Home → Forum → Debates → THE DA VINCI CODE -- what do you think?
| #41 |
andrea7974
21 Juli 2006 jam 3:10pm
 
imanto menulis:Nope. Semua kitab di Perjanjian Baru, ditulis paling lambat thn 70 M. Hanya kitab Wahyu yang ditulis terakhir yaitu sekitar tahun 90 M. Memang selain 4 injil yang diakui gereja itu, ada beberapa kitab lain yang disebut "injil" yang ditulis sekitar thn 150-400 M. Kitab-kitab itulah yg kemudian dikenal sebagai injil Philipus, Injil Thomas, Injil Yudas dll. Kenapa gereja hanya mengakui 4 injil itu (matius, markus, lukas, yohanes) dan bukan kitab-kitab yang lain; karena alasannya ya seperti yang kamu sebut itu..."Jangankan 400 thn, beberapa tahun pun sudah cukup mengaburkan fakta sebenarnya" FYI: Paulus mati sekitar thn 75 M di kota Roma. imanto menulis:Memang sejarah ditulis oleh pemenang. Tapi spt pada my previous post, orang Kristen mula-mula, bukan hanya mereka bukan pemenang, tetapi mereka pecundang kelas berat yang sudah pecundang, terancam hukuman mati! So what's the point for them untuk tetap percaya pada keyakinan mereka? Kalau mereka percaya pada sesuatu yang sebenarnya mereka tahu itu cuma kebohongan? mempercayai kebangkitannya justeru membuat yesus abadi shg mereka diam saja (krn menguntungkan) --> ditinjau dari sudut manapun tidak ada segi menguntungkan buat mereka. Gara-gara bersaksi kalau Yesus mati dan bangkit itu mereka diburu-buru dan dihukum mati kok. bukannya lebih enak kalau cerita Yesus tidak mati...tapi dia emang menghentikan pernafasan pakai Yoga shg dia tidak mati! efeknya pasti lebih bagus karena orang Romawi tidak akan menganggap mereka adalah extremist yang percaya pada kebangkitan orang mati. Murid-murid Yesus justru dihukum mati karena mereka menceritakan kematian dan kebangkitan Yesus. Who wants to believe to someone who claimed himself as the Son of God, but then he died on the cross (one of the lowest and horrible way to die at that era) ??? imanto menulis:The question is: apa yang membuat Yesus populer sehingga ia mendapatkan banyak pengikut? Apakah ajarannya? atau keajaiban yang ditimbulkannya? Fyi, dalam 3.5 tahun Yesus menyebarkan pengajarannya, bisa dihitung jari mujizat yang dilakukannya. Yesus memiliki banyak pengikut karena dia memberikan pengajaran yang melengkapi Taurat Musa (judaism). Ada beda antara pengajaran dan spiritualism. Dan jelas Yesus sama sekali tidak mengajarkan ttg spiritualism. Tetapi jelas dia memberikan pengajaran. |
|
| #42 |
|
Azalae
21 Juli 2006 jam 3:48pm
 
injil yang dipilih sekarang ini karena yang paling konsisten satu sama lain. injil yang ga masuk, karena saling bentrok bahkan ga cocok ama injil itu sendiri. mungkin karena beda pendapat, emang pengarangnya ga pinter nulis (maklum bukan pengarang novel), ato kurang research (kabar didengar langsung ditulis blom diteliti lebih jelas). tapi emang semua injil ditulis ga lama setelah Yesus wafat. bahkan beberapa ada yang mulai ditulis sewaktu Yesus masih hidup. masalah witch hunt, inquisition, crusade, itu faktor manusianya. nah yang kita bahas sekarang apakah DVC itu beneran ato fiksi. "bukti" yang dipake, udah jelas ga meyakinkan. Priori of Scion adalah hoax/prank buatan Pierre Plantard yang "membuktikan" dirinya keturunan dinasti prancis (Merovingian) dari raja Dagobert II. dokumen palsu ini dipake oleh Michael Baigent, Richard Leigh and Henry Lincoln untuk sumber utama buku Holy Blood Holy Grail. dirubah bukan keturunan dinasti prancis tapi keturunan Yesus. akhirnya dipake oleh Dan Brown sebagai sumber utama untuk Da Vinci Code. btw, arti "da Vinci" = "dari Vinci". Vinci adalah kota kelahiran Leonardo. Leornado ga punya nama keluarga. hal biasa untuk abad 15-16 (jaman hidup Leonardo). buku yang nyebut Mr. Da Vinci, seolah nama keluarga, udah jelas ga ngerti arti dasar "da Vinci". hal semudah itu aja udah salah gimana mau jelasin hal besar. judul yang bener mestinya Leonardo's Code. |
| #43 |
andrea7974
21 Juli 2006 jam 3:53pm
 
imanto menulis:Maksud gua pemenang adalah bukan pada saat itu tapi saat setelah kristen menjadi populer --> Kristen baru diakui menjadi agama, dimana pemeluknya boleh menganut agama kristen tanpa dianiaya adalah setelah sekitar tahun 350 M. jadi ada jedah waktu 300 tahun dimana dari looser yang ditindas menjadi "pemenang" Dan kalau itu memakan waktu 300 tahun, dimana sdh ganti generasi, dll. tidak ada tuh pepatah yang berlaku "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian!" Tidak ada satupun dari orang-orang kristen mula-mula yang bakal mengira kalau pada tahun 350 M mereka bakal diakui sbg agama resmi, tidak hanya itu Constantine malah menjadikan Kristen sbg agama negara! sehingga percaya pada Yesus adalah suatu kebodohan bagi orang waras yang berpikir logis!! Yesus toh tidak pernah tuh bilang suatu saat mrk akan menjadi "pemenang" krn suatu saat Kristen akan menjadi agama negara, dll. Ada juga dari awal Yesus sdh memberi peringatan...menjadi orang Kristen berarti siap dianiaya demi nama Tuhan!! |
|
| #44 |
|
ToOn99
21 Juli 2006 jam 4:18pm
 
imanto menulis:good one.... patient gila |
| #45 |
chengho
25 Maret 2009 jam 1:27pm
 
kalo menurut saya, dan brown itu pinter banget, bisa2nya meracik masakan yang beda dengan gaya sama tapi enak semua. say udah baca deception point,digital fortress & davinci code. penokohan mirip, twist rada mirip, skandal mirip wah keren lah. kalo sejarah tidak bisa 100 persen dipercaya saya sepakat, maklum aja sejarah pasti ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa yang bersangkutan. mngkin lebih jujur dari sudut pandang antropologi, walopun misalnya bisa teteap bias penafsirannya. misalnya nih: hukuman mati untuk seluruh tawanan perang. kelihatannya kejam banget walopun mungkin jaman itu tata hukum internasionalnya emang gitu. kejam kalo dibandingkan dengan sudut pandang jaman sekarang |
|
| #46 |
|
karina
11 April 2009 jam 8:37pm
 
Da Vinci Code memang cerita yang sangat bagus, Ceritanya memang fiksi, tetapi data2 yang disebutkan adalah fakta sejarah. Test tone (batu penguji) Di toko2 emas, biasanya terdapat batu penguji apakah emas itu palsu atau asli. |
| #47 |
Han1977
1 Juli 2009 jam 11:11am
 
karina menulis:Sejarah meninggalkan banyak catatan, terkadang satu catatan bertentangan dgn catatan yg lain. Hanya karena satu tulisan itu berasal dari masa lalu, tidak kemudian berarti tulisan itu benar. Untuk itu perlu ada metode untuk menentukan catatan mana yg paling benar. Salah satu metode dalam mempelajari sejarah adalah dengan memberikan level2 tertentu akan suatu catatan sejarah. Level tertinggi alias catatan yg paling bisa dipercaya mempunyai syarat antara lain : 1. Catatan yg ditulisnya paling dekat dengan masa berlangsungnya kejadian yg dicatat. 2. Pencatat adalah saksi langsung atau setidaknya membuat catatannya berdasarkan kesaksian saksi langsung dari kejadian yg dicatat. Berdasarkan 2 syarat ini saja, ke-empat injil yang diakui jauh lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan catatan2 lain, termasuk catatan yang dipakai oleh Dan Brown sebagai bahan tulisan. Jadi kurang tepat kalau dikatakan bahwa data yg dipakau adalah fakta sejarah. Kutip:Seandainya saja semudah itu untuk mengenal TUHAN. Siapa sih yg bisa menguji TUHAN? Dengan ukuran macam apa anda mau menguji? Apakah yg lebih rendah menguji yg lebih tinggi, atau sebaliknya, yang lebih tinggi menguji yg lebih rendah? Ada jutaan orang jenius lahir di dunia, kalau masalah iman adalah masalah yg bisa diselesaikan dengan logika, tentu masalah ini sudah selesai dari dulu. Kenyataannya orang2 jenius dari jaman dulu sampai sekarang, tidak mencapai kata kesepakatan dalam hal iman. Soal iman itu pilihan masing2lah. Soal Dan Brown, dia kan cuma cari sensasi aja, bikin buku dan meng-klaim kalau tulisannya itu berdasarkan fakta sejarah. Itu pinter2nya dia aja bikin laku buku karangannya. Saya udah baca bukunya sampai habis, emang pas baca penasaran pingin tahu akhir ceritanya, cuma setelah baca habis ga pingin ngulang lagi. Masih lebih seru baca tulisan Gu Long yg setelah bbrp lama bakal kembali saya baca ulang. |
|
| #48 |
00_liauw_loei_nio
1 April 2010 jam 11:27pm
 
astaganaga, itulah dunia diatas langit masih ada langit, tul kan |
|
| #49 |
|
rhuchubby
1 April 2014 jam 8:43pm
 
@Han1977 setuju! saya juga nggak bosen baca karya-karya Gu Long, sampai sekarang masih kepengen baca lagi cerita yang sudah pernah saya baca. |