Agama No, Spiritual Yes ?

HomeForumDebatesAgama No, Spiritual Yes ?


Halaman sebelum 1 2 3
#41
Thor 14 September 2006 jam 1:25pm  

Huo menulis:
Menurut elo sendiri apa?
Lho ditanya malah tanya balik :p

Ya gua akan kasih pendapat gua setelah gua baca pendapat kalin :p

#42 avatar
prameswara 14 September 2006 jam 5:04pm  

okeh deh, gue coba jawab.
Kalo agama itu adalah aliran atau kepercayaan kepada Tuhan atau Dewa atau apa pun namanya dan mempunyai kewajiban-kewajiban dan/atau ritual tertentu kepada pengikutnya.
Sedangkan spiritual itu adalah aliran atau kepercayaan kepada Tuhan atau Dewa atau apa pun namanya tetapi tidak harus memiliki kewajiban-kewajiban dan/atau ritual tertentu, serta tidak harus juga memiliki pengikut.

#43
imanto 15 September 2006 jam 1:07pm  

buat hakeem, gua termasuk golongan yg percaya adanya Tuhan, cuma konsep ttg Tuhan-nya saja yg agak berbeda dgn agama2 yg ada. konsep tth Tuhan menurut gua lebih universal ato lebih ke arah spiritual. mungkin penjelasan prameswara cukup mewakili hal tersebut

#44
Thor 15 September 2006 jam 3:37pm  

Agama menurut gua (sorry kalo menyinggung, nga ada maksud mendiskreditkan satu agama atau spiritual) adalah suatu kepercayaan manusia yang diciptakan oleh manusia itu, agar dia mendapatkan suatu pegangan atau sandaran bahwa manusia dibantu oleh kekuatan lain agar dapat hidup di alam yang keras ini.

#45 avatar
prameswara 15 September 2006 jam 9:18pm  

hmmm....terus apa spiritual itu sendiri menurut Thor?

#46
imanto 16 September 2006 jam 8:14am  

menurut gua spiritual lebih universal dari agama tapi orang yg sudah mendalami agamanya dgn tingkat pemahaman yg sempurna akan mecapai tingkat spiritual dengan sendirinya. contohnya Gus Dus.

#47
Thor 19 September 2006 jam 9:08pm  

Gua setuju dengan Imanto bahwa spiritual itu lebih universal. Spiritual lebih memandang tujuan akhir (manusia mendapatkan kedamaian, kabahagian) tidak peduli melalui jalan yang mana, yang pasti sesuai dengan norma2 yang ada.

#48 avatar
sirancak 7 November 2009 jam 7:20am  

coba deh lw pikir, mungkin ga kalo hujan turun itu cuma sekedar kebetulan sesuatu yang datang tanpa tujuan? atau kita hadir di forum ini, datang berdiskusi, apa kita datang disini tanpa suatu maksud, intensi atau tujuan? tidak, kita datang disini dengan suatu tujuan dan alasan, berbagai motif memang tapi kita punya alasan. Begitupun hujan turun, ada makna dan alasan, untuk memberikan air pada tumbuh2an dan hewan, memenuhi sumur-sumur manusia, menjadi sirkulasi air laut dan tawar. Nah sekarang, apa kita ada disini, lahir didunia hanya sebuah kebetulan? tanpa ada suatu alasan yang mendasari, tanpa ada suatu sebab, hadir begitu saja tanpa makna lalu hidup untuk memuasi hawa nafsu lalu mati dan berakhir begitu saja? tidak, kehidupan ini pasti ada makna. Bila ada yang memunculkan kehidupan didunia ini, dimana kehidupan itu bukan suatu pilihan, tidak ada satu orangpun, satu mahluk dan eksistensipun diantara langit dan seisi bumi ini meminta untuk ada didunia, ya kan? kita tidak memilih untuk lahir didunia ini, kita di-ada-kan didunia ini, begitukan? mungkinkah bila yang mengadakan segala eksistensi ini tidak ada? bahwa kehidupan dan segala isinya "ada" sekedar sebuah kebetulan, dan keteraturan alam semesta ini hadir tanpa ada yang mengatur? pasti ada yang mengatur semua ini, dimana ada keteraturan, pasti ada yang mengatur bukan?

Lalu bila ada yang mengatur, ada yang menciptakan kita dan dunia ini, ada Tuhan dan memang Dia ada. Mungkinkah Dia menciptakan kita tanpa alasan, tanpa suatu peran dan fungsi? tanpa suatu makna dan misi? kita hanya hadir begitu saja, dan berlaku tidak pada fitrahnya, tidak dalam tata-aturan, sementara binatang, alam, semesta lain bekerja menurut sistem dan aturan dan kita manusia merasa bahwa tidak ada yang menciptakan dan membuatkan sistem hidup "bagaimana manusia hidup didunia ini"? atau "apa itu fitrah manusia"? apakah Tuhan akan membiarkan kita begitu saja tanpa petunjuk? pasti ada petunjuk, dan petunjuk ini adalah kitab suci, dan ummat yang memeluk kitab suci tertentu akan digelarkan beragama tertentu.

Nah sekarang, di Afrika, dewa tertua disana mengenal Satu Tuhan, dimana dia tidak dapat dideskripsikan, tidak dapat dipersamakan, awal dan akhir dari segalanya (baca : Karen Amrstrong). Di Cina ada Tao, mengapa dinamakan Tao, kata Lao Tze? karena Dia Maha Besar, meliputi segalanya, Satu tidak dapat dibagi, dsb. Xenophanes dari Yunani yang mengajarkan bahwa Tuhan itu satu, dan Tuhan bukan seperti manusia karena Dia yang menciptakan manusia, apa yang dipikirkan itu Dia maka itu bukan Dia. Berbagai macam ajaran, aturan dan perkenalan tentang siapa itu Tuhan dan tugas manusia untuk menyembah TUhan telah diperkenalkan dalam berbagai daerah dengan berbagai orang bijak dan ajarannya. Namun dibelakang harinya orang2 bijak ini kembali dipatungkan, disembah, dijadikan wali tuhan, wakil tuhan, anak tuhan lalu pengganti tuhan. Seperti kaum Noah yang memberhalakan orang2 sucinya, kaum Mesir yang memberhalakan Osiris (yang memiliki kemungkinan : Idris/Enoch), dan lagi2 Nabi2 diturunkan lagi oleh Tuhan untuk meluruskan, seperti di Mesir kembali diturunkan Musa as setelah ajaran Ibrahim as yang dibawa Yusuf as disimpangkan.

Nah bila manusia itu hidup dari kehendak TUhan, dan manusia hidup bukan tanpa makna melainkan makna dan tujuan. Bila manusia adalah ciptaan maka manusia akan menghamba pada yang menciptakanNya, jika dia bilang "sembahlah aku" maka kita menyembah. Menyembah dengan cara apa? dengan apa yang kita kira pantas untuk menciptakan kita? apa kita lebih tau cara seperti apa yang pantas untuk menyembah ciptaan kita? tentu Dia lah yang lebih tau, dan Allah itu Maha Tau. Karena itu kita menyembah Dia bukan dengan metode yang pantas menurut kita, tapi dengan metode yang terbaik menurut Dia, yang dicontohkan metode ini oleh RasulNya, ditulis dan ajarkan dalam KitabNya. Karena itulah agama itu perlu. Spiritualisme tanpa agama itu sekte, nanti berakhir sekte bunuh diri massal seperti banyak yang berkembang di AS dan Jepang, karena apa? tersesat. Kita beragama dan ber Tuhan karena kita sadar kita ini hamba, kita ini dibandingkan semesta tidak ada sebanding elektron atau quark kecilnya, kita tau kita tidak tau dan terbatas, karena itu kita patuh dan menyerahkan diri pada Tuhan bukan menyerahkan pada Tuhan apa yang kita inginkan, menyembah Dia semau kita, dan membuat pertaturan tentang hukum Dia menurut pikiran kita. Tidak. Dia bersabda, bukan lagi iman yang membuktikan, sejarah yang membuktikan.

Sekian dari saya, there are no compulsion in religion, kita hanya saling berbagi dan mengingatkan.

Lakum dinukum waliadin.

wassalamualaikum

#49 avatar
00_liauw_loei_nio 1 April 2010 jam 11:36pm  

ini jugalah, diatas langit kan masih ada langit. dsb dsb

#50 avatar
phuniser 26 April 2010 jam 11:10pm  

atheis dong....

#51 avatar
AXD002 17 Desember 2010 jam 9:40am  

Tujuan semua manusia beragama adalah untuk memperoleh rasa aman dan keselamatan. Tetapi sering kali keselamatan itu dicarinya di luar dirinya, tanpa menyelidiki dan memahami apa sebetulnya yang menyebabkan ia merasa tidak aman, merasa terancam sepanjang hidupnya.

Karena manusia sering tidak menyadari gerak-gerik ego dan pikirannya sendiri, yang sesungguhnya adalah akar dari rasa tidak aman dalam dirinya, maka ketika ia beragama dengan harapan untuk mendapatkan keselamatan, ia kembali terperangkap oleh egonya yang memperalat agama itu untuk mengejar keinginannya sendiri sehingga rasa aman dan keselamatan itu tidak kunjung datang. Dengan demikian muncullah pernyataan-pernyataan seperti: "Akulah [satu-satumya] Jalan, Keselamatan dan Hidup ... Tiada orang sampai kepada Bapa tanpa melalui Aku ...", "Agama yang diridhoi di sisi Allah hanyalah Islam ...", "Di luar ajaran yang mengandung Empat Kebenaran Mulia ini tidak mungkin ada keselamatan ..." dan lalin-lain, yang semuanya ditafsirkan secara eksklusif.

Demikianlah hal itu berlangsung terus, semakin kuat manusia memperalat agama dan Tuhan demi melestarikan egonya sendiri, sehingga berkembanglah keadaan dimana manusia hidup terkotak-kotak secara sosial serta perpecahan.

Tetapi, kalau manusia mulai mengenal gerak-gerik egonya sendiri, maka dia akan menemukan sesuatu yang lain dalam agama dan Tuhan, sesuatu yang akan mengecilkan dan bahkan mengakhiri egonya, dan meningkatkan kebersamaan dan kesatuan dengan segala sesuatu yang hidup dan yang ada. Di situ orang tidak lagi mempersoalkan apa agama dan Tuhan yang dianut, karena semua pengkotak-kotakan sudah berakhir dalam dirinya...

Sumber: Pak Hudoyo

#52 avatar
giarsoanton 24 Januari 2013 jam 6:22pm  

beda agama dan spiritual?? bro imanto msh pake kcmata orde baru yg cm mengakui 5 agama . pernah sy renungkan kt2 bgni setiap utusan cm untk wkt dan daerah tetentu jd ga bs spanjang masa itulah makany bgtu ganti jaman jd tmbul byk kelemahan pdhal yg mrk sampaikan satu cm krn hrs msk di pemahaman org diskitar para utusan itu maka caranya jd berbeda . sgitu dl mg2 bermanfaat

#53
Han1977 25 Januari 2013 jam 7:57pm  

Agama dan spiritual, keduanya sama-sama jalan. Tanpa jalan bagaimana orang bisa sampai di tujuan? Tapi jika orang lebih fokus pada jalannya dan lupa pada tujuannya, sama juga dia tidak akan pernah sampai pada tujuannya.

Halaman sebelum 1 2 3