Home → Cerita Pendek → Geger di Kudus
- Bagian 6 -
Mendengar kata kata dari Ki Patih Mantahun itu, Tohpati hanya terdiam saja walau nampak wajahnya yang menyiratkan ketidak puasan, namun Tohpati tidak berani membantah lebih lanjiut perkataan dari Patih Kadipaten Djipang yang sekaliguas adalah gurunya.
Sementara itu Pangeran Arya Mataram pun ternyata sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Ki Patih Mantahun.
"Adi Macan Kepatihan, aku sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Pamanda Patih Mantahun. Aku meyakini bahwa kakanda Adipati Hadiwijaya tidak sedang dalam mempersiapkan penyerangan ke pasukan Djipang. Tentu ada pertimbangan pertimbangan lain yang membuat Kakanda Adipati Hadiwijaya hadir di Kudus dengan diiringi oleh pasukan segelar sepapan. Aku masih percaya bahwa Kakanda Adipati Hadiwijaya sangat menaruh hormat kepada Bapa Sunan Kudus sehingga Kakanda Adipati Hadiwijaya tentu tidak ingin mengotori kota Kudus dengan pertikaian apalagi peperangan".
Dan tiba tiba saja terdengar suara dari Sanakeling dengan gemuruhnya.
"Mohon maaf Pangeran barangkali hamba telah lancang, hamba telah mengamati hampir di seluruh sudut sudut kota Kudus, dan hamba tidak bisa ditipu oleh para telik sandi dari Pajang yang tersebar melakukan pengamatan. Didepan pintu gerbang kota Kudus saat ini, pasukan Pajang dalam jumlah segelar sepapan telah bersiap untuk sewaktu waktu menggilas Djipang. Hamba menjadi muak oleh kesombongan para prajurit Pajang itu, mereka menganggap seolah olah hanya merekalah yang mampu berbuat apa saja tanpa ada yang bisa mencegahnya".
Mendengar kata kata Sanakeling itu, Pangeran Arya Mataram menanggapinya dengan tenang.
"Sanakeling yang garang, jangan berlebihan dalam menanggapi keadaan agar kau tidak menjadi kehilangan penalaran. Bukankah para prajurit Pajang tidak melakukan pergerakan apapun. Prajurit Pajang yang segelar sepapan itu justru hanya terdiam dibaraknya. Bukankah dalam laporanmu kau telah menempatkan para prajuritmu disekeliling barak para prajurit Pajang itu berada, sehingga pergerakan sekecil apapun dari para prajurit Pajang itu tak akan lepas dari pengamatan prajuritmu".
"Demikianlah Pangeran, hamba telah menempatkan prajurit khusus untuk mengepung kedudukan prajurit Pajang meskipun dalam jarak yang sangat longgar". Jawab Sanakeling singkat.
"Nah, apakah ada laporan dari prajuritmu bahwa pasukan Pajang itu melakukan pergerakan yang mencurigakan atau bahkan persiapan untuk melakukan penyerangan". Bertanya Pangeran Arya Mataram kepada Sanakeling.
"Memang tidak ada pergerakan apapun dari pasukan Pajang itu Pangeran".
"Lantas apa yang mendasari pendapatmu kalau pasukan Pajang itu akan melakukan perang melawan Djipang atau bahkan melawan siapapun".
"Ampun Pangeran, apakah Pangeran tidak tersinggung atas kehadiran sepasukan prajurit dari Pajang dalam jumlah segelar sepapan serta memasuki kota Kudus sedang kota Kudus bukanlah wewengkon dari Pajang".
"Kenapa aku harus tersinggung. Aku bukanlah pemimpin di Kudusâ€.
Untuk sejenak, Pangeran Arya Mataram itu menghentikan kata katanya. Matanya terlihat menatap tajam ke arah Sanakeling. Dan untuk selanjutnya terdengar Pangeran Arya Mataram itu melanjutkan perkataannya.
“Sanakeling.., kalau kau mempersoalkan kehadiran prajurit Pajang yang saat ini berada di Kudus, lantas apa pendapatmu tentang para prajurit Djipang yang saat inipun telah membanjiri kota Kudus. Apakah Aku juga harus merasa tersinggung karenanya, Selebihnya Sanakeling, prajurit Pajang saat ini ada di Kudus karena mengiringi pemimpinnya, demikian pula aku, kamu, Pamanda Mantahun dan seluruh prajurit Djipang yang hadir di Kudus juga untuk mengiringi pemimpinnya. Dan pemimpin Kadipaten Pajang yaitu Kakanda Adipati Hadiwijaya dengan pemimpin dari Djipang Kakangmas Arya Penangsang hadir di Kudus atas undangan dari Bapa Sunan Kudus".
Nampak Sanakeling terdiam mendengar keterangan dari Pangeran Arya Mataram. Namun ada sesuatu yang rasanya masih bergejolak didalam dada Sanakeling, dan Pangeran Arya Mataram ternyata mengetahui bahwa Sanakeling masih menyimpan sesuatu didalam dadanya, sehingga Pangeran Arya Mataram itu berkata dalam nada bertanya.
"Sanakeling..., apakah masih ada yang mengganjal didalam hatimu atau barangkali masih ada yang ingin kau katakan".
Sesaat Sanakeling masih terdiam. Namun tak lama kemudian Sanakeling itu menghela nafasnya dalam dalam sambil berkata.
"Ampun Pangeran dan ampun Gusti Patih, perkenankan hamba menyampaikan pendapat. Dan hamba meyakini bahwa pendapat hamba nampaknya mewakili sebagian besar kawan kawan Kami, bahkan pendapat hamba ini pernah hamba sampaikan kepada Raden Tohpati, dan Raden Tohpati nampaknya tidak berkeberatan dengan pendapat hamba meskipun juga tidak menyetujuinya".
Mendengar kata kata dari Sanakeling itu nampak Ki Patih Mantahun mengerutkan dahinya, pun demikian juga dengan Pangeran Arya Mataram nampak tidak bisa menutupi keingin tahuannya.
Lalu Ki Patih Mantahun pun menjawab.
"Apa pendapatmu Sanakeling. Nampaknya kau menjadi sangat bersungguh sungguh dengan pendapatmu itu"
Terlihat Sanakeling menghelas nafas panjang sambil berusaha menata perasaannya agar apa yang ingin disampaikannya tidak menjadi tumpang suh karena pemilihan kata katanya yang kurang tepat.
Dengan nada yang penuh getaran terdengar Sanakeling berkata.
"Gusti Patih, kenapa kita tidak menyerang saja kedudukan pasukan Pajang. Hamba meyakini pasukan Djipang saat ini mampu menghancurkan pasukan Pajang yang sombong itu".
Mendengar kata kata Sanakeling tersebut nampak Ki Patih Mantahun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Demikian pula Pangeran Arya Mataram yang tampak menjadi tegang pada wajahnya oleh desakan gejolak perasaanya. Sementara itu Ki Sumangkar yang selama ini hanya terdiam, tiba tiba saja tanpa disadarinya telah beringsut mendekat.
Untuk sesaat ruangan itu telah menjadi hening. Semua yang berada didalam ruangan itu telah menjadi terdiam. Hanya desah desah nafas yang dalam yang sesekali terdengar. Desah nafas yang menyiratkan akan ketegangan suasana yang telah menyelimuti ruangan itu.
Ki Patih Mantahun sendiri memang tidak bisa menutupi keterkejutannya dan kecemasannya mendengar keterangan dari Sanakeling, namun demikian Ki Patih Mantahun masih mencoba menahan perasaannya. Kematangan sikap serta pengalaman kehidupannya yang lengkap dan mapan ternyata telah membuat Ki Mantahun mampu mengendalikan tanggapannya serta mampu untuk bersikap dengan pikiran yang bening dan mengendap dalam menanggapi pendapat dari Sanakeling tersebut.
"Tohpati..", tiba tiba saja Ki Patih Mantahun justru berkata kepada muridnya itu.
"Apakah kau memang sependapat dengan apa yang dikatakan Sanakeling itu".
Dengan berdesis lirih Tohpati menjawab.
"Ampun guru, Aku memang tidak bisa mengabaikan begitu saja pendapat dari Sanakeling itu, karena aku dapat melihat dan merasakan bahwa pendapat dari Sanakeling itu nampaknya mewakili sikap dan perasaan dari para prajuit Djipangâ€.
“Jawab saja pertanyaanku Tohpatiâ€, berkata Ki Patih Mantahun memotong keterangan dari Tohpati.
“Maksudku guru, Aku sependapat dengan apa yang telah disampaikan oleh Sanakeling, Kenapa Djipang tidak sekalian saja menghancurkan Pajang saat ini. Pasukan Pajang yang segelar sepapan itu tidak sekuat dugaan kita selama ini. Djipang akan mampu melumatkan pasukan Pajang itu dalam perang gelar ataupun perang brubuh".
Sambil mengangguk angguk, Ki Patih Mantahun mengedarkan pandangannya pada para pemimpin prajurit Djipang yang ada diruangan itu. Dan Patih Mantahun memang menjadi berdebar debar hatinya. Patih Mantahun dapat menangkap kesan bahwa ternyata banyak para pemimpin prajurit Djipang yang sependapat dengan Tohpati maupun Sanakeling untuk melakukan penyerangan ke pasukan Pajang. Dan hal yang demikianlah yang nampaknya telah membuat hati Ki Mantahun telah menjadi berdebar debar.
Beberapa saat kemudian terlihat Ki Patih Mantahun kembali terdiam. Tanpa disadarinya Pepatih tua dari Kadipaten Djipang yang kawentar karena memilikki kesaktian yang seolah tiada bandingnya itu telah menyapukan pandangannya ke seluruh orang orang yang hadir didalam ruangan itu.
Untuk sesaat Ki Patih Mantahun nampaknya telah tenggelam dalam angannya.
"Prajurit Djipang memang mempunyai kesetiaan yang luar biasa pada angger Adipati Arya Djipangâ€, desis Ki Mantahun didalam hatinya.
“Saboyo urip saboyo pati. Mereka semua bersedia melakukan apa saja untuk mendukung gegayuhan pepundennya. Tapi aku harus dapat mencegah apa yang menjadi pemikiran Tohpati dan Sanakeling. Kangjeng Sunan Kudus akan menjadi marah kalau Aku tidak bisa mengendalikan prajurit Djipang. Di Kudus tidak boleh ada kegaduhan apalagi pertikaian", berkata Ki Patih Mantahun didalam hatinya.
Lalu Ki Patih Mantahun itu berkata kepada muridnya yang masih muda itu.
"Ngger..Tohpati, Sanakeling dan juga para pemimpin prajurit Djipang semuanya, aku bangga melihat kesetiaan kalian pada pemimpinmu juga kesetiaan kalian pada Bumi Djipangâ€.
“Tapi kendalikan dirimu. Tidak ada perang antara Pajang dan Djipang saat ini. Justru di Kudus inilah akan diselenggarkan pertemuan silaturahmi dengan suasana yang damai diantara pemimpin Pajang dan Pemimpin Djipang. Bersyukurlah karena Kangjeng Sunan Kudus telah berkenan untuk menjembatani kerenggangan hubungan yang mulai merekah antara Angger Adipati Arya Penangsang dengan Anakmas Adipati Hadiwijayaâ€.
“Aku menekankan dengan bersungguh sungguh pesanku ini kepada kalian semua. Dan berhentilah pada titik itu cara berpikir kalian dalam menanggapi keberadaan kita di Kudus saat ini. Janganlah kalian berangan angan atau bahkan menghitung kekuatan Pajang karena ada niatan dari kalian untuk melakukan penyerangan".
Semua terdiam mendengar keterangan dari Patih Mantahun. Tohpati dan Sanakeling terlihat menundukkan kepalanya. Nampak jelas kekecewaan terpancar dari raut wajah keduanya. Kedua Senopati Djipang itu nampak berusaha mencerna kata kata dari Patih Mantahun, namun tetap saja ada sesuatu yang tidak pas dengan apa yang ada didalam pikiranya. Terlebih lebih Tohpati, nampak begitu jelas ada sesuatu yang seolah menghimpit dadanya, namun Tohpati tak mampu untuk menumpahkan apa yang telah bergejolak didalam dadanya yang seolah akan meledak begitu saja.
Dan nampaknya Ki Patih Mantahun melihat gejolak ketidak puasan serta kegelisahan dari muridnya itu.
"Anak itu mempunyai sifat dan watak yang sama dengan kakak seperguruannya. Angger Adipati Djipang pun seringkali berbuat tanpa pengendalian diri karena sifatnya yang keras hati", berkata Ki Patih Mantahun didalam hatinya.
Lalu kepada muridnya itu, Ki Patih Mantahun berkata dalam nada penuh kesarehan.
"Ngger Tohpati.., kalau masih ada yang mengganjal didalam hatimu sampaikan saja dalam pertemuan ini. Jangan kau menjadi tersiksa karenanyaâ€.
"Guru, aku mohon maaf sebelumnya. Aku memahami apa yang telah guru sampaikan dan akupun akan mematuhi segala perintah dan keputusan dari Pemimpin tertinggi Djipangâ€.
Sambil menghela nafas dengan dalam Tohpati melanjutkan kata katanya,
“Namun aku menjadi bingung setelah menilai rangkaian peristiwa demi peritiwa yang selama ini telah terjadi. Peristiwa yang dimulai sejak kemelut menggelayuti Demak. Lantas apa artinya peristiwa terbunuhnya Sunan Prawoto dan juga terbunuhnya Pangeran Kalinyamat yang disusul dengan hilangnya Kangjeng Ratu Ratna Kencana. Dan yang terakhir apa artinya pula peristiwa percobaan rajapati atas Adipati Pajang yang gagal itu. Apakah peristiwa peristiwa itu semua tidak mempunyai arti sama sekali dan menjadi sia sia begitu saja justru disaat sekarang ini Adipati Pajang itu telah berada dihadapan kita. Apakah kita saat ini hanya akan bersikap diam tanpa berbuat apapun sama sekali".
Kata kata dari Tohpati yang tajam itu nampaknya merupakan gambaran dari sikap keras kepalanya. Namun perkataan itu pulalah yang justru telah membuat ketegangan semakin memuncak di antara orang orang yang hadir di tempat itu, karena sesaat setelah Tohpati berhenti berkata kata terlihat Pangeran Arya Mataram telah beringsut maju.
bersambung...
Pengarang | S. Panuntun (Alsinisi) |
---|---|
HitCount | 68 |
Nilai total | ![]() |