Home → Ulasan → Film → Warriors of Heaven and Earth
Mengikut jejak sukses Crouching Tiger Hidden Dragon, berderet film diproduksi dengan tema sepak terjang pendekar jaman kuno di dataran China. Tiga karakteristik dari film-film ini adalah: kepahlawanan, koreografi dan pemandangan.
Cerita Pembuka
Warriors of Heaven and Earth tidak lepas dari tiga syarat ini. Cerita dimulai dengan pertemuan garis hidup dua protagonis. Letnan Li (Jiang Wen) tidak mematuhi atasan yang memerintahkan pembunuhan tawanan dari Turki. Li membantah dan menyatakan bahwa prajurit tidak boleh membunuh rakyat sipil yang tak bersenjata. Upaya membebaskan tahanan berakhir dengan pemberontakan Li dan beberapa bawahannya.
Qi Lai (Nakai Kiichi) dikirim oleh Jepang untuk belajar di China, dari ilmu pedang sampe strategi perang. Setelah dua puluh lima tahun tinggal di kerajaan pusat sejak berumur tiga belas tahun, ia mendambakan pulang ke timur. Kaisar mengijinkan setelah ia menyelesaikan tugas terakhir, menangkap Letnan Li.
Perkembangan Cerita
Cerita dimulai dengan cliche berkembang menjadi cliche dan berakhir dengan cliche.
Ketika membaca synopsis, saya langsung tertarik dengan tema perselisihan dua pahlawan yang terperangkap oleh keadaan. Yang saya temukan berbeda sama sekali dengan bayangan dan harapan. Mungkin ditengah pembuatan film ada perubahan naskah, atau ketidakcocokan cerita, atau alasan lain yang kita mungkin tidak akan tahu.
Warriors of Heaven and Earth bukanlah cerita tentang konflik dua tokoh berpendirian mulia, mengikuti jalan berbeda, dan bertujuan sama.
Sejak awal, sejak Qi Lai memulai pemburuan ke Gobi Dessert, plot langsung berubah sama sekali. Qi Lai bergabung dengan Letnan Li melindungi caravan menuju ibukota. Sepanjang jalan mereka dikejar bandit yang yang dikirim oleh salah satu Khan, yang bukan berasal dari Mongol melainkan Turki (!), untuk merebut benda berharga.
Mungkin ada kesalahan terjemahan, tetap tentara khan dari turki menduduki salah satu kota China!
Karakter
Anggota caravan: Letnan Li, Qi Lai, empat bawahan setia Li, seorang prajurit Tang, pendeta (monk), Zhu Wen (Vicky Zhao) teman almarhum teman Qi Lai, mercenary tua dan mercenary belasan tahun.
Bandit: Master An sang pemimpinan, dua bawahan tangguh dan utusan khan.
Lima belas karakter yang harus diulas. Dengan jumlah sedemikian besar He Ping, maupun sutradara lainnya, bakalan kewalahan. Dan benar dalam film ini sang sutradara gagal total. Tidak satupun tokoh berkembang dengan baik.
Li dan Qi Lai mendapat perhatian khusus sebagai dua tokoh paling utama tapi inipun tidak cukup untuk menjalin perasaan dengan penonton. Sepanjang cerita hingga akhir, tidak sedetikpun saya kuatir atau peduli dengan apa yang akan terjadi pada mereka. Karakter yang lain tidak perlu disebut.
Kostum
Biasanya saya tidak terlalu cerewet dengan detil akan pakaian yang dipakai. Tetapi kostum dalam film ini benar-benar meleset jauh hingga memerlukan ulasan.
Bayangkan knight dari eropa tengah datang menengok China.
Helm yang dipakai jelas-jelas buatan eropa, lengkap dengan visor (pelindung mata yang dapat dibuka-tutup). Prajurit turki memakai helm Centurion romawi kuno, dengan plume (setengah lingkaran di atas helm). Armour yang mengikuti design eropa atau romawi.
Sebaiknya saya berhenti di sini sebelum menulis puluhan halaman tentang segala kejanggalan yang tampak.
Siapapun yang melakukan research untuk film ini sangat tidak kompeten dan hasilnya mengecewakan.
Pendapat
Kelebihan karya He Ping ini adalah pemandangan lokasi shooting dan koreografi. Pemandangan tidaklah sulit didapat mengingat luasnya China dan murahnya biaya pembuatan di sana.
Adegan koreografi dapat diacungi jempol. Tidak ada gerakan menari-nari yang mustahil seperti layaknya film atau series Wu Xia, yang indah dilihat tetapi tidak bertenaga. Jurus yang dipakai sederhana tetapi mematikan. Setiap langkah dan tebasan mengandung ancaman maut. Inilah bela diri militer (no bullshit).
Sayangnya segala sesuatu yang baik berakhir di sini.
Cerita tidak mengandung isi apalagi makna. Ratusan musuh menyerang dan terbunuh dengan mudah. Begitu mudah sampai saya bingung mengapa mereka harus lari? Sekali tebas sepuluh musuh mati.
Akhir cerita lebih mengecewakan lagi tapi sebaiknya tidak kita bahas di sini untuk menghindari spoilers.
Cocok bagi: penonton yang tidak suka berpikir dan mencari action saja.
Tidak cocok bagi: penonton yang mementingkan bobot cerita, perkembangan karakter dan plot yang baik.
Nilai | ![]() |
---|---|
Kategori | Film |
Negara | China |
Tahun | 2003 |
HitCount | 1.779 |