UNEK UNEK

HomeForumKomentar ReviewUNEK UNEK

Komentar untuk UNEK UNEK


#1 avatar
dermawan 6 Desember 2018 jam 9:26am  

sebagai sesama pecinta cerita bermutu, anne mendukung dengan "Unek-Unek" nya

#2 avatar
muliawan 6 Desember 2018 jam 12:43pm  

Satu hal yg juga membuat mandeg adalah ada komentar dan perilaku dari warga indozone yg membuat sakit hati penulis. Contohnya yg kita sayangkan suhu Marshall yg karya2nya sangat bagus, sptnya suhu masih merasa sakit hatinya. Semoga bisa berbesar hati, dan karya2nya di upload kembali

#3 avatar
rajagendeng 6 Desember 2018 jam 3:48pm  

sy hanya bisa konfirm tentang posisi mas gilang ...
saat sedang fokus dulu ke MANGGALA ASTRABRATA yang berlatar belakang awal berdirinya MATARAM KUNA ... penggalian data cukup lama dan panjang untuk sebuah cersil yang diperkirakan hingga 2 rim (rencana awal katanya gt).
untuk yang PENDEKAR ELANG SALJU jilid 2, tidak akan di tayangkan, (katane mo di simpen saja di hard drive, karena faktor plagiator beberapa tahun yg lalu). untuk SI PEMANAH GADIS, rencana mo ditamatkan dulu di jilid 3, tapi karena faktor kerja di dunia nyata plus project MANGGALA ASTRABRATA yang sudah berjalan 4 tahunan ini, jadi rodo tersendat-sendat. sy pernah mencoba bantuin tulis, malah disodori coret2an ga cetho... dia yang jelas arah dan posisinya, sy coba ketik, malah hasilnya ketawain "kamu itu nulis apa to? bikin deklamasi? mbok kalau nulis itu dihayati dan spontan ... koyo wong mangan kae lho .... "
kira-2 itu yang bisa sy konfirmasi, gan ....

#4
ardi4n 6 Desember 2018 jam 4:27pm  

Platform indozone non komersial, sementara yang di butuhkan saat ini adalah Web Novel yang platform nya seperti Qidian ...
syukuri saja apa yang ada ... toh kebanyakan pembaca lebih suka yang gratis, termasuk saya hehe ...

#5
Anang9142 7 Desember 2018 jam 2:36pm  

ane ikut dukung unek 2 ini....
dari pada kentang terus

#6
Han1977 7 Desember 2018 jam 7:43pm  

Saya setuju sih sama yg nomor 3, ya semisal seorang 5rb perak, kalau pembacanya ratusan lumayan jg ngumpulnya :)) :p

#7 avatar
IwakPeyek 7 Desember 2018 jam 10:24pm  

Kepada para dermawan nan budiman, para pecinta karya sastra. Dalam rangka ikut melestarikan agar para pengarang indozone tidak punah (aje gile bahasanya sadis amat) juga dalam rangka menjaga kelangsungan hidup indozone kita yg trcinta ini, perlu kiranya dicarikan solusi agar para pengarang indozone yg karya tulisnya layak baca dan menghibur mendapat honor. Yah minimal pengganti rokoknya (bagi yg suka merokok). Mengenai mekanismenya mungkin bisa dibicarakan dg admin atau wakilnya yg dipercaya warga indozone untuk mengelola dan menyalurkan donasinya kepada para pengarang pilihan pembaca yang layak mendapat "uang rokok". Yah gitu aja komentarnya. Mohon maaf bila kata"nya amburadul

#8 avatar
kazeshini 8 Desember 2018 jam 1:33pm  

Boleh... ini situs kenakan adsense aja... nah hasilnya nanti kan buat maintenance, pengarang, web owner, atau siapalah.
suka kesel jga ni lama bgd updatenya... sya cuma bsa maklum

#9
Han1977 9 Desember 2018 jam 5:38am  

Penulis bisa saja pakai cara begini, jadi tulis dulu sampai selesai (tamat), kemudian upload 1 bab demi 1 bab di sini.

Yg lengkap di-jual bentuk ebook atau buku cetakan.

Jadi yg pingin baca sampai tamat bisa beli, atau yg mau free ya baca aja pelan2 di sini. Cm syaratnya yg udah dpt buku atau ebook-nya ya tau dirilah, jgn terus di-upload buku lengkapnya itu ke internet, entah di sini atau di website lain.

Positif-nya:
1. Ga ada yang namanya kentang atau kentung, krn memang sdh dipastikan bukunya itu sudah ditulis sampai selesai. Bedanya cm bacanya mau nyicil atau mau langsung sampai tamat.
2. Penulis bisa menjajaki kemungkinan untuk jadi full-time writer. Karena kalau orang sdh punya keluarga dan kerjaan, susah jg cari waktu buat nulis. Kl nulis di luar jam kerja, artinya ambil waktu keluarga, blm lagi yg anaknya masih kecil. Itu kalau jam kantornya normal msh gpp. Kalau yg modelnya mau ga mau hrs sering kerja lembur (biasanya tehnical support, dsb), waktu buat keluarga yg sudah sedikit, makin sedikit saja.

Kelemahan-nya:
Tergantung kesadaran pembaca untuk tidak menyebarkan tulisan yg sudah selesai tadi itu.

#10
Jetkul 9 Desember 2018 jam 9:39am  

Sejak menikah bulan september lalu, waktu untuk mengupdate Kisah Sebilah Keris menjadi begitu sempit. Sebelum menikah masih ada sedikit waktu dikala libur, sebelum tidur dan waktu senggang untuk memikirkan jalan cerita dan mengetik KSK (walau ide awal membuat KSK hanya iseng atau pengisi waktu sebelum tidur). Jadi tidak digarap serius, tapi ada juga keinginan untuk menjadi penulis asli yang full time dan memfokuskan diri pada menulis (menulis sebagai profesi), namun menghasilkan uang dari menulis cerita adalah suatu mimpi, faktanya tidak begitu banyak orang yang beruntung dari jalur ini. Akhirnya sejak menikah saya fokus ke pekerjaan di dunia nyata yang penghasilannya sudah pasti. Namun konsekwensinya saya harus mengubur keinginan menjadi penulis full time karena kesibukan mencari nafkah.

Sudah bukan rahasia profesi pengarang cerita pada awalnya begitu suram. Waktu yang dihabiskan begitu banyak, tetapi tidak sebanding dengan penghasilan. Karena itu kebanyakan pengarang indozone adalah "pengarang iseng" yang akan menulis bila tidak ada yang akan dikerjakan. Menulis bukan profesi, tetapi "pembunuh waktu" atau menunggu ngantuk datang sebelum tidur.

Saya pribadi sejak menikah sulit menemukan momen seperti sebelum menikah. Saya mengarang KSK adalah iseng, asal2an dan murni kesenangan / bukan mencari penghasilan. Namun ketika saya berniat fokus dan serius dalam menulis, saya menyadari bahwa menulis tidak bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi beberapa kebutuhan yang bersifat harus segera dipenuhi yang memerlukan dana segera. Dari jalur menulis jelas tidak bisa diharapkan. Karena itu saya membanting tulang di dunia nyata atau full time pada pekerjaan yang penghasilannya sudah pasti.

Itulah realita, dilema dan konflik batin yang dialami seorang penulis. Saya ungkapkan di sini agar rekan2 memahami alasan klise / klasik seorang pengarang yg ceritanya gantung, macet dan berhenti atau terbengkalai. Di lubuk hati seorang pengarang tetap merasa berdosa menggantung cerita, tetapi akan lebih berdosa bila kebutuhan hidup keluarga tidak tercukupi...

#11 avatar
Arman_wijaya 9 Desember 2018 jam 3:10pm  

Layaknya sebuah negara, warga indozone pun memiliki karakter beragam. Bila di dunia persilatan maka dibagi menjadi aliran putih, hitam dan abu2. Protagonis dan antagonis plus netral. Ada warga yg memahami suka duka menjadi pengarang hingga tulus mengapresiasi karya2nya walau sebenarnya karya2nya biasa2 saja, namun tetap menghargai jerih payahnya. Ada juga yg hanya menuntut, mencela dan berkomentar miring tanpa berusaha memahami kendala2 dan penyebab sang pengarang tidak aktif lagi. Mencela karyanya sebagai "bacaan tidak bermutu" dan dia sendiri tidak menghasilkan satu karya pun. Ada juga warga yg punya "masalah pribadi" dg sang pengarang (entah apa motifnya) hingga "menjatuhkan" bacaan sang pengarang dg menaikkan sebuah bacaan dan menjatuhkan bacaan sang pengarang. Padahal sang pengarang adalah ikon website ini, gurunya para pengarang. Dan aneka perilaku lainnya yang cukup pelik atau memperburuk mood para pengarang. Untuk ke depan hal ini harus dibenahi agar indozone tetap eksis dan tetap berjaya.