Post 64 dari 66 dalam Alien Vairus Coronama Adventure (1)
Home → Forum → Komentar Cerita Pendek → Alien Vairus Coronama Adventure (1) → Post-91615
#64 | ![]() |
Nurslamet
19 Juli 2020 jam 9:53am
 
Alien Vairus Coronama Adventure (27) "Apa yang kalian lakukan?" tanya Meyqian Zheng dengan tatapan dingin pada Meymei dan Edison. Seribu perasaan campur aduk di hatinya. Senang karena Meymei dan Edison masih dalam keadaan sehat wal afiat. Cemas karena mereka datang bukan pada saat yang tepat. Kehadiran Meymei dan Edison tentu saja menjadi beban bagi Meyqian karena ilmu mereka jauh di bawah Master Bayangan. Itu berarti Meyqian harus melindungi mereka dari kelicikan Master Bayangan. Bisa dibayangkan betapa repotnya bertarung sambil melindungi dua orang. Konsentrasi pasti terpecah dan tidak bisa fokus yang bisa berakibat fatal bagi dirinya. "Bunda, izinkan ananda dan Edison serta teman-teman ananda membantu Bunda. Ananda tidak rela Bunda terluka atau celaka. Kita hadapi bersama orang itu," kata Meymei yang membuat Meyqian terharu. "Menang atau kalah nomor 17. Yang penting kami akan bertarung sampai titik darah penghabisan. Bukan begitu teman-teman?!" sambung Al bak seorang leader sambil mengacungkan tinjunya. "Ya...!" koor empat teman Al. Meyqian Zheng berpaling ke Al. Sejenak ditatapnya Al. Alis Meyqian Zheng naik. Bocah itu tidak cidera sedikitpun. Satu hal yang luar biasa anak remaja seusia Al bisa bertahan dari pukulannya. Lima puluh persen dari kekuatannya seharusnya lebih dari cukup untuk membunuh Al atau paling tidak membuatnya mengalami luka dalam atau cidera parah. Namun apa yang dilihatnya hampir tidak bisa dipercayainya. Al sehat wal afiat. Tidak kurang satu apapun. Tergores pun tidak. Bahkan pakaiannya tidak berubah. Tidak ada gosong atau hangus. Robek pun tidak. Padahal 50% dari kekuatannya bila dipukulkan ke batu maka batu itu seketika akan hancur lebur menjadi tepung dan akan hilang tertiup angin tanpa bekas. Bila batu saja bisa hancur, apalagi tubuh Al yang terlihat biasa-biasa saja. Tapi faktanya bocah itu bisa menahan setengah dari kekuatannya tanpa cidera. Fakta itu menunjukan kalau Al bukan remaja biasa. Memikirkan hal itu dan Al terlihat berpihak padanya, Meyqian sedikit lega. "Bila itu tekad kalian, silakan. Tapi hati-hati dan waspada. Lawan yang akan kalian hadapi tokoh tua yang sangat sakti. Dia bernama Master Bayangan," kata Meyqian mengambil keputusan untuk memberi kesempatan pada generasi muda untuk bertarung dengan lawan yang ilmunya lebih tinggi. Semoga dengan cara itu mereka menyadari bahwa ilmu kesaktian yang mereka miliki baru seujung kuku bila dibandingkan dengan para tokoh sakti dunia persilatan lainnya. "Yeehhh...!" koor lima remaja serempak. Mereka seperti anak kecil yang minta izin untuk bermain pada mamanya dan sang mama memberinya izin. Kata 'yeehhh' adalah ekspresi ungkapan kegembiraan mereka. Plok! Plok! Plok! Terdengar suara tepuk tangan. Semua menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata yang barusan bertepuk tangan adalah Master Bayangan. "Hebat. Hebat...!" kata Master Bayangan. Entah memuji atau mengejek. Tidak ada yang tahu selain dirinya. "Keluarga besar yang kompak. Sayang, hari ini riwayat kalian akan tamat!" lanjut Master Bayangan dengan intonasi meninggi ketika mengucapkan kata 'akan tamat'. "Tuan Masker yang terhormat," kata Al sambil maju selangkah. "Master bro, bukan masker..." ralat Edi. "Iya, maksud aku begitu," sahut Al sambil merapikan rambutnya kemudian melanjutkan pidatonya. "Anda boleh saja berkata hari ini riwayat kami akan tamat. Itu masuk akal. Tetapi apakah anda tahu bahwa di dunia ini berlaku hukum anomali kehidupan. Apa yang menurut akal akan terjadi, berdasar data yang diterima, tetapi bisa saja melenceng atau bertolak belakang dengan apa yang terjadi. Anda terlalu meremehkan kekuatan sebuah tim. Bila satu lawan satu kami pasti kalah, tetapi bila kami berlima bergabung dan bekerja sama bahu membahu melawan anda, maka peluang kami untuk menang menjadi fifty-fifty. Sekarang, mari kita lihat siapa yang akan tamat," kata Al dengan gaya seorang orator ulung. "Anak muda, sudah selesai pidatonya?" ejek Master Bayangan. Al menoleh ke Edi. "Aku sudah belum bro pidatonya?" "Sudah aja..." sahut Edi. Al kembali menghadap Master Bayangan. "Sudah. Sekarang kita memasuki sesi pertarungan," kata Al sambil mundur kembali ke tempatnya. "Teman-teman, dengarkan aku. Edi dan Lie Na serang dari samping kiri. Edison dan Meymei dari kanan. Aku dari depan. Gunakan kecepatan penuh dan level tertinggi kalian. Kesempatan kita hanya sekali. Bila Master Bayangan lolos, kita dalam bahaya karena dia akan menyerang balik. Go!" kata Al sambil duluan melesat menyerang Master Bayangan dari depan diikuti Edi dan Lie Na menyerang dari samping kiri sementara Edison dan Meymei dari samping kanan. |