Geger di Kudus

HomeCerita PendekGeger di Kudus

avatar Rayfardan
11 Oktober 2018 jam 5:06pm

- Bagian 2 -

Disepanjang perjalanan rombongan itu tak jarang menyempatkan untuk sekedar singgah di beberapa padukuhan yang dilintasinya. Dan para bebahu padukuhanpun dengan penuh kegembiraan melakukan penyambutan serta ucapan selamat datang kepada Kangjeng Adipati beserta rombongannya. Para bebahu maupun rakyat padukuhan itu merasa mendapatkan kanugrahan karena pemimpin tertingginya menyempatkan untuk sekedar singgah di padukuhannya walau hanya sejenak. Tak jarang padukuhan padukuhan itu telah melakukan penyambutan yang berlebihan kepada Adipati Hadiwijaya beserta rombongannya. Dan kesemuanya itu ternyata mampu memberikan kepuasan tersendiri bagi Adipati Hadiwijaya yang merasa disuyuti oleh para kawulanya.

Sementara itu, jauh dalam jarak beberapa ratus tonggak di depan barisan rombongan Adipati Pajang, beberapa kelompok prajurit sandi dari Pajang terus melakukan tugasnya sebagai kelompok yang bertugas membuka jalan serta melakukan pengamatan pada jalur yang akan dilalui oleh rombongan Adipati Pajang. Secara teratur prajurit sandi ini selalu memberikan laporan berjenjang pada kelompok yang lainya hingga akhirnya laporan ini akan sampai pada Ki Ageng Pemanahan.

Namun secara keseluruhan perjalanan dari rombongan Adipati Pajang ini tidaklah menjumpai sesuatu yang berarti.

Pun demikian setelah rombongan itu mulai meninggalkan tlatah yang sudah bukan dalam wilayah Kadipaten Pajang perjalanan tetap lancar dan hampir tidak ditemui hambatan sama sekali.

Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan yang panjang serta waktu yang panjang pula, rombongan Adipati Pajang itu telah memasuki wilayah Kudus. Setelah beberapa saat perjalanan dari Adipati Pajang itu mendekati kota Kudus, maka sesuai pada rencananya, rombongan itu telah berhenti diluar pintu gerbang kota Kudus. Rombongan itu memang merencanakan akan berhenti agak menjauh dari pintu gerbang kota Kudus dan akan mendirikan barak barak darurat bagi para prajurit Pajang maupun perkemahan sementara untuk peristirahatan Kangjeng Adipati Pajang.

Rombongan Adipati Pajang memutuskan untuk beristirahat dan menginap satu malam diluar kota Kudus sebelum esok harinya Adipati Pajang akan menghadap kepada Kangjeng Sunan Kudus.

Pada malam harinya, ketika para prajurit Pajang sedang beristirahan dibarak barak peristirahatan sementara, maka disebuah barak yang cukup besar tengah diadakan pertemuan terbatas yang dihadiri para pemimpin kelompok prajurit, senopati, dan lurah prajurit telik sandi. Pertemuan itu sendiri dipimpin langsung oleh Ki Ageng Pemanahan. Hadir pula dalam pertemuan itu adalah Ki Penjawi dan Menggung Wilamarta. Sedang Menggung Wuragil nampaknya sedang mengawani Kangjeng Adipati di barak khususnya.

"Ki Lurah Priambodo, sebelum aku mendengar laporan dari para pemimpin kelompok prajurit lainya, apakah yang akan kau sampaikan berkenaan dengan tugasmu", bertanya Ki Ageng Pemanahan kepada Ki Lurah Priyambodo yang merupakan lurah prajurit dari pasukan pengawal Adipati.
"Terima Kasih Ki Ageng. Hamba telah melakukan tugas dalam rangka pengamanan Kangjeng Adipati. Beberapa kelompok prajuritpun telah hamba perintahkan untuk melakukan perondaan secara terus menerus keseluruh sudut sudut perkemahan". Jawab lurah Priyambodo.

"Terima kasih Ki Lurah. Jangan kehilangan kewaspadaan", berkata Ki Ageng Pemanahan menanggapi laporan dari lurah prajurit Priyambodo. Dan selanjutnya tanpa menunggu tanggapan dari Ki Lurah Priyambodo, Ki Ageng Pemanahan meneruskan kata katanya.

"Dengarkanlah kalian semua yang hadir pada pertemuan kali ini. Beberapa saat yang lalu, aku telah mengirimkan utusan sebagai penghubung ke Dalem Kudusan untuk menyampaikan kabar bahwa saat ini Kangjeng Adipati Pajang telah hadir di kota Kudus, namun demikian Kangjeng Adipati Hadiwijaya memutuskan untuk beristirahat diluar kota Kudus”.
“Baru keesokan harinya Kangjeng Adipati akan menghadap Kepada Kangjeng Sunan Kudus. Dan utusan itu saat ini telah kembali dengan kabar bahwa pesan dari Kangjeng Adipati Hadiwijaya telah diterima dan besok Kangjeng Sunan Kudus berkenan untuk menerima Kangjeng Adipati Hadiwijaya".

Untuk sejenak Ki Ageng Pemanahan berhenti berkata namun tak lama kemudian Ki Ageng Pemanahan melanjutkan kata katanya.
"Hanya saja yang perlu kalian ketahui saat ini adalah, Kangjeng Adipati Hadiwijaya telah mengeluarkan perintahnya dan perintah ini memang mendadak dan diluar rencana”.
“Kangjeng Adipati telah membuat keputusannya agar besok yang memasuki kota Kudus hanya para prajurit khusus dari kesatuan pengawal Adipati serta satu kelompok prajurit terpilih dalam jumlah yang terbatas saja. Sementara itu prajurit yang tersisa, termasuk para prajurit berkuda akan tetap menunggu disini sampai Kangjeng Adipati selesai menghadap Kangjeng Sunan Kudus di dalem Kudusan".

Mendengar keterangan dari Ki Ageng Pemenahan itu, nampak semua yang hadir pada pertemuan itu menjadi terheran heran. Semua para pemimpin prajurit yang hadir pada pertemuan itu seolah olah mempunyai pertanyaan yang sama atas keputusan dari Adipati Hadiwijaya yang baru saja disampaikan oleh Ki Ageng Pemanahan. Namun demikian semua yang hadir di ruangan itu tak ada yang berani menanyakan keputusan dari junjungannya meskipun sebenarnya dikepala mereka bergulung berbagai pertanyaan pertanyaan.

Terlihat semua orang yang hadir diruangan itu menjadi terdiam sehingga untuk sekejap ruangan itu menjadi hening dan senyap.
Pun demikian dengan Ki Ageng Pemanahan, untuk sesaat Ki Ageng Pemanahan pun turut terdiam. Matanya menyapu kepada seluruh orang yang hadir diruangan itu. Satu per satu mata Ki Ageng Pemanahan memandang para pemimpin prajurit Pajang yang ada diruangan itu, seolah Ki Ageng Pemanahan ingin membaca dan melihat isi pikiran orang orang yang berada dihadapannya.

Dan nampaknya Ki Ageng Pemanahan dapat menangkap kesan yang ada dalam gejolak perasaan para prajuritnya karena Ki Ageng Pemanahan sendiri ternyata juga mempunyai perasaan yang sama dengan semua orang yang hadir diruangan tersebut menanggapi keputusan mendadak dari Kangjeng Adipati Hadiwijaya.

Dan untuk selanjutnya kata kata Ki Ageng Pemanahan memecahkan keheningan ruangan itu.
"Aku dapat menangkap kesan atas apa yang ada dalam hati dan pikiran kalian menanggapi keputusan dari junjungan kita. Akupun mempunyai perasaan seperti itu bahkan lebih risau dari apa yang ada dalam pikiran kalian semua. Bukankah kalian semua mengkhawatirkan keamanan dan keselamatan Kangjeng Adipati atas keputusan mendadak dari Kangjeng Adipati Hadiwijaya", berkata Ki Ageng Pemanahan dalam nada bertanya.

Dan salah seorang pemimpin kelompok prajurit Pajang dengan tegas menjawab.
"Demikianlah Ki Ageng, bagaimana kami tega melepaskan Kangjeng Adipati memasuki kota Kudus tanpa ada pengawalan yang secukupnya, sedang Ki Ageng sendiri tentu sudah melihat atau setidaknya telah mendapat laporan dari para prajurit sandi betapa para prajurit dari Djipang dan para sorengpati yang garang itu telah bertebaran dihampir seluruh penjuru tanah Kudus baik dalam gelar sandi maupun yang terang terangan menampakkan kelompoknya. Apalagi didalam kota Kudus, tentu para prajurit Djipang telah tersebar rata dan pacak baris pendem memenuhi tiap jengkal didalam kota Kudus. Apakah dengan demikian dapat disamakan bahwa Kangjeng Adipati besok akan masuk ke dalam wuwu karena telah Kinepung Wakul Binaya Mangap. Sedang kami sendiri diluar kota Kudus hanya bisa terdiam dan menunggu junjungan kami dirajam oleh para sorengpati".

Mendengar kata kata dari salah seorang dari kawannya itu, semua pemimpin kelompok prajurit yang hadir diruangan itu mengangguk angguk seolah membenarkan pernyataan seperti itu karena perasaan merekapun sama dengan apa yang disampaikan oleh kawanya tersebut.

Sementara itu Ki Ageng Pemanahan merasakan getaran halus pada perasaannya mendengar kekhawatiran dari para bawahannya, ungkapan kekhawatiran yang menjadi gambaran akan kesetiaan dari para prajurit Pajang kepada pemimpinnya, Kangjeng Adipati Hadiwijaya.

Ki Ageng Pemanahan memang dapat mengerti sikap dan kesetiaan para prajurit Pajang itu karena timbul atas besarnya pesona kewibawaan dan kharisma yang seolah memancar dari dalam diri sahabatnya yang saat ini menjadi junjungannya dan berkuasa di Kadipaten Pajang. Dan pesona serta pancaran kewibawaan itulah yang menjadi salah satu keberhasilan sahabatnya membangun kadipaten Pajang menjadi sebuah wilayah yang terus berkembang pesat.

Sebagai seorang pemimpin di sebuah wilayah Kadipaten yang terus semakin membesar, sahabatnya yang dimasa pengembaraannya lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir ataupun juga Mas Karebet itu begitu disuyuti oleh para kawulanya diseluruh pelosok Pajang.

Sambil menarik nafas panjang Ki Ageng Pemanahan membuka kata katanya untuk menanggapi kegelisahan dari prajuritnya.
"Aku dan pemimpin Pajang yang lain sebenarnya juga memlikki perasaan yang sama dengan kalian karena sejak semula aku sendirilah yang telah mengusulkan pengawalan prajurit segelar sepapan untuk mengiringi kunjungan Kangjeng Adipati ke Kudus saat ini. Dan ketika itu Kangjeng Adipati menyetujuinya serta memerintahkan kepadaku untuk memimpin langsung dalam pengawalan dan pengamanan Kangjeng Adipati selama dalam perjalanan dari Pajang menuju Kudus ataupun juga sebaliknya. Akulah yang paling bertanggung jawab atas keselamatan Kangjeng Adipati sehingga dalam keadaan seperti ini akupun merasakan kekhawatiran dan kecemasan atas keselamatan Kangjeng Adipati”.

“Dalam persoalan ini, Aku mempertaruhkan jabatanku bahkan hidupku demi keselamatan junjungan kita. Tak ada yang mencemaskan keselamatan Kangjeng Adipati melebihi kecemasanku, bukan karena aku takut kehilangan kepercayaan ataupun jabatan yang telah diberikan Kangjeng Adipati kepadaku, namun justru karena aku telah menerima tanggung jawab atas keselamatan Kangjeng Adipati sehingga aku harus melaksanakan tanggung jawab itu sampai batas umurku".

Untuk sesaat Ki Ageng Pemanahan berhenti berkata. Dihirupnya dalam dalam udara malam yang basah seolah Ki Ageng Pemanhan ingin memenuhi rongga dadanya dengan udara yang segar. Ditatanya perasaannya untuk mengendapkan gejolak perasaanya atas perkembangan keadaan yang telah mengkhawatirkannya.

Terdengar kemudian salah seorang dari pemimpin prajurit diruangan itu bertanya kepada Ki Ageng Pemanahan.
"Maaf Ki Ageng, apakah tidak lebih baik Ki Ageng berusaha memberikan masukkan kepada Kangjeng Adipati Hadiwijaya atas perkembangan keadaan yang ada di dalam kota Kudus saat ini agar Kangjeng Adipati bersedia merubah keputusannya".

Pendapat salah seorang pemimpin prajurit itu nampaknya telah disetujui pula oleh seorang lurah dari prajurit sandi. Sambil menggeser letak duduknya, terdengar lurah prajurit sandi itu berkata.

"Kami menyetujui usulan itu Ki Ageng. Hal ini kami dasari atas laporan terakhir dari prajurit kami dilapangan yang selalu terus melakukan pengamatan dan mengumpulkan informasi, dan nampaknya perkembangan keadaan di lapangan tidak sejalan dengan Keputusan Kangjeng Adipati Hadiwijaya berkaitan dengan keamanan Kangjeng Adipati sendiri".

Ki Ageng Pemanahan mengangguk angguk mendengarkan beberapa usulan dari prajuritnya itu dan Ki Ageng Pemanahan menjawab.
"Aku telah memberikan masukan dan usulan kepada Kangjeng Adipati, tetapi Kangjeng Adipati tetap pada keputusannya bahwa besok kangjeng Adipati akan memasuki kota Kudus dengan pengawalan sangat terbatas".

Mendengar penjelasan Ki Ageng Pemanahan itu, nampak terlihat wajah wajah yang menyiratkan kekecewan bercampur kecemasan dari para prajurit Pajang yang hadir diruangan itu. Dan Ki Ageng Pemanahan dapat menangkap kesan kecemasan dari prajuritnya, sehingga Ki Ageng Pemanahan perlu memberikan penjelasan kepada para pemimpin prajurit Pajang.

"Aku mengerti perasaan kalian, namun akupun dapat memahami sepenuhnya keputusan Kangjeng Adipati dalam persoalan ini”, berkata Ki Ageng Pemanahan dengan nada yang berat.
“Ketahuilah, Kangjeng Adipati memutuskan langkah ini karena Kangjeng Adipati Hadiwajaya tidak ingin dianggap deksura dan seolah telah meninggalkan suba sita dan tata krama karena telah membawa prajurit segelar sepapan memasuki Dalem Kudusan. Sedang kedatangan Kangjeng Adipati Pajang ke Kudus sendiri adalah untuk memenuhi dan menghormati undangan yang telah disampaikan oleh Kangjeng Sunan Kudus. Dan Undangan Kangjeng Sunan Kudus sendiri adalah undangan dalam pesan damai serta bermaksud meredakan keadaan saat ini yang berkembang semakin tak terkendali sehingga Kangjeng Sunan Kudus berkenan mengundang Kangjeng Adipati Hadiwijaya, bahkan Kangjeng Sunan Kuduspun telah mengundang Kangjeng Adipati Arya Penangsang karena Kangjeng Sunan Kudus berkeinginan untuk mempertautkan kembali hubungan yang mulai retak diantara kedua pemimpin itu atas terjadinya beberapa peristiwa kesalah pahaman yang telah memicu timbulnya ketegangan ketegangan diantara Kangjeng Adipati Hadiwijaya dengan Kangjeng Adipati Arya Penangsang".

Ki Ageng Pemanahan berhenti sejenak, namun setelah membetulkan letak duduknya Ki Ageng Pemanahan melanjutkan kata katanya kembali.

"Kangjeng Adipati merasa tidak pantas kalau harus masuk Dalem Kudusan dengan diiringi oleh prajurit dalam gelar yang lengkap yang mengesankan seolah olah di dalem Kudusan tidak aman. Selebihnya Kangjeng Adipati Hadiwijaya telah mempercayakan keselamatannya kepada Kangjeng Sunan Kudus. Tidak akan ada yang berani melakukan sesuatu yang berlebihan di Dalem Kudusan tanpa perkenan dari Kangjeng Sunan Kudus, dan Kangjeng Adipati Hadiwijaya mempercayai itu dengan sepenuhnya. Kangjeng Adipati Hadiwijaya sangat menaruh hormat dan ta'lim kepada Kangjeng Sunan Kudus karena bagaimanapun juga dimasa mudanya Kangjeng Adipati Hadiwijaya pernah menjadi murid dari Kangjeng Sunan Kudus".

Mendengar keterangan dari Ki Ageng Pemanahan itu, semua yang hadir diruangan itu nampak kurang puas. Mereka menganggap bahwa keselamatan junjungannya adalah persoalan utama yang harus mereka perjuangkan. Mereka tak mengingkari bahkan mempercayai sepenuhnya akan jaminan keamanan yang telah diberikan oleh Kangjeng Sunan Kudus kepada Kangjeng Adipati Pajang, namun mereka tetap saja mengkhawatirkan sikap dari Kangjeng Adipati Djipang, Arya Penangsang yang seolah menjadi lepas kendali serta dengan mudahnya melepaskan begitu saja para prajurit sorengnya yang nggegirisi untuk menebarkan rajapati.

Namun apapun kekecewaan serta ketidak puasan para pemimpin prajurit pajang itu tetap saja mereka harus mematuhi dan menjalankan sebaik baiknya apa yang telah menjadi keputusan junjungannya.

Disisi lain Ki Ageng Pemanahan pun melihat kekecewaan serta ketidak puasan dari para prajuritnya, namun Ki Ageng Pemanahan adalah orang yang telah mapan dan penuh pengalaman kehidupan, sehingga Ki Ageng harus mampu mengendalikan prajuritnya sekaligus Ki Ageng harus mampu merubah persiapan persiapan dalam rangka pengawalan dan pengaman Adipati Hadiwijaya.

Ki Ageng Pemanahan harus mampu memaksimalkan keterbatasan prajurit yang akan menjadi pengiring Kangjeng Adipati Hadiwijaya esok hari. Dan Ki Ageng Pemanahan harus bergerak cepat mengatur strategi baru untuk menanggulangi segala keadaan yang mungkin terjadi. Dari sinilah nampak terlihat kematangan, kecakapan dan kecepatan gerak Ki Ageng Pemanahan sebagai Panglima dari pasukan Pajang dalam menanggapi keadaan yang selalu berubah dengan cepat.

bersambung...

Pengarang S. Panuntun (Alsinisi)
HitCount 56
Nilai total rating_5

Belum ada komentar

icon_add Tulis Komentar