Tanjung Priok, dua minggu setelah kematian Kubil.
Udara di gudang pelelangan ikan itu terasa berat, campuran aroma garam, solar, dan keringat ratusan laki-laki yang berteriak histeris. Di tengah lingkaran manusia itu, sebuah pertarungan tanpa aturan sedang berlangsung. Tidak ada ronde, tidak ada wasit. Hanya ada uang taruhan yang berpindah tangan saat
Jakarta, 1998. Kota ini sedang terbakar, namun di sudut-sudut terkumuh Jatinegara, bisnis tetap berjalan seperti biasa.
Hujan deras mengguyur aspal yang retak, menyamarkan bau amis darah yang baru saja tumpah. Di sebuah warung tenda yang sepi, seorang pemuda duduk sendirian. Ia tidak terlihat seperti petarung bertubuh besar, juga bukan tipe yang
Pagi merekah dengan sinar matahari yang redup. Awan putih bergelayut di langit, namun udara di pesantren terasa berbeda—sejuk, namun menyimpan sesuatu yang ganjil. Burung-burung tak seramai biasanya, dan angin pagi seolah ragu bertiup.
Kiyai Makmun memandang ke sekitar pesantren. Kondisi halaman pesantren sudah harus dibersihkan. Daun-daun jatuh imbas angin
Langit bergemuruh hebat, seakan murka atas sesuatu yang baru saja terlepas dari kekangannya. Petir menyambar tanpa henti, bercabang-cabang bagaikan cambuk langit yang menghajar bumi. Angin berputar liar, meraung kencang hingga dedaunan beterbangan seperti ribuan roh yang melarikan diri dari kurungan.
Di tengah badai yang menggila itu, di tempat di mana pohon
Dengan wajah masam dan langkah berat, Pangeran keluar dari kamar. Ia mendengus kesal, membanting pintu sembari mengumpat dalam hati. Pesantren ini bukan tempatnya, pikirnya. Terlalu sederhana, terlalu sempit, dan terlalu banyak aturan. Ia berjalan tanpa arah, menyusuri halaman pesantren yang masih diselimuti embun pagi. Di sudut belakang pesantren, sebuah lorong
Sementara itu, Yahya melanjutkan perjalanan menuju kantornya. Wajahnya masih tegang. Hatinya mendidih setelah menyaksikan sendiri ulah anak semata wayangnya yang ugal-ugalan di jalan, menunggang motor bersama geng liar. Tapi amarahnya belum selesai. Saat ia mencoba meredakan napas, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Layar menampilkan nama yang sudah tak asing lagi:
Jakarta, setiap pagi, disetiap harinya, selalu penuh dengan beragam aktivitas kehidupan. Begitu pula pagi ini, saat kisah ini dimulai. Ibu kota sudah terjaga lebih dulu dari matahari—bergerak, bernafas, dan berderak dalam tempo yang hanya dikenal oleh mereka yang terbiasa hidup bersamanya. Apa yang khas dari Jakarta pagi-pagi? Tak lain: kemacetan.
Cerita ini adalah adaptasi dari film berjudul sama. Bercerita tentang seorang pemuda bernama Pangeran. Yang menjalani hidupnya dengan fasilitas mewah milik ayahnya. Bersekolah di sekolah elit, namun fikirannya tidak pernah tertuju pada pelajaran. Pangeran bersama gank motornya, lebih suka ugal-ugalan di jalan. naik motor gede, kebut kebutan membuat keresahan di