Home → Bacaan → Manusia-manusia setengah dewa
Prolog
Kebanyakan cerita tentang kiamat atau masa-masa menjelang akhir dunia, menggambarkan datangnya masa itu dengan tiba-tiba. Digambarkan, hanya sebagian kecil dari umat manusia yang menyadarinya, entah lewat teknologi atau nubuatan dari agama yang mereka anut.
Bagian yang kedua mungkin benar, tapi bagian yang pertama tidaklah tepat. Kedatangan masa-masa yang akhir itu, terjadi dengan perlahan-lahan namun pasti. Proses kiamat itu terjadi tepat di depan ujung hidung setiap orang tanpa mereka sadari. Seperti kisah katak yang mati saat dimasak dalam sepanci air yang suhunya dinaikkan perlahan-lahan, umat manusia menggali kuburannya sendiri dan tidak menyadarinya. Kiamat itu datang bukan disebabkan makhluk luar angkasa, bukan pula karena jatuhnya komet besar. Kehancuran dunia itu datang oleh ulah manusia sendiri yang rakus akan kesenangan.
Manusia lupa bahwa kemampuan bumi untuk menyediakan berbagai kebutuhan makhluk yang diam di atasnya itu terbatas. Bukannya membatasi keinginan dan mengeksploitasi alam secukupnya, manusia membiarkan keinginannya berkuasa atas dirinya dan alam dipaksa untuk mencukupi keinginan setiap orang.
Pelan namun pasti, kerusakan alam pun terjadi, sementara manusia masih sibuk mengejar kesenangannya masing-masing.
Hingga tiba di satu titik, di mana manusia tidak dapat lagi mungkir terhadap kenyataan. Jumlah sumber daya alam yang penting bagi kelangsungan hidup manusia hanya cukup untuk sebagian kecil saja dari keseluruhan umat manusia.
Inilah titik balik dari sejarah yang melahirkan sebuah dunia baru, legenda-legenda baru. Legenda-legenda akan iblis, dewa dan manusia. Pada waktu itu beberapa pemerintah dunia, didukung oleh organisasi keilmuan, memutuskan bahwa demi kelangsungan hidup manusia, jumlah sumber daya alam yang semakin menipis itu harus dikonsentrasikan penggunaannya untuk sekelompok kecil manusia unggulan. Dengan berkembangnya ilmu genetika, hal itu dengan mudah dapat dilakukan. Sebuah keputusan yang sangat kejam bagi mereka yang diputuskan tidak layak untuk terus bertahan hidup. Namun bagi mereka yang mengambil keputusan, inilah satu-satunya jalan untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia sebagai satu spesies.
Terjadilah sebuah migrasi besar-besaran, sekelompok besar manusia yang dipandang tidak memiliki masa depan, diusir dari wiayah-wilayah yang masih subur, menuju ke daerah-daerah yang tandus, liar dan kejam terhadap manusia. Di lain pihak, manusia-manusia unggulan dikumpulkan di wilayah-wilayah yang masih subur dan layak huni tersebut. Wilayah tersebut dilindungi dengan teknologi terakhir, sebuah daerah dengan benteng tembok yang tinggi dan dijaga ketat dengan persenjataan mutakhir.
Tindakan yang tidak mengenal peri kemanusiaan ini tidak pernah tercatat dalam sejarah dunia baru. Rekam jejak terjadinya peristiwa itu menjadi sebuah barang tabu bagi mereka yang hidup dalam tembok-tembok perlindungan.
Sejarah ditulis oleh pemenang, tidak pernah ada yang menuliskan keburukannya sendiri dalam sejarah. Kisah kekejaman tentara Jepang selama perang dunia II tidaklah diajarkan pada siswa-siswanya. Demikian pula kisah kekejaman segelintir manusia yang mengambil keputusan untuk mengusir ratusan juta orang manusia ke daerah yang minim penunjang kehidupan inipun tidak pernah dibicarakan di dlaam tembok-tembok kota.
Entah berapa generasi telah berjalan sebelum kisah ini dimulai, yang pasti selama waktu itu berjalan ada beberapa kebijakan lagi yang telah diambil oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Salah satunya adalah dikumpulkannya manusia unggulan dari kelompok unggulan ini di satu tempat. Anak-anak dengan bakat dan potensi yang melebihi manusia lain, dikumpulkan untuk dibesarkan di satu kota tertentu. Sejak kecil mereka telah dididik dan dilatih untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka semaksimal mungkin. Mereka inilah yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin dunia yang baru itu.
Entah berapa generasi lewat, perlahan-lahan, sekelompok kecil manusia utama inipun keberadaannya tidak ubahnya sebagai dewa-dewa di muka bumi ini. Lama kelamaan, legenda akan kepahlawanan mereka hidup lebih lama dari mereka sendiri, sampai pada titik di mana mereka dipandang sebagai dewa-dewa yang hidup abadi.
Peristiwa di mana anak-anak kecil dikumpulkan untuk diperiksa genetikanya, menjadi satu upacara untuk menemukan dewa yang bereinkarnasi di antara manusia. Tidak ada dewa yang mati, yang ada hanyalah proses di mana dirinya terlahir kembali sebagai manusia biasa.
Di lain pihak, ratusan bahkan milyaran manusia yang terusir dari tempatnya dan dipaksa hidup di tempat yang tidak ramah pun, dengan cepat mengalami kepunahan. Namun di saat yang sama, alam bekerja dengan caranya sendiri. Dari seleksi alam yang terjadi, lahirlah manusia-manusia yang memiliki ketahanan melebihi manusia di generasi sebelumnya. Namun sifat mereka sudah jauh dari manusia, kejam, bahkan lebih kejam dari binatang yang paling liar. Karena tidak cukup penunjang hidup di luar sana, sehingga hanya mereka yang berdarah dingin saja yang sanggup bertahan hidup di alam yang liar itu. Hanya mereka yang memiliki kekerasan hati untuk mengorbankan sesamanya yang sanggup bertahan hidup. Hanya yang terkuat dari antara yang terkuat, yang terlicin dari yang paling licin yang bertahan. Jika pria dari kaum liar ini mewarisi fisik yang kuat dan wajah yang mengerikan, adalah kaum wanitanya mewarisi wajah yang cantik, tubuh yang menggairahkan dan kecerdikan yang sulit dicari tandingannya. Karena di antara para pria, hanya mereka yang terkuat, yang paling bengis dan paling mengerikan yang memiliki kemungkinan paling besar untuk bertahan hidup dan dari antara para wanita, hanya mereka yang cantik dan cerdik yang mampu bertahan hidup.
Beberapa generasi telah lewat, alam mulai menyembuhkan luka-lukanya, gerbang dari tembok-tembok yang tinggi mulai dibuka bagi penghuninya untuk mejelajah keluar. Di saat inilah manusia menemukan saudara jauhnya dalam rupa yang jauh berbeda.
Demikianlah di dunia yang baru, dari satu spesies yang sama yaitu manusia, telah lahir tiga kelompok yang berbeda-beda. Dewa, manusia dan iblis.
Sejarah masa lalu sudah lama dilupakan, entah apakah itu jutaan atau hanya ribuan tahun yang lalu, tidak seorangpun dapat menentukannya. Karena dimulai dengan dibangunnya tembok-tembok tinggi yang memisahkan manusia dengan manusia, sejarah baru pun dituliskan untuk membenarkan keputusan mereka yang membangunnya. Dalam beberapa generasi, bukan hanya sejarah yang ditulis ulang, bahkan agama yang barupun harus didirikan demi membenarkan keberadaan tembok-tembok tinggi tersebut. Pada satu titik, penanggalan pun harus dimulai dari tahun yang pertama. Dunia baru tahun pertama, yaitu pada masa dunia diperintah oleh Kaisar Agung Arjhun.
Kisah ini sendiri dimulai di hari dirayakannya tahun baru, tahun 2089 penanggalan dunia baru.
Pengarang | Han Meng |
---|---|
Tamat | Tidak |
HitCount | 2.513 |
Nilai total | ![]() |
Baca semua komentar (5)
Tulis Komentar
#1 | ![]() |
Han1977
9 Juli 2012 jam 3:13pm
 
Bosan nulis PAB, saya iseng mikir ide baru |
#2 | ![]() |
argana
9 Juli 2012 jam 3:22pm
 
Dengan segala hormat suhu. Menurut hemat saya tolong dselesaikan dl kisah PAB nya. Karena saya penggemar beratnya. Stlah itu suhu bs mbuat cerita lainya. Semangat suhu!!! Saya selalu pnasaran dg kisah PAB. |
#3 | ![]() |
Bondan
9 Juli 2012 jam 4:13pm
 
Wah menarik juga pembukaannya .... mengingatkan karya-karya komik dari Hongkong ... Bakalan muncul senjata-senjata sakti nih ??? |
#4 | ![]() |
Han1977
10 Juli 2012 jam 9:03am
 
@argana, siap boss ^-^, PAB masih ditulis, mungkin memang sebaiknya begitu cm butuh refreshing dari PAB dulu biar semangat lagi. @Bondan, belum tahu seperti apa ceritanya, juga ilmu2nya apa macam pendekar kungfu atau lebih ke jenis yang lain. Mungkin super MMA gitu. Baru sekedar berkhayal saja. |
#5 | ![]() |
indra64
21 Juli 2013 jam 10:28am
 
moga PAB dlanjutkan jangan nanggung gan. |