Home → Bacaan → Karangan Aris Kurniawan
. . .
Jalanan sepi dan basah, kawan.
Lampu-lampu jalanan kiranya masih menyala kala itu, sehingga paras pucat perempuan itu sempat tertangkap meski tidak terlalu jelas lantaran cahaya lampu terhalang ranting akasia.
Ia mengutuk peristiwa demi peristiwa yang dialaminya.
Pandangannya terus menyorot ke kanan sampai lehernya pegal.
Ia memejamkan matanya,