski saya pribadi penggemar Trilogi Chin Yung dan ceita Gu Long, tetapi tidak membatasi bacaaan yang berkaitan dengan cersil, mau karya siapapun asal kan bagus dan memenuhi hasrat baca kita rasanya tetap akan saya baca. Karya KPH juga banyak yang bagus kok, menurut selera saya, seperti Darah Pendekar. Kalaupun ada milis atau situs lainnya membatasi hanya cersil saduran ya biarkan saja, toh ada juga indozone yang menampung semua genre. Saya setuju pendapat Danivn, sesuaikan dengan ejaan baru bahasa Indonesia, soal Hokkian atau Pinyin bukan masalah, asalkan ceritanya bagus nanti juga terbiasa dan akan dibaca juga. Buktikan saja dengan membuat cersil baru mau setting lokal atau luar sama aja, yang jelas cerita silat hanya yg model seperti kita kenal banyak berkaitan dengan kejadian jaman dulu. Boleh juga dengan menyadur ulang dari bahasa aslinya dengan ejaan baru untuk menyaring generasi baru. Apapun tetaplah berkarya karena itu yang membuat jadi lebih menarik.

#4 avatar
lavilla 1 December 2008 at 11:42pm  

Saya juga suka ketawa membaca 'pertikaian' di milis tjersil, yang bagi generasi muda kayak saya ini benar2 sepele, bahkan cenderung penghambat kemajuan cersil....

Misalnya antara pinyin dan hokkian....

Baru2 ini baru di persoalkan antara pinyin dan hokkian dlm cersil antara budi dan cinta aka Meteor butterfly sword terbitan bandung....

Mereka selalu terjebak dalam nostalgia masa lalu....

Maksud hati mau menyebarkan cersil ke generasi muda, tapi bawaannya ke tempo doeloe melulu....

Taruhan, gak bakalan ada tuh anak muda pemula yang mau baca perjodohan busur kumala cetakan baru terjemahan OKT...

Saya sangat, sangat kesulitan (bahkan enggan) membaca saduran OKT (Bu Beng Cu)...

Lain Halnya dengan terjemahan Gan bersaudara, Tjan ID....

Bahkan di saduran Gan KL juga masih di temukan kata2 yang bagi generasi muda bikin berkerut keningnya.....

Memang lain orang lain kesukaannya...

Cersil yang bagi kebanyakan orang sering di ledek bacaan orang tua..., susah menyebar, ya karena masalah bahasa itu tadi...

Itulah sebabnya cersil skrg diterbitkan secara ODP, saking jarang ada peminatnya, yang pembelinya orangnya itu2 saja...

Sedikit yang beli, harga jualnya semakin mahal,
harga mahal, sedikit yang beli,
bak lingkaran setan...

saya lihat paling banter utk judul2 top masih di bawah 200 an order utk odp....

Kapan majunya cersil?

BTw. MBS yg ada disini dangat bagus terjemahnnya, cover artnya juga keren, saya punya bukunya terbitan bandung, sejujurnya terjemahan yang disini sangat bagus....kalau boleh dibilang lebih bagus drpd.... :)
So...semangat ya nerusin MBS...

#5 avatar
danivn 2 December 2008 at 11:46am  

Dear Lavilla,

Terimakasih untuk supportnya, dengan beberapa tanggapan di sini saya tahu tidak sendirian karena ternyata kita punya kegalauan sama. Mudah2an masukan dan saran kita di sini bisa didengar teman2.

Untuk pujiannya, waaahhh, jangan ketinggian, nanti saya jadi besar kepala ^__^

Sebetulnya, saya hanya ingin memberi contoh bahwa masih banyak cara bisa dikembangkan guna meluaskan pasar cersil.

Misalnya saya punya perusahaan ditributor komputer. Bagaimana supaya saya bangkrut? Jawabnya: jangan sebarkan brosur, kalau ada telepeon ke kantor jangan diangkat, jangan bersikap ramah, jangan dengarkan complaint pelanggan karena 'kan yang tahu produk adalah kita, dst.

Maka supaya tidak bangkrut adalah: sebarkan brosur, setiap telepon maksimal dua kali dering sudah harus diangkat, bersikap ramah, dengarkan complaint pelanggan, dst.

Dengan pola berfikir yang sama, saya bertanya: apa yang membuat cersil sulit diterima pembaca baru?

Jawabnya: sampul tidak menarik, bahasa jadul, nama orang sulit, nama gelar sulit, nama jurus sulit, kalau ada anggota baru (customer) yang bertanya harus langsung maki karena bloon banget gitu aja ditanya, kalau mulai dari KPH langsung ejek dan lecehkan, dst

Lantas, bagaimana supaya cersil bisa diterima pembaca baru? Ya, list di atas tinggal kita balik kan? Sampul dibuat menarik, bahasa disesuaikan dengan perkembangan zaman (dari gaya OKT ke gaya Gan/Tjan sekarang ke Pinyin), nama sulit diubah ya dipertahankan, gelar dan nama jurus dimudahkan, kalau anggota baru bertanya dijawab dengan ramah, kalau mulai dari KPH diperkenalkan LYS, CY, GL, dst.

Begitu, bukan?

Itu kalau memang niatnya maju bukan sekedar nostalgia.

Darwin bilang, hanya mereka yang bisa berevolusi menyesuaikan diri dengan perubahan zamannyalah yang akan tetap bertahan.

Survival of the fittest!

Sodjah

#6 avatar
momongcha 21 December 2008 at 8:32am  

Halo, saya pendatang baru di forum ini. Tadi sedang surfing internet untuk update software akhir tahun, tanpa sengaja kelihatan posting-posting novel silat.

Sebelum posting ini saya ada kirim satu posting lagi. Disitu saya mengungkit dua hal. Pertama, ingin tahu apakah ada novel silat karya penulis lama yang telah diterjemahkan dan dipublikasikan dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia moderen. Kedua, mengenai terjemahan penerjemah kita yang dahulu. Mereka menerjemahkan novel silat yang ditulis dengan bahasa Mandari ke bahasa Indonesia ejaan lama. Selain itu juga tidak menggunakan sistim romanisasi latin pinyin Wilde-Gades, tetapi menerjemahkan perkataan tertentu ke dialek bahasa Hokkien.

Karena saya pribadi sudah lama tidak mengunjungi seksi fiksi di toko buku, sama sekali tidak tahu apa ada novel silat yang telah diterbikan dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia menggunakan ejaan moderen. Seandainya belum, atau masih sangat terbatas, tentu ini merupakan suatu tantangan dan peluang untuk generasi muda. Saya yakin novel-novel tersebut bisa diterjemahkan jauh lebih baik daripada penerjemah kita yang dahulu. Karena setelah membandingkan versi asli dan versi terjemahan ke bahasa Indonesia, masih banyak peluang untuk dibenahi.

Hanya saja, mohon maaf terlebih dahulu. Tetapi, jika kerja keras generasi muda menggunakan waktu dan tenaganya untuk menerjemahkan novel-novel silat ini sedekat mungkin dengan versi aslinya, lantas di bajak atau di publikasikan secara cuma-cuma di internet, sungguh menyedihkan. Waktu dan tenaga yang diluangkan untuk mengerjakan begitu banyak volume dan judul novel seperti sama sekali tidak dianggap. Ini hanya pendapat sederhana saya saja. Sekali mohon maaf kalau tidak sengaja menyinggung.