DEWA KIPAS vs PUTRI IRENE (Bagian Tiga)

HomeCerita PendekDEWA KIPAS vs PUTRI IRENE (Bagian Tiga)

Nurslamet
21 Maret 2021 jam 11:47am

"Dewa Kipas, apakah kamu bersedia bertanding dengan putriku?" tanya Sang Prabu.

"Hamba bersedia, Gusti...." sahut Dewa Kipas tanpa ragu. Dirinya sudah gerah dan ingin cepat-cepat pulang ke kampung halamannya. Kalah tidak jadi soal bagi dirinya karena level keahlian dirinya dengan Putri Irene bagai langit dan bumi. Jadi secara logika awam pantas dia kalah dari Sang Putri. Dewa Kipas juga siap dicemooh para hatersnya karena kemampuan nol berani bertanding dengan master. Pujian dan cacian akan tetap dia terima terlepas dari kalah atau menang. Jadi untuk apa dipikirkan. Keinginan Dewa Kipas saat ini adalah pulang ke kampung halamannya dan menjalani hari-harinya sebagai petani.

Beberapa jam kemudian arena pertandingan telah siap. Pertandingan dibagi kedalam empat sesi. Mencambuk, memotong atau membelah dan menombak. Semua itu dilakukan menggunakan selendang. Sesi terakhir adalah pertarungan atau duel antara Dewa Kipas dan Putri Irene. Senjata yang boleh mereka gunakan tentu saja hanya selendang.

Sesi pertama dimulai. Mencambuk. Putri Irene dan Dewa Kipas telah berdiri sejajar di arena. Jarak mereka hanya terpaut dua puluh meteran. Tangan mereka telah memegang selendang kuning sepanjang tiga meter. Di depan mereka tergantung masing-masing 10 apel dengan jarak berbeda. Apel yang tergantung diatur sedemikian rupa dengan jarak bervariasi. Apel terdekat jaraknya 4 meter dari mereka berdiri dan yang terjauh 20 meter. Tugas Putri Irene dan Dewa Kipas adalah mencambuk 10 apel dengan selendangnya hingga terlepas, jatuh atau hancur. Pemenang sesi pertama adalah yang terbanyak menjatuhkan atau menghancurkan apel dalam waktu semenit. Wasit yang ditugaskan Sang Prabu adalah ketua Dewan Juri. Sementara anggota Dewan Juri memantau dua peserta untuk memastikan pertandingan berjalan sportif dan tidak ada kecurangan.

"Siap. Bersedia..." kata ketua Dewan Juri sambil memegang stopwatch di tangan kiri dan peluit di tangan kanan.

"MULAI!!!"

Priiittt!!

Pluit ditiup, stopwatch ditekan. Pertandingan resmi dimulai. Dengan cekatan Putri Irene dan Dewa Kipas mengkibaskan selendang mereka. Ujung selendang mereka melesat menyambar apel pertama yang jaraknya 4 meter di depan mereka. Duar! Apel pertama hancur. Dengan kecepatan kilat Putri Irene dan Dewa Kipas menarik dan kembali melempar ujung selendang mereka. Duar! Apel kedua hancur. Duar! Duar! Duar! Apel ketiga, keempat dan kelima hancur dalam sekedip mata. Selendang yang panjangnya hanya 3 meter tapi di tangan Putri Irene dan Dewa Kipas terlihat memanjang dan bisa menjangkau jarak yang jauhnya beberapa kali lipat dari panjang selendang. Detik berikutnya lima ledakan membahana dan apel terjauh atau yang kesepuluh hancur dalam waktu bersamaan.

Priittt! Pluit ditiup panjang tanda pertandingan berakhir. Semua penonton terpana dan terkesima. Mereka tidak menyangka Dewa Kipas bisa mengimbangi skill Putri Irene yang telah ditempa 20 tahun. Stopwatch di tangan mereka mencatat Putri Irene dan Dewa Kipas berhasil menghancurkan sepuluh apel yang jaraknya bervariasi dalam waktu bersamaan. Mereka hanya perlu waktu 20 detik untuk menuntaskan pertandingan sesi pertama. Yang membuat penonton kagum selendang tiga meter bisa menjangkau jarak 20 meter tanpa si pemegangnya bergeser dari tempat berdirinya. Benar-benar skill dewa!

Sesi pertama berakhir draw atau seri. Suatu hal yang diluar prediksi karena mereka tidak mendengar sebelumnya bahwa Dewa Kipas master menggunakan selendang. Nama Dewa Kipas tidak mereka kenal sebelumnya. Jadi satu hal yang mengejutkan ketika skillnya setara dengan Putri Irene yang memang telah mereka kenal sebagai master selendang. Lantas yang menjadi pertanyaan dimana Dewa Kipas belajar selendang dan siapa gurunya.

Dewa Kipas yang bermain imbang dengan Putri Irene membuat hati Pangeran Ghotam kentar kentir. Dirinya tidak menyangka di balik tampang culunnya Dewa Kipas menyimpan skill level tinggi.

Bukan hanya Pangeran Ghotam yang resah, tetapi Putri Irene juga. Usai pertandingan keringat dingin membasahi peluhnya. Dirinya hampir mendapat malu di sesi pertama. Awalnya Putri Irene yakin dirinya akan menang telak. Dalam benaknya paling banyak Dewa Kipas bisa menjatuhkan apel hanya tiga. Jarak apel yang lebih jauh dari panjang selendang membuat apel pertama saja sudah diluar jangkauan ujung selendang. Sangat mustahil bagi orang awam bisa menjatuhkan apel pertama. Selain itu yang membuat Putri Irene pede adalah Nini Kedasih adalah satu-satunya ahli selendang di negerinya dan semua muridnya dia kenal. Dia adalah murid terbaik Nini Kedasih dan levelnya setara dengan gurunya. Jadi secara teori tidak akan ada yang bisa mengalahkan dirinya selain gurunya. Jangankan mengalahkannya, bermain imbangpun nyaris mustahil. Namun keyakinannya runtuh di sesi pertama. Dewa Kipas nyaris mengalahkannya. Secara mentalpun dirinya sudah malu karena bisa imbang dengan orang tidak dikenal yang tidak tercatat sebelumnya pernah menggunakan selendang sebagai senjata. Itu artinya latihan berat dan kegigihannya belajar selama 20 tahun lebih bisa diimbangi orang lain dalam waktu singkat. Entah metode apa yang digunakan Dewa Kipas dalam berlatih hingga bisa mengimbangi skillnya...
.
.
.

Pengarang Nur S
HitCount 167
Nilai total rating_0

Belum ada komentar

icon_add Tulis Komentar