Home → Cerita Pendek → Siapa Aku?
Aku terbangun dengan rasa sakit di kepala. Ku raba kepalaku. Berdarah! Bukan hanya di kepala tetapi aku juga merasakan sakit di sekujur tubuhku. Badan ini terasa remuk.
Ku coba mengingat-ingat apa yang terjadi pada diriku namun aneh memori di otakku seakan kosong. Tidak ada yang aku ingat.
Ku coba mengingat siapa diriku, asal-usulku. Dari mana diriku namun tak ada yang aku ingat. Bahkan namaku pun aku tidak ingat. Ya Tuhan, apakah aku mengalami amnesia?
Ku coba mengamati sekelilingku. Batu-batu besar terlihat dimana-mana namun jarak pandangku hanya beberapa meter saja. Pandanganku membentur kabut tebal. Udara terasa begitu dingin. Kalau aku tidak salah menganalisa, saat ini diriku berada di dasar jurang yang cukup dalam. Sejenak aku berpikir. Sepertinya aku terjatuh ke jurang dan hanya keajaiban yang membuat aku masih hidup.
Disaat aku sedang berpikir tiba-tiba aku melihat kalajengking hijau sebesar telunjuk orang dewasa keluar dari balik sebuah batu dan astaga, bukan cuma satu tetapi puluhan yang keluar.
Dengan tertatih-tatih aku mencoba menghindari puluhan kalajengking hijau yang terus bergerak seakan menggiringku. Karena jarak pandang yang hanya beberapa meter saja, aku tidak bisa melihat apa yang ada di depanku dan betapa terkejutnya aku ketika langkahku tiba di tepi sebuah telaga. Bagaimana mungkin di dasar jurang yang dalam ada telaga. Namun faktanya aku sudah ada di tepinya dan entah kebetulan atau tidak, aku melihat sebuah rakit dari tiga batang kayu besar yang diikat berdempetan. Tanpa pikir panjang, aku segera mendekati rakit dan naik. Dengan tenaga sisa, ku kayuh rakit dengan tanganku. Yang ada di benakku saat ini adalah keluar dari dasar jurang.
Rakit terus bergerak dan entah berapa lama aku mengayuh, rakit tiba di sebuah daratan. Kabut tebal masih menutupi pandanganku hingga aku tidak bisa melihat daratan lebih jauh. Namun entah mengapa kakiku bergerak turun dan melangkah naik ke daratan. Bila analisaku tidak salah, ini adalah pulau di tengah telaga.
Langkahku terhenti di depan sebuah gapura. Kabut tebal perlahan sirna. Kini di depanku berdiri dengan megahnya sebuah istana. Namun setelah aku amati, istana megah itu kosong. Dengan masih tertatih, aku memasuki halaman istana yang luas. Sepi. Tidak ada suara yang terdengar.
Langkahku tiba di depan istana. Pilar-pilar penyangga bangunan sangat kokoh. Yang membuatku tidak habis pikir, kemana para penghuninya. Di tempat sangat terpencil dan terisolasi dari dunia luar bisa membangun sebuah istana adalah hal luar biasa dan hampir tidak masuk akal. Namun faktanya istana ini berdiri dengan megahnya.
Aku memasuki istana yang masih terawat. Tidak ada tanda atau bekas-bekas peperangan. Semua masih dalam kondisi bagus dan terawat.
Istana ini banyak lorong, ruangan dan kamar-kamar. Di setiap pintu kamar tertera papan nama yang semuanya nama wanita.
Di depan sebuah kamar yang di pintunya tertera nama Padmasari, aku berhenti. Ada keinginan yang menyeruak ke dalam hatiku untuk memasuki kamar.
Dengan pelan, aku mendorong pintu kamar. Dan pintu kamar pun terbuka. Aneh, kenapa pintu kamarnya tidak dikunci?
Dengan langkah ragu aku memasuki kamar. Tempat tidur tertata rapi. Meja hias lengkap dengan cerminnya serta sebuah bangku tertata di sudut kamar.
Lemari pakaian di sebelah meja hias dan sebuah rak buku menghiasi kamar. Sepertinya penghuni kamar ini adalah wanita terpelajar dan sangat menyukai kebersihan terbukti dari koleksi buku-bukunya yang cukup banyak dan semuanya tertata rapi. Kamar ini juga sangat bersih dan harum. Sangat menyegarkan dan bikin betah untuk berlama-lama di dalam kamar.
Pandanganku tertuju pada sebuah buku jurnal yang tergeletak di atas meja hias. Tidak ada debu yang menempel dan terlihat buku jurnal itu belum lama tergeletak di sana.
Dengan agak gemetar aku meraihnya. Di sampul buku tertulis: Panji Asmara. Buku jurnal aku buka. Di halaman pertama terlukis seorang pria berpakaian bangsawan. Aku hendak membuka lembar berikutnya namun dahiku berkerut. Lukisan pria itu seakan tidak asing bagiku. Sekilas aku melirik cermin hias dan melihat bayanganku di cermin. Pandanganku kembali tertuju ke lukisan dan astaga... Lukisan itu mirip aku!
Sejenak aku berpikir. Apakah diriku bernama Panji Asmara? Lalu ku amati pakaianku. Bukan pakaian bangsawan. Pakaian yang aku pakai adalah pakaian rakyat jelata. Berarti aku bukan seorang bangsawan. Walau mirip, aku bukan pria yang ada di lukisan itu. Lalu, Siapa Aku?
TAMAT
Pengarang | Jetkul |
---|---|
HitCount | 104 |
Nilai total | ![]() |