Home → Cerita Pendek → Geger di Kudus
- Bagian 9 -
Demikianlah akhirnya diiringi oleh para pemimpin Kadipaten Pajang serta sekelompok pengawal terpilih, Adipati Pajang itu telah meninggalkan perkemahannya untuk memasuki kota Kudus dan menuju ke Dalem Kudusan.
Perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat pendek sehingga tak seberapa lama kemudian Adipati Pajang itu telah sampai didepan regol dalem Kudusan. Terlihat sekelompok kecil utusan dari Kangjeng Sunan Kudus yang mengiringi perjalanan Adipati Hadiwijaya itu telah mendahului memasuki dalem Kudusan untuk mengabarkan bahwa Kangjeng Adipati Pajang beserta pengiringnya telah memasuki halaman dalem Kudusan.
Sementara itu nampak di pendapa bangunan induk telah hadir dan menunggu kedatangan tamu dari Kadipaten Pajang adalah Adipati Djipang sendiri, Arya Penangsang yang didampingi oleh para pemimpin Kadipaten Djipang. Nampak diantaranya adalah Patih Kadipaten Djipang, Ki Mantahun, Macan Kepatihan, Tumenggung Wanakerti, Tumenggung Jalak Putih dan beberapa Senopati kadipaten Djipang lainya.
Ketika terlihat iring iringan dari Adipati Pajang itu telah mulai memasuki halaman dalam, maka tiba tiba saja Adipati Arya Penangsang itu telah bergegas turun dari Pendapa dan bergegas menyambut kahadiran dari Adipati Hadiwijaya.
"Selamat datang di Kudus Adimas Hadiwijaya. Marilah...aku persilahkan Adimas naik ke Pendapa", berkata Adipati Arya Penangsang itu sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Adipati Pajang itu.
Iring iringan itu untuk sejenak justru terhenti didepan pendapa, sementara Adipati Pajang telah membalas sambutan dari Adipati Arya Penangsang itu dengan penuh keakraban pula.
"Terima Kasih Kakangmas Adipati. Senang rasanya bisa berkunjung ke kota Kudus", jawab Adipati Hadiwijaya sambil memeluk hangat kepada Adipati Arya Penangsang itu.
"Bagaimana perjalanan Adimas Adipati. Tentu perjalanan dari Pajang ke Kudus terasa begitu jauhnya dan tentu terasa melelahkan". Berkata Adipati Djipang.
"Demikianlah Kakangmas, namun aku merasa senang bisa hadir di Kudus saat ini karena aku memang telah lama tidak pernah sowan dihadapan Kangjeng Sunan Kudus", jawab Adipati Hadiwijaya dengan penuh kehangatan.
"Bapa Sunan Kudus sebenarnya memang telah lama mengharap kehadiran dari Adimas, nampaknya Bapa Sunan Kudus telah merindukan Adimas", berkata Adipati Arya Penangsang sambil tertawa lepas.
Dan ketika Adipati Hadiwijaya ingin berkata untuk menanggapi gurauan dari Adipati Arya Penangsang itu, tiba tiba Adipati Djipang telah mendahului dengan kata katanya.
"Ohhh..., maafkan aku Adimas. Marilah... Marilah Kita naik ke pendapa dahulu. Biarlah kita akan bisa bercerita banyak hal sambil lenggahan dipendapa".
Kemudian dengan penuh keakraban nampak Adipati Arya Penangsang itu membimbing Adipati Pajang untuk menaiki pendapa dalem Kudusan.
Sementara itu para prajurit pengiring dari Adipati Pajang telah terbagi menjadi dua kelompok. Sekelompok kecil telah ikut naik ke pendapa bersama para pemimpin Kadipaten Pajang lainya. Sedang sisanya telah diarahkan untuk berada pada tempat yang nampaknya memang telah dipersiapkan untuk pengiring dari Adipati Pajang.
Setelah Adipati Hadiwijaya itu naik ke pendapa, tiba tiba saja tanpa sesadarnya Adipati Pajang itu nampak tertegun sehingga gerak langkahnya seolah menjadi terhenti sesaat. Dan peristiwa yang sesaat itu ternyata telah ditangkap oleh panggraita dari Ki Ageng Pemanahan juga Ki Penjawi yang memang berada persis di belakang Adipati Hadiwijaya.
Dengan gerak yang halus dan luput dari pengamatan orang orang yang ada di pendapa itu, Ki Ageng Pemanahan menggamit Ki Penjawi namun tidak sepatah katapun terlontar dari bibir Ki Ageng Pemanahan. Ki Penjawi tanggap akan isyarat dari Ki Ageng Pemanahan, sehingga tanpa saling berjanji kedua sahabat Adipati Pajang itu telah beringsut semakin mendekati Adipati Hadiwijaya.
Sementara itu, Adipati Hadiwijaya yang telah berada dipendapa ternyata pikiran dan perasaannya telah diganggu oleh kegelisahan hatinya yang tidak segera dapat dicari penyebabnya. Dengan panggraitanya yang tajam Adipati Hadiwijaya mencoba untuk mengurai apa yang telah menggelisahkan hatinya. Dan ternyata Adipati Hadiwijaya tidak segera dapat mengenali isyarat isyarat yang telah ditangkap dengan mata batinnya. Kegelisahan Adipati Hadiwijaya itu ternyata mampu ditangkap oleh Ki Ageng Pemanahan sehingga Ki Ageng Pemanahan berdesis perlahan kepada Adipati Hadiwijaya yang bearada persis didepanya.
"Hamba dan Adi Penjawi selalu bersama dengan Kangjeng Adipati dalam keadaan yang bagaimanapun juga".
Mendengar desis perlahan dari Ki Ageng Pemanahan itu, tiba tiba saja Adipati Hadiwijaya menarik nafasnya dalam dalam dan terasa seolah olah dadanya telah menjadi longgar. Adipati Hadiwijaya merasakan dadanya menjadi lapang serta merasakan sebuah getaran lembut dan sejuk terasa mengaliri seluruh tubuhnya.
Rangkaiaan dan rentetan peristiwa itu terjadi hanya dalam waktu yang sekejap saja sehingga semua orang yang berada di Pendapa itu tidak mengetahui atas apa yang telah bergejolak didalam dada para pemimpin dari Pajang tersebut.
Sementara itu, Adipati Arya Penangsang dengan penuh keramahan telah mempersilahkan Adipati Hadiwijaya beserta dengan pengiringnya untuk menempati tempat yang telah disediakan.
Pendapa dalem Kudusan yang dipakai untuk acara pisowanan itu memang luas dan tertata dengan rapinya serta nampak begitu bersih. Sementara di pendapa itu sendiri telah tersediakan tiga buah kursi yang nampaknya memang akan diperuntukan sebagai palenggahan bagi Kangjeng Sunan Kudus, Adipati Arya Penangsang dan juga Adipati Pajang.
Ketiga kursi itu nampak begitu anggunnya. Bahannya yang terbuat dari kayu jati pilihan dengan sunggingannya yang halus memberikan kesan akan keindahan dan kemegahan dari ke tiga kursi tersebut. Secara kasat mata hampir tidak ada yang berbeda dari ujud ketiga kursi itu sendiri. Ketiganya adalah kursi yang begitu kuat dan indah baik bentuk maupun sungginganya.
Dan ketika Adipati Hadiwijaya beserta para pemimpin Pajang lainnya telah berada ditengah Pendapa, tiba tiba saja, tanpa dikehendakinya langkah kaki Adipati Hadiwijaya seolah menjadi terhenti mendadak. Jantung Adipati Hadiwijaya berdegup kencang sehingga perasaannya menjadi berdebar debar.
Dan seolah telah dituntun oleh ketajaman panggraitannya maka pandangan mata Adipati Hadiwijaya itu tiba tiba telah menatap tajam pada ke tiga kursi yang berada ditengah ruangan pendapa pisowanan. Adipati Hadiwijaya menjadi semakin berdebar dadanya ketika mata hatinya melihat sesuatu yang terasa tidak sewajarnya telah menyelimuti salah satu dari ketiga Kursi tersebut.
Sesaat..., dan memang demikianalah hanya dalam waktu yang sesaat dan singkat, Adipati Pajang itu telah memejamkan mata wadagnya dan disaat yang bersamaan Adipati Pajang itu juga telah menajamkan mata hatinya untuk mencoba mengenali dan mengurai apa yang telah menyelimuti kursi itu. Dan dalam keadaan seperti itulah, panggraita dari Adipati Hadiwijaya telah menangkap sebuah pesan melalui getaran sebuah aji pameling yang dikirimkan oleh sahabatnya, Ki Ageng Pemanahan.
"Kangjeng Adipati, panggraita hamba menangkap sesuatu yang tidak sewajarnya telah menyelimuti kursi itu", dan pesan yang sangat singkat itu sudah lebih dari cukup bagi Adipati Pajang untuk dapat menguraikan panggraitanya.
Sementara itu, Adipati Arya Penangsang pun nampak menjadi heran ketika melihat langkah Adipati Hadiwijaya yang tiba tiba telah terhenti seolah menyiratkan sesuatu. Dan sesuatu itu memang belum dipahaminya. Sehingga Adipati Djipang itu berkata.
"Marilah Adimas Adipati, silahkan.., kenapa Adimas menjadi ragu. Apakah ada sesuatu yang telah mengganggu perasaan Adimas Adipati", berkata Adipati Arya Penangsang.
"Demikianlah Kakangmas, tiba tiba hatiku menjadi berdebar debar".
Jawab Adipati Pajang itu singkat untuk mencoba menutupi getar didalam hatinya.
Mendengar jawaban dari Adipati Hadiwijaya itu nampak untuk sekejap wajah Adipati Djipang itu menegang. Dan ketegangan pada wajah Adipati Djipang itu ternyata mampu ditangkap oleh mata wadag Adipati Hadiwijaya juga Ki Ageng Pemanahan.
"Ooo...., benarkah apa yang Adimas katakan itu. Lantas kenapa Adimas menjadi berdebar debar", bertanya Adipati Djipang itu.
"Kakangmas Adipati, sejak kakiku mulai menapaki tangga pendapa dalem Kudusan ini, tiba tiba hatiku memang menjadi berdebar debar. Anganku seolah telah terbang dan terbawa pada masa masa beberapa tahun yang lalu, saat saat dimana ketika itu aku masih muda dan akupun masih mengingatnya betapa seringnya aku duduk disudut pendapa ini berhadapan langsung dengan Kangjeng Sunan Kudus untuk mendengarkan segala petunjuk, nasehat juga tuntunan serta pesan pesan kehidupan dari Kangjeng Sunan Kudus. Dan ternyata kesemuanya itu telah mampu memberikan bekal yang sangat berguna bagi diriku". Berkata Adipati Hadiwijaya untuk menutupi apa yang sebenarnya telah Ia rasakan dan Ia ketahui berdasarkan pada panggraitanya.
Sambil mengangguk angguk dengan nafas lega, Adipati Arya Penangsang itu berkata untuk menanggapi perkataan dari Adipati Hadiwijaya.
"Ya Adimas, Bapa Sunan memang seorang yang winasis. Segala nasehat dan petunjuknya ternyata mampu memberikan tuntunan kepada kita semua dan tentu saja itu semua mampu menjadi bekal yang berguna bagi kita dalam menapaki kehidupan".
Dan untuk selanjutnya, Adipati Djipang itu telah kembali mempersilahkan Adipati Hadiwijaya beserta para pemimpin Pajang lainya.
"Nah...sekarang marilah aku persilahkan Adimas Adipati untuk lenggah agar kita bisa saling bercerita banyak hal dengan nyaman. Aku sudah menjadi tidak sabar ingin mendengar cerita keberhasilan Adimas Adipati dalam membangun Pajang".
Untuk selanjutnya terlihat Adipati Arya Penangsang itu telah membimbing dan mengarahkan Adipati Hadiwijaya menuju ke salah satu kursi yang berada di pendapa itu dan mempersilahkan kepada Adipati Hadiwijaya untuk menempatinya.
Dan yang telah membuat hati Adipati Hadiwijaya kembali menjadi gelisah adalah ternyata Adipati Arya Penangsang itu telah mempersilahkan dirinya untuk menempati salah satu kursi yang menurut panggraitanya merupakan kursi yang menyimpan sesuatu yang tidak sewajarnya. Meskipun Adipati Hadiwijaya tidak begitu saja berprasangka buruk terhadap keberadaan dari kursi itu, karena dirinya memang belum mengetahui dengan pasti akan sesuatu hal yang menyelimuti kursi itu, namun dorongan perasaan dan ketajaman naluri yang dimilikkinya seolah olah telah memperingatkan Adipati Hadiwijaya agar tidak duduk di kursi itu.
"Monggo Adimas.... silahkan Adimas Adipati lenggah", kembali berkata Adipati Djipang yang telah membuyarkan angan dari Adipati Hadiwijaya.
Adipati Hadiwijaya yang telah mengetahui akan adanya ketidak wajaran pada kursi tersebut justru menjadi bingung menemukan cara untuk menolak menempati kursi itu tanpa ada kesan curiga dari Adipati Djipang atas penolakannya itu.
Dan Demikianlah sebuah rahasia kehidupan telah terjadi dimana manusia seolah tak mampu mengurainya. Demikian pula pada saat itu, rahasia kehidupan itu seolah telah ikut mentukan perjalanan hidup seorang manusia.
Adipati Hadiwijaya yang sesaat menjadi bingung untuk mencari alasan dalam menolak menduduki kursi tersebut, tiba tiba saja telah menemukan jawaban.
"Terima kasih Kakangmas. Tetapi biarlah aku duduk dikursi yang disebelah sini saja. Aku ingin duduk dikursi ini karena kebetulan sekali kursi ini menghadap ke halaman samping pendapa yang tampak asri dengan beraneka macam pepohonan dan bunganya. Aku ingin menyegarkan pikiranku dengan menikmati suburnya tanaman tanaman yang hijau dan bunga bunga nan indah itu".
Dan memang demikianlah keadaanya. Ketiga kursi yang ada dipendapa itu letaknya berada dalam posisi dua kursi yang saling berhadapan yang dibatasi oleh sebuah meja ukir, sedang satu kursi lagi yang nampaknya diperuntukkan untuk Kangjeng Sunan Kudus posisinya ada ditengah dan berada disisi panjang meja dengan posisi menghadap ke arah depan halaman Pendapa.
Sedang dua kursi yang letaknya berhadapan itu, satu kursi dalam posisi menghadap ke arah halaman samping pendapa yang terbuka bebas, sedang satu kursi satunya lagi menghadap ke arah samping lainnya dari pendapa dalem Kudusan namun pada sisi pendapa itu terdapat dinding yang menjadi pembatas antara bangunan pendapa dengan bangunan lain yang ada dilingkungan dalem Kudusan. Dan kursi yang menghadap ke arah dinding itulah yang ternyata merupakan sebuah kursi yang menyimpan ketidak wajaran menurut panggraita Adipati Hadiwijaya.
Mendengar jawaban dari Adipati Hadiwijaya itu, untuk sekajap Adipati Djipang justru terdiam seolah ada yang sedang dipikirkanya. Namun kemudian terdengar Adipati Djipang itu berkata.
"Aahhh, Adimas Adipati. Biarlah nanti saja Adimas dapat menikmati keasrian lingkungan dalem Kudusan ini. Biarlah nanti cantrik Kangjeng Sunan Kudus mengantarkan Adimas menikmati keasrian dari lingkungan dalem Kudusan ini sepuasnya, tentunya setelah acara ini selesai. Marilah Adimas silahkan duduk".
Berkata Adipati Djipang yang tetap saja berusaha untuk mempersilahkan Adipati Hadiwijaya duduk di kursi yang diinginkanya.
Mendengar desakan dari Adipati Arya Penangsang itu Adipati Hadiwijaya telah menjadi benar benar semakin curiga. Dan oleh sebab itulah Adipati Hadiwijaya semakin menjadi yakin bahwa peristiwa peristiwa yang telah dialaminya sebelumnya merupakan satu rangkaian peristiwa yang memang diarahkan kepada dirinya meskipun Adipati Hadiwijaya belum bisa menduga secara keseluruhannya maksud sebenarnya dari kesemuanya itu.
"Nampaknya Kakangmas Penangsang benar benar telah merencanakan semua ini. Permainan apakah yang ingin dipamerkan oleh Kakangmas Penangsang dengan semua rencananya ini. Aku harus berhati hati karenanya", berkata Adipati Hadiwijaya didalam hatinya.
"Biarlah Kakangmas. Biarlah aku duduk di sebelah sini saja. Apakah Kakangmas menjadi berkeberatan bila aku memilih duduk di kursi yang ini", berkata Adipati Pajang itu dengan nada yang mulai agak menahan perasaannya.
"Tentu tidak Adimas, aku tentu tidak berkeberatan dimanapun Adimas ingin duduk. Aku hanya ingin menghargai Adimas sebagai tamu, sehingga aku memerlukan menyambut Adimas dengan sebaiknya dengan mempersilahkan Adimas lenggah pada tempat yang aku anggap layak bagi Adimas sebagai pemimpin dari Kadipaten Pajang. Terkecuali Adimas telah mulai dihinggapi oleh perasaan curiga kepadaku dengan alasan yang tidak aku mengerti", jawab Adipati Djipang yang nampak nadanya suaranya mulai menegang.
"Jangan hiraukan kedudukanku Kakangmas. Apalagi kalau hanya dikaitkan pada persoalan tempat duduk. Dimanapun aku duduk tentu tidak menjadi persoalan bagiku, dan aku rasa Kakangmas mengetahui itu. Akupun tidak berkeberatan duduk dikursi yang manapun bila Kakangmas memang memaksaku. Bagiku tidak ada bedanya dikursi manapun aku memilih untuk duduk".
Jawaban dari Adipati Pajang itu begitu tajam dan seolah mampu menusuk langsung pada harga diri Adipati Arya Penangsang yang dikenal akan wataknya yang keras dan sering kehilangan pengekangan dirinya. Dan memang nampaknya Adipati Hadiwijaya ingin menyentuh harga diri dari Adipati Arya Penangsang dengan jawabanya itu.
Dan mendengar perkataan dari Adipati Pajang itu nampak untuk sekejap wajah dari Adipati Arya Penangsang memerah menahan gejolak perasaannya. Dadanya telah menjadi sesak oleh kemarahannya yang tertahan. Namun Adipati Djipang itu tetap berusaha untuk menahan diri sesuai pesan pesan yang telah diterimanya.
Sambil berusaha menyembunyikan perasaannya yang seolah akan meledakkan dadanya, Adipati Djipang itu berkata dengan nada yang tertahan.
"Adimas Adipati, tentu aku tidak akan memaksa Adimas Adipati untuk menempati kursi itu. Mungkin perasaan Adimas telah dikuasai oleh kecurigaan yang berlebihan kepadaku sehingga Adimas menjadi ketakutan untuk duduk di kursi itu".
"Kakangmas Adipati, sudah aku katakan bahwa aku tidak mempersoalkan dimanapun aku duduk, dan kalau Kakangmas Adipati sendiri telah menjadi cemas serta berkecil hati untuk menempati kursi itu, biarlah Aku saja yang akan duduk dikursi itu", berkata Adipati Hadiwijaya dengan nada yang datar namun terkesan ada nada menyindir pada kata katanya itu.
Rona merah benar benar telah membakar wajah Adipati Djipang itu. Giginya gemeratak menahan kemarahaannya yang seolah ingin diluapkanya.
"Adimas, janganlah berkata seperti itu seolah Adimas tidak mengenalku sama sekali. Bagiku kursi itu adalah benda mati yang tidak akan mampu berbuat apa apa kepadaku. Lantas kenapa aku harus cemas apalagi takut duduk kursi itu. Tak setitikpun ada perasaan cemas dalam hatiku untuk duduk dikursi itu". Sambil mengucapkan kata katanya, Adipati Djipang yang mulai kehilangan pengamatan dirinya karena gejolak amarahnya yang telah menguasai penalarannya, tiba tiba telah mendekat dan langsung duduk di kursi yang sejak semula sebenarnya telah direncanakan untuk ditempati oleh Adipati Hadiwijaya.
"Nah Adimas....,marilah sekarang Adimas duduk dimanapun yang Adimas pilih.
Biarlah aku yang duduk di kursi yang nampaknya telah Adimas curigai bahwa kursi ini menyimpan sesuatu yang bagiku adalah tidak masuk akal sama sekali"
setelah Adipati Djipang itu duduk maka Adipati Pajang itupun duduk di kursi yang berada dihadapan Adipati Arya Penangsang sambil menjawab singkat.
"Terima kasih Kakangmas Adipati".
Dan demikianlah kejadiannya, permulaan pertemuan dari kedua pemimpin itu ternyata telah diwarnai oleh ketegangan ketegangan yang terasa mampu mendebarkan bagi siapapun yang menyaksikan perisiwa diatas pendapa itu. Dan ketegangan ketegangan itu merupakan satu gambaran bahwa sebenarnya memang telah ada bara dalam sekam yang menghangatkan hubungan dari kedua pemimpin kadipaten yang kawentar itu.
Meskipun ketegangan itu tidak terus berlanjut, namun setidaknya peristiwa awal itu telah memberikan satu isyarat kepada para pengiring kedua Adipati itu untuk lebih mempersiapkan dirinya menghadapi kemungkinan kemungkinan yang paling buruk sekalipun.
Sejenak kemudian para pengiring dari rombongan Adipati Pajang telah duduk pula diatas tikar yang memang telah dipersiapkan bagi rombongan dari Adipati Hadiwijaya. Pengiring dan para pemimpin Kadipaten Pajang terlihat duduk dengan rapi dan berada dibelakang tempat duduk Adipati Pajang Hadiwijaya.
Demikian pula para pemimpin Djipang beserta para pengiring Adipati Djipang juga telah beringsut dan mengambil tempat dibelakang Adipati Djipang, Arya Penangsang.
Sejenak kemudian pendapa itu seolah menjadi hening. Nampak Adipati Djipang berusaha menata perasaannya.
"Persetan dengan Karebet itu. Ingin rasanya aku mencabik cabik kesombongannya. Sikapnya nyaris membuatku kehilangan kendali. Dan ternyata aku telah terpancing karenanya sehingga aku telah melalaikan pesan yang seharusnya aku laksanakan. Bahkan aku telah melanggar pesan itu sendiri", desis Adipati Djipang itu didalam hatinya. Sebersit penyesalan seolah telah dirasakanya. Sebuah penyesalan atas kelalaiannya dalam melaksanakan sebuah pesan. Tapi semua telah terjadi dan kesalahan itu selalu terjadi karena sifat dan wataknya yang terlalu mudah kehilangan kendali sehingga penalarannya seringkali menjadi kabur dikalahkan oleh perasaannya yang meledak ledak.
Adipati Pajang sendiri nampak mulai bisa mengendapkan perasaannya atas peristiwa yang baru saja terjadi. Bagaimanapun Ia harus mampu bersikap dengan mapan berkaitan dengan kahadirannya di Kudus. Walau ada setitik kecil disudut hatinya dalam menduga pihak pihak yang telah merencanakan ini semua, namun Adipati Hadiwijaya itu tidak ingin melihat lebih jauh kebenaran atas dugaanya tersebut. Apalagi Adipati Hadiwijaya itu memang belum bisa mengetahui maksud sebenarnya dari peristiwa peristiwa yang dialaminya sejak Ia berada di Kudus.
Selebihnya Adipati Hadiwijaya itu memang masih menaruh hormat pada Kangjeng Sunan kudus sehingga Ia tidak ingin kedatangannya ke Kudus justru akan menambah suasana menjadi keruh apalagi kalau sampai terjadi perselisihan antara dirinya dengan Adipati Arya Penangsang di Kudus.
Dan dibelakangnya nampak Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi menarik nafas lega setelah ketegangan yang baru saja terjadi ternyata tidak berlanjut ke arah kesalah pahaman yang mungkin saja dapat mengakibatkan terjadinya perselisihan yang hanya akan mengotori dalem Kudusan. Namun Ki Ageng Pemanahan masih menyimpan kecemasan di dalam hatinya sejalan dengan panggraitanya yang mengisyaratkan bahwa masih ada peristiwa peristiwa yang mungkin akan benar benar membuat dalem Kudusan menjadi gaduh oleh pertengkaran antara Adipati Djipang dengan Adipati Pajang.
Namun Ki Ageng Pemanahan tetap berdoa semoga apa yang Ia cemaskan tidaklah menjadi kenyataan seperti dugaanya walau Ki Ageng Pemanahan sendiri tidak meyakininya.
bersambung.....
Pengarang | S. Panuntun (Alsinisi) |
---|---|
HitCount | 172 |
Nilai total | ![]() |
Baca semua komentar (2)
Tulis Komentar
#1 | ![]() |
Nurslamet
14 Oktober 2018 jam 4:22pm
 
Cerita yang seru dan asyik, Suhu. Tetapi kalau boleh berpendapat, bukan di cerita pendek, tetapi di bacaan. (Mengenai cara memindahkannya bisa dibaca pada forum atau bertanya pada para suhu senior) |
#2 | ![]() |
Rayfardan
14 Oktober 2018 jam 7:56pm
 
Terima kasih komentarnya. |