Home → Forums → Komentar Artikel → Beberapa Catatan atas Cersil “Bu-kek Kang Sin-kang” Karya Kkabeh
Comments for Beberapa Catatan atas Cersil “Bu-kek Kang Sin-kang” Karya Kkabeh
| #1 |
suryakage
18 August 2007 at 5:39pm
 
Saya juga salah satu penggemar cerita silat karya Gu Long(GL). Sejak tahun 82 ketika berusia 10 tahun, ketika saya pertama sekali membaca cerita silat karya Kho Ping Ho (KPH) secara tidak sengaja, praktis saya tergila-gila dengan cerita silat karya KPH. Saat usia saya menginjak 12 tahun, saya berkenalan dengan karya-karya Jin Yong (JY) seperti Balada Kaum Kelana, Pendekar Kerajaan Tayli, dan lain-lain. Karya KPH yng sebelumnya begitu saya gemari, tiba-tiba menjadi "hambar dan datar" dibandingkan kualitas karya JY yang sangat mengagumkan dari sisi keragaman isi dan kualitas ceritanya. Cinta saya beralih kepada karya JY, yang memang layak dikagumi karena kemampuan JY yang luar biasa dalam merangkai awal dan ending cerita yang sangat piawai, diselingi dengan "badan cerita" yang sangat imajinatif dan kaya dengan kejadian-kejadian "ajaib" yang sebetulnya masuk akal dan tidak terlalu dipaksakan dari sisi rasionalitas pembaca. Secara umum, karya JY memang layak dimasukkan sebagai cerita silat klasik, yang kadang kala disisipi pesan patriotisme dan sejarah yang menarik, plus kebanyakan ceritanya diisi dengan adanya interaksi yang intens antara tokoh-tokoh dunia persilatan dan dunia pemerintahan (yang diwakili kaisar, panglima perang, putri kaisar, ibu suri, kaum kasim/kebiri, dayang istana, dan lain-lain). Dan sekitar usia 14 tahun, saya pertama kali bersentuhan dengan karya GL berjudul Pendekar Baja. Sejak halaman pertama, saya langsung merasakan nuasan khas gaya tulis GL yang memang unik dan sangat berbeda dari pakem pengarang silat lain seperti JY, KPH, Liang Ie Shien, S.D. Liong dan lain-lain. Dialog yang menarik, tokoh-tokohnya yang misterius, jalan cerita yang kadang tanpa ujung pangkal, kedalaman GL dalam memberikan konteks "pesan kebaikan" yang dibaurkan dengan dialog dan jalan cerita yang khas, benar-benar membius saya habis-habisan. Karya-karya GL, memang ada juga yang terkesan "ancur-ancuran", seperti Golok Bulan sabit, Peristiwa Bulu merak, dan lain-lain. Tapi di sisi lain, ada karya-karya GL yang menurut saya merupakan puncak karya silatnya yang tiada tara, seperti Pendekar Budiman, Harimau Kumala Putih, Pendekar Riang, Pendekar Binal (walaupun endingnya menurut saya sangat belepotan), Pendekar 4 Alis, Pendekar Harum dan lain-lain. JY dan GL, mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jalan cerita justru terasa menarik, karena memang keduanya mempunyai karakter dan pendekatan yang berbeda dalam membuat cerita silat. Dan seperti dalam dunia manapun di dalam strategi marketing, keunikan adalah "value" yang dibawa oleh individu yang menjadikannya menonjol dan berbeda. JY sangat piawai menelurkan kejutan-kejutan yang rasional, merangkai setiap kejadian sepanjang cerita, untuk membentuk ending yang lebih smooth dan "natural" alias tidak terkesan dipaksakan. Sebaliknya GL, sangat piawai dalam dialog-dialog yang kuat, tokoh yang sangat kontras, penjabaran terhadap pendekatan ilmu silat yang sangat berbeda dibandingkan dengan karya JY, namun sangat kedodoran ketika harus melakukan ending dari suatu cerita yang sebetulnya sudah sangat menarik. Jika JY mampu membuat "puas" pembaca yang menginginkan ending yang indah, sebaliknya GL justru cendrung melakukan pendekatan terhadap ending yang lebih tragis dan meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab oleh pembaca. Untuk sebagian pembaca, ending model GL ini mengurangi kepuasan membaca. Tapi di sisi lain, dengan sekuel atau lanjutan ceritanya, GL meninggalkan "lubang menganga" yang, uniknya, akan menjadi bahan pertanyaan menarik di benak pembaca setianya pada cerita-cerita GL yang lainnya. Misalkan, apa hubungan Sim Long (pendekar baja) dengan Li Sun hoan (pendekar budiman). Atau hubungan antara Yap Kay dengan Si Sun Hoan atau pun hubungan antara A Fei dengan Sim Long/Pek Fifi. "Ketidak-aturan" pakem yang digunakan GL inilah, yang menjadikan karyanya sangat khas. Ada selentingan bahwa GL justru sangat produktif menulis saat berada dalam keadaaan "mabuk", mengingat GL adalah pencandu alkohol yang termasuk akut. Kondisi antara sadar dan tidak itu, memunculkan karya-karya yang "antara teratur dan tidak teratur".. sehingga konsistensi kualitas karya GL menjadi kelemahan utamanya dibandingkan JY yang secara lebih konsisten mengeluarkan cerita-cerita yang mempunyai pakem yang mirip-mirip satu sama lain. KKabeh, yang juga merupakan penggemar berat GL, mencoba melakukan kompromi kelemahan pakem ala GL dengan mencoba mengkombinasikannya dengan kekuatan-kekuatan antara GL dan JY. Secara umum, saya menganggap Kkabeh cukup berhasil melakukan hal itu dalam karya perdananya "Bu-kek kang Sinkang". Tapi yang bisa saya amati adalah, kutipan-kutipan dan modifikasi-modifikasi minor terhadap dialog-dialog yang pernah ada dalam karya GL, sehingga akhirnya menimbulkan kesan Kkabeh "terlalu memaksakan" menjadikan karya ini 80% ala GL. Pemilihan nama tokoh-tokoh yang diambil dari karya-karya pengarang lain, menurut saya merupakan kelemahan terbesar cerita silatnya. Yang harusnya ditonjolkan adalah justru style menulis khas Kkabeh dengan menciptakan dialog-dialog natural ala Kkhabeh sendiri. Tingkat kompleksitas cerita, jenis cerita yang berbau silat-detektif, adalah hal yang wajar dipelajari baik dari GL maupun JY. Namun penerapan secara mentah-mentah model dialog dan nama tokoh-tokoh dari cerita lain khususnya karya GL, menunjukkan ketidak-percaya-dirian dari Kkabeh dalam menelurkan cerita sesuai dengan stylenya yang khas. Dan menurut saya, ini hal yang sangat prinsipil yg harus dibenahi oleh Kkabeh pada lanjutan serial silat "Bu-kek kang sinkang" ini. |
|
| #2 |
iwangudy
19 August 2007 at 6:56pm
 
yang penting seru,enak dibaca hehehehehe.namanya juga cersil klo yang serius sih bukan cersil hehehehehe.Bravo buat Khabeh aku suka banget bacanya |
|
| #3 |
tembuyun
7 November 2007 at 4:00pm
 
Novel silat karya Khu Lung memang mengasyikkan dan penuh dengan intrik misterius. Sayangnya, penyelesaian cerita biasanya kedodoran. baik yang diselesaikan sendiri oleh Khu Lung ataupun orang lain. malah banyak akhir cerita yang kesannya dipaksakan. Semoga KKabeh bisa menanggulangi kelemahan khu Lung ini dengan memasukkan gaya pengakhiran Chin yung. |
|
| #4 |
asepso
12 November 2007 at 11:18pm
 
Terus terang saya kurang setuju jika ending novel2 khu lung dikatakan kedodoran. ending pada novel Si Pisau Terbang, misalnya, sangat bagus. setiap tokoh mendapat balasan yang setimpal atas perbuatannya. ShangGuan JinHong yang tidak percaya adagium "pisau terbang si Li, sekali timpuk tak pernah meleset", akhirnya celaka oleh ketidakpercayaanya itu. begitu pula nasib si pelacur paling cantik sedunia, Lim Sian-ji, yang ditolak cintanya oleh Ah Fei, menurut saya sangat brilian. |
|
| #5 |
mulyanarachim
31 March 2009 at 5:20pm
 
Sangat setuju sekali, karya ini sangat menghibur tak ada kata yang tepat selain lanjutkan segera luncurkan hardcopynya dan kalau sudah di mana saya mendapatkannya. |
|
| #6 |
andyaw
4 February 2010 at 2:48pm
 
Sebuah ulasan yang sangat berbobot, beberapa bagian yang pada saat saya baca sudah saya garis bawahi, sudah diulas secara lebih mendetail. Sebagai penikmat saja, saya sangat berterimakasih. Salut! |
0 person have read