Malam, Pagi, dan Senja di Ra’sul Bar, Dimyat, Egypt

HomeArticlesEntertainmentMalam, Pagi, dan Senja di Ra’sul Bar, Dimyat, Egypt

avatar haydar
5 August 2009 at 3:26am

Bagaimana bila kita membayangkan bahwa dunia ini senantiasa berbeda? Ombak yang memukul selalu tak sama dengan ombak yang menyusul. Matahari yang berpendar bukan ia yang terbit tadi fajar. Bahkan batu-batu yang terbanting gelombang pun tidak seratus persen sama dengan batu-batu sedetik lalu.

Bagaimana bila memang dunia seperti jam pasir yang terbalik? Orang tak sadar sampai gerumbul pasir yang terakhir habis, lalu mereka mulai berteriak…..

Ra’sul Bar malam bukanlah Ra’sul Bar pagi.

Saat senja orang berduyun-duyun menyenangi matahari, riang merasakan angin garam, memfoto gaya, juga mengelus-elus menara. Tiap orang seolah ikut menyanyi bersama ombak, bercanda dengan air asin. Lalu ketika gelap membuat laut kelihatan menakutkan, orang semakin gembira. Walau riuh celoteh itu menyimpan sendu yang pilu, bahwa mereka datang bukan untuk memahami, hanya sejenak lari. Karena rutinitas adalah kaos ketat yang tanpa ventilasi, dan sepi sama menakutkannya dengan sendiri.

Tapi apa salahnya? Manusia bukan hanya mesin analisis, manusia juga makhluk yang tertawa, wajah yang terkadang merona. Kenyataannya belum pernah kulihat ada ayam yang bisa jatuh cinta seromantis manusia.

Kalau memang dunia selalu berlari, maka selintas senja ini adalah jeda. Marilah kita sejenak berhenti memahami, menggores koma dalam keberfikiran kita, dan lihatlah itu, sebuah menara yang bertanggal dan berlampu, dikerubungi segerombolan perawan dan perjaka. Jangan tanya apa maknanya, cukup tertawakan saja.

Malam sebelumnya…

Kami duduk-duduk, bernyanyi-nyanyi, berlomba-lomba. Orang-orang Mesir beryale-yale -meminjam istilah tetangga saya- mengerubungi, seolah kami adalah segerombolan sirkusan. Belakangan saya membayangkan, seandainya saya yang jadi orang Mesir, kelakuan saya mungkin akan lebih kampungan lagi dari orang Mesir itu, jadi ya….akhirnya saya tertawakan saja.

Dan dunia ternyata suka berbeda, jadi rupanya itu bukan bayangan saya saja.

Pagi terakhir…..

Kemarin laut masih adem-ayem, ombak pun tak seberapa galak, sehingga kami leluasa bermain kodok-kodokkan, atau merapal ngelmu mbathang, semacam keahlian yang membuat saya terkagum-kagum.

Tentang ilmu mbathang sedikit saya ceritakan, ia bertolak dari sebuah kesimpulan dari buku catatan Mushashi, setelah bermusim panas-dingin ia lewatkan untuk menaklukkan tanah gersang Hotengahara, kalimat itu berbunyi, “Jangan melawan jalannya alam semesta. Tapi pertama-tama yakinkan dirimu bahwa engkau mengenal jalan alam semesta,”

Mbathang yang sempurna adalah ketika sekujur tubuh bisa mengambang dibatas air, diam. Menari mengikuti ombak. Bernafas melalui semilir angin. Melayang lemas seperti kain sutra. Menggunakan niat tanpa tenaga, rasa tanpa memaksa.

Sikap yang terlihat sangat mudah ini ternyata bagi saya sulitnya minta aduh-aduh. Tubuh saya senantiasa tak dapat untuk tak tenggelam. Ajaran mBatu terlalu mendara daging dalam tubuh saya. Dan baru setelah sesorean dibawah bimbingan guru-guru handal, yang kerap mangkel dengan kebebalan saya, barulah saya menemukan kesalahan saya.

Saya terlalu memaksakan ombak untuk mengikuti tubuh saya, dan bukan sebaliknya. Tenaga saya selalu menekan air untuk takluk. Sikap yang sangat bodoh, tapi kenyataannya tak banyak yang menyadarinya. Bagaimana saya bisa menaklukkan air yang bersamudra-samudra? Bagaimana saya mampu menindas makhluk yang menguasai dua pertiga bumi ini?

Intinya adalah, percayakan dirimu pada lautan, hilangkan pikiran untuk membuatnya takluk, jangan menekan, cukup bergoyang, kenyatannya, ia lah yang menentengmu, bukan kau yang memijaknya.

Dan ketika sikap percaya itu mulai mengembang, tidak saja dalam hati tapi juga tersalur lewat kepala, tangan, kaki, dan terutama pinggul, maka laut akan menyambut. Selajutnya, kita cukup mengikuti, menyeimbangkan.

Maha Mendidik Tuhan, yang menjadikan apapun sebagai jalan untuk memahami-Nya. Percayakan dirimu pada-Nya, maka Dia yang akan menentengmu. Rebahkan ambisimu pada tak terbatasnya kuasa-Nya, maka Dia yang akan mengantarmu. Cukup kau ikuti saja, seimbangi. Detik ini tak kuasa saya membendung otak saya untuk memahami ini, karena sesungguhnya pemahaman ini memang nikmatnya minta ampun, karena agaknya memahami memang jauh lebih orgasmus dari pada membatu-ajegkkan akal pikiran kita.

Siang hari kedua….

Dapatlah akhirnya saya ber-mbathang-mbathang ria, bersama guru-guru saya, dan sementara itu saya sudah jadi guru untuk urusan mbathang ini, walau karena kebebalan metodik saya, sampai detik terakhir murid-murid saya itu belum sukses dalam laku mbathang ini.

Matahari siang betul-betul penuh muntahan panas yang ampun-ampun. Ditambah lama-lama di air membuat dada saya sesak. Dan kembali saya menghayati satu hal, hal yang paling nikmat sekalipun, jika terlalu banyak kau nikmati, rasanya tidak akan nikmat lagi. Maka kami pun pulang, antre mandi, saya nomor 17 waktu itu, dan tidur sesorean tambah semalaman untuk ….

Dhuhanya,….

Kembali ke Kepala Daratan itu. Sepi orang, hanya laut Mediterania dan sungai Nil yang tetap setiap bercium-cium, berpeluk-peluk. Jukung kecil berlayar putih segitiga hadir diantara laut dan mentari, berayun-ayun. Saya memandang bola perak panas itu dan belakangan berpikir, saat ini kau tentu bukan dirimu yang kemarin, lalu kapankah diri terakhirmu? Kita mungkin sama-sama nggak tahu kapan hari PHKmu, yang jelas kau mengingatkanku lagi bahwa kita tak selamanya.

Merangkak bus menapak, entah meninggalkan atau menjemput. Lamat-lamat menara itu berbisik, “Carilah ikan bakarmu kawan,…tandailah kerendahan hati itu.”

Category Entertainment
Source http://kholidhaydar@yahoo.com

27 people have read
avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar avatar


3 comments

icon_comment Read all comments icon_add Add Comment

#1 avatar
whatname 5 August 2009 at 11:03am  

mas kalo mo nulis blog ke bloger aja...

#2
Azalae 5 August 2009 at 1:24pm  

ini cerita ato apa? kalo dibikin cerita lumayan menarik. tapi jadiin bacaan/literature aja.

#3
mcden 6 September 2009 at 11:01pm  

Kaya nya harus buat tempat utk oret2an di indozone. Yang kaya gini kan gak tau mau di taro di mana...? Tapi karya2 member hrs tetep di jaga.. gimana dong..? ^__^