Home → Cerita Pendek → Telusuri
Bok-kua si Bocah Pepaya, begitulah gurunya sering memanggilnya, berjalan mati-matian mengikuti langkah kaki sang guru yang berjalan dengan ringannya mendaki kaki gunung Kun-Lun. Mereka berangkat mulai dari subuh tadi dari lembah di balik bukit di sebelah sana. Setengah harian mereka telah berjalan dengan santai melewati sawah, ladang, perkebunan, sungai dan
Pagi begitu cerah, rintik hujan semalam hilang seketika tatkala sang surya muncul di ufuk timur dengan gagahnya. Indahnya hari ini makin sempurna tatkala berjalan seorang gadis cantik berjilbab warna ungu dengan menenteng tas kerja melewatiku pas aku sedang membalas beberapa messege orderan Antenna di WA dan BBM hpku. Luar biasa
gue gila immortal... hehe...
buat simpenan aja deh... kali kali aja lain waktu bisa di garap...
Sinopsis.
Kisah seorang remaja yang kehilangan orang tua dan para kerabatnya karena peperangan para pembudidaya.
Secara tak sengaja ia menemukan manik manik dari batu berwarna ungu yang ternyata bernama manik batu king dragone. Manik batu yang memiliki daya
Lu Man-Cung mengambil bungkusan panjang di atas meja lalu keluar dari pintu rumahnya yang sudah reot. Dia berjalan dengan lambat seakan-akan tidak rela meninggalkan semua kenangan di rumah itu. Tapi dia harus pergi. Ada satu hal yang harus diselesaikannya dan itu harus dimulainya dari sekarang sebelum semuanya menjadi terlambat. Langkahnya
AMBILLAH pisau dan daging paha sapi atau kambing yang tergantung di dapur. Tusukkan pisau ke daging. Bagaimana bunyinya? Jika tak ada daging, keluarlah ke kebun, cari pohon pisang, tikamlah. Jika kau tak mendapati pohon itu, bahkan pisau pun tak punya, beginilah bunyinya, jleb! Empuk, enak di telinga, nyaris merdu.
Pikiran seperti
Kalender kematian tersisa empat halaman...
Bulan-bulan berduka yang ditinggalkan, akan sangat kesepian...
Bulan Januari melakukan kesalahan yang sama...
Seorang diri,terus mengejar bayang-bayang bulan november...
Dalam kesedihan yang dimainkan dalam orkestra kematian..
Diiringi Senyum mendung dalam pakaian berkabung..
Bulan november akan menjadi bulan yang damai menuju tempat tidurmu..
Setengah malaikat, dan setengah Dewa kematian..
menemani istirahatmu dalam tidur yang
Setiap pagi, bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari.
Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan, berkerlip menyilaukan. Seperti air sungai yang
Ibuku selalu mengatakan padaku agar aku menjaga hatiku supaya tidak patah. Percayalah, aku berusaha keras menjaganya agar tidak tergores segaris pun. Hati bagai pagar rumah, dia melindungi segalanya.
Ketika aku mengenal kekasihku, kubuat dia berjanji untuk selalu menjaga hatiku. Tapi mulut memang lancar berdusta. Hari berlarian cepat, memberiku kebahagiaan yang kemudian
Aku sangat yakin, ayah tiriku bukan keturunan manusia, apalagi dewa. Ia adalah hasil persetubuhan antara iblis dan kuntilanak di semak-semak pinggir kali beraroma tinja. Jiwanya yang untuk sementara dibiarkan bebas oleh Sang Maha Penguasa lalu menyusup ke tubuh manusia, sehingga manusia itu menjadi pencoleng, penjudi, dan pemabuk. Akhirnya, ia mati
Semenjak usianya genap 80 tahun, orang-orang Kampung Lekung berkeyakinan, ajal Kurai sudah dekat. Melihat tubuh ringkihnya terkulai letai di atas dipan usang tanpa selimut, barangkali tak akan habis baju sehelai, ia sudah mengembuskan napas penghabisan. Rimba persilatan tentu berkabung sebab kehilangan pendekar paling licin yang pernah ada di Kampung Lekung.