Aku dapt dari milis, mohon pandangannya! Aku posting disini tdak ada maksud SARA, hanya sebagai bahan tukar pikiran aja. Mohon lepaskan segala atribut SARAmu dan gunakan rasiomu untuk masukan kita aja.
ucho cahyono <zero_ucho@yahoo.com> wrote:
To: Padepokan
From: ucho cahyono
Date: Tue, 1 Mar 2005 20:30:04 -0800 (PST)
Subject: [lightuponlight] wali songo itu cino !
Entah kenapa banyak sekali sdr kita umat muslim
merasa gerah, apabila mendengar bahwa delapan
dari sunan walisongo itu adalah orang tionghoa,
padahal Nabi Muhammad Saw sendiri pernah
bersabda "Tuntutlah Ilmu walau sampai Negri China"
( Al Hadis ), nah pada saat itu orang Tionghoa nya
sendirilah yang datang keindonesia, sehingga
mereka tidak perlu repot2 harus pergi belajar
ketiongkok untuk menuntut ilmu disana.
Prof Slamet Mulyana pernah berusaha untuk
mengungkapkan hal tersebut dlm
bukunya "Runtuhnya Kerajaan Hindu-jawa dan timbulnya
Negara-negara Islam di
Nusantara", tetapi pada th 1968 dilarang beredar,
karena masalah ini sangat peka sekali
dan mereka menilai menyangkut masalah sara
kenapa demikian ?
Bayangkan saja yang mendirikan kerajaan Islam pertama
dijawa adalah orang Tionghoa, bahkan sultannya yang pertama
adalah orang Tionghoa: Chen Jinwen alias Raden Patah alias
Panembahan Tan Jin Bun/Arya (cu-cu).
Walisongo atau Walisanga yang berarti sembilan (songo)
wali, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa perkataan songo
ini berasal dari kata "tsana" yang berarti mulia dlm bahasa Arab
sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa kata tersebut
berasal dari kata "Sana" dlm bahasa jawa berarti "Tempat".
Para Wali tsb mendapat gelar Sunan, yg berarti
guru agama atau ustadz,
namun perkataan sunan itu sebenarnya diambil dari
perkataan " Suhu/saihu" yg berarti
guru dlm bhs dialek hokkian, sebab para wali
itu adalah guru-guru.
Pesantren Hanafiah, dari mazhab (sekte) hanafi.
"su" singkatan dari kata "suhu" dan "Nan" berarti selatan
sebab para penganut sekte Hanafi ini
berasal dari Tiongkok.
Perlu diketahui bahwa sebutan "Kyai" yg kenal
sekarang ini sebagai sebutan guru agama Islam
setidak tidaknya hingga jaman pendudukan
Jepang masih digunakan untuk panggilan bagi
seorang lelaki Tionghoa totok,
seperti panggilan "Encek".
Walisongo ini didirikan oleh sunan Ampel pd th.
1474. Yang terdiri dari 9 Wali yaitu :
Sunan Ampel alias Bong Swie Ho
Sunan Drajad alias Bong Tak Keng
Sunan Bonang alias Bong Tak Ang
Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang
Sunan Gunung Jati Alias Du Anbo-Toh A Bo
Sunan Kudus alias zha Dexu-Ja Tik Su
Sunan Giri adalah cucunya Bong Swie HO
Sunan Muria
Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/Tan Eng Hoat.
Suana Ampel (Bong Swie Ho) alias Raden Rahmat lahir
pada th 1401 di champa (kamboja), ia tiba dijawa pada
th 1479
ia mendirikan Mesjid Demak. Ia juga perencana kerajaan
Islam pertama dijawa yang beribu kota diBintaro Demak
dengan mengangkat Raden Patah alias chen
Jinwen-Tan Jin Bun sebagai sultan yang pertama,
ia itu putranya dari Cek Kopo di Palembang.
Orang portugis menyebut Raden Patah "Pate Rodin sr".
sebagai "Persona degrade syso" (orang yg sangat bijaksana) atau
"cavaleiro" (bangsawan yg mulia), walaupun demikian orang belanda
tidak percaya, moso sih ?
sultan pertama dijawa adalah orang tionghoa.
Oleh sebab itulah residen poortman 1928 mendapat
tugas dari pemerintah belanda untuk menyelidikinya;
apakah Raden Patah itu benar-benar orang Tionghoa tulen.
Poortman diperintahkan untuk menggeledah kelentang
Sam Po Kong dan menyita
naskah berbahasa Tionghoa, dimana sebagian sudah
berusian 400 tahun sebanyak tiga cikar/pedati.
Arsip poortman ini dikutip oleh parlindungan yg menulis
Buku yg kontrovelsial tuanku Rao, dan Slamet Mulyana
juga banyak menyitir dari buku ini.
Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini
tercantum dalam serat Kanda Raden Patah bergelar
Panembahan Jimbun, dan dlm babat tanah jawi
disebut sebagai senopati Jimbun.
Kata Jimbun (Jinwen) dalam dialek hokkian
berarti "orang kuat".
Cucunya dari Raden Patah Sunan Prawata atau
Chen Muming/Tan Muk Ming adalah
Sultan terakhir dari kerajaan demak, berambisi
untuk mengislamkan seluruh jawa, sehingga
apabila ia berhasil maka ia bisa menjadi "Segundo turco"
(seorang sultan turki ke II ) setanding sultan turki
suleiman I dengan kemegahannya.
SUMBER :
D. A. Rinkes "De heiligen van java"
Jan Edel "Hikajat Hasanoeddin"
B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek Van Bonang
Utrecht : Den Boer
G. W. J. Drewes, 1969 the admonitions of Seh Bari :
a 16th century Javanese
Muslim text attributed to the Saint of Bonang,
The Haque: Martinus Nijhoff
De Graaf and Pigeaud "De eerste Moslimse
Vorstendommen op java" - "Islamic
states in java 1500 - 1700"
Amen Budiman "Masyarakat Islam Tionghoa di
Indonesia"
Prof. Slamet Mulyana "Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa
dan timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara.