Post-39286

Post 9 dari 10 dalam SMARADHANI

HomeForumKomentar BacaanSMARADHANIPost-39286

#9 avatar
danivn 20 April 2007 jam 6:44pm  

1. Buat yang gak suka tulisan ini saya pahami betul, beberapa pembaca pasti merasa “offended” dengan tulisan erotis. Oleh karenanya SMARADHANI hanya saya munculkan sejenak pada situs yang sifatnya umum seperti ini. Walaupun begitu, wanti-wanti sudah saya pesan bahwa rattingnya dewasa++

2. Untuk farry-heng, danniel_son, wandi, dan beberapa lainnya via Japri, terimakasih. Walau kita tidak saling kenal, sepertinya selalu men-support tulisan-tulisan saya.

3. Untuk nein dan beberapa yang meminta tayang ulang via Japri, mohon maaf, tulisan ini memang tidak panjang, hanya terdiri dua bab. Waktu tayang hanya 24 jam. Saya akan pertimbangkan untuk menayangkannya kembali apabila congkoan situs ini mengijinkannya.

4. Kembali buat fary-heng, JP awalnya dimaksudkan sebagai sampel pendekatan lain dalam menulis cersil sebagaimana thread di milis Tjersil. Tapi saya tergoda untuk mengembangkannya. Sementara SMR adalah sampel untuk penggambaran tokoh wanita akibat diskusi JP.

5. Ending SMR memang agak maksa karena saya putuskan berhenti dan gak pengen terpancing seperti JP. Tapi, dengan ending SMR (bab 2) yang seperti itu, saya punya peluang untuk melanjutkan kisahnya entah kapan :)

6. JP saya akui kata-katanya memang lebih rapih ketimbang SMR karena JP saya tulis bab per bab, tidak ada ketergesaan. Sebaliknya SMR langsung saya tuntaskan penulisannya. Selain itu, saya memang bereksperimen: coba mengunakan alinea dan kalimat yang lebih panjang daripada JP yang alieanya bahkan ada yang semata terdiri dua kata, misalnya:

Merah. Darah.

7. Ketika menulis JP saya berpikir bahwa jarang cersil ditulis dengan ”aku”, maka itulah yang saya tulis. Kemudian berkembang karena ditantang: kenapa aku-nya bukan pedang? Waaa, menarik juga. Tapi saya kadung menulis JP yang aku-nya adalah si Pedang Karat. Maka, saya berpikir lagi: gimana kalau ”aku” dan ”saya” muncul dan duel bersama?

8. Karakterisasi tokoh SMR, karena memang ingin segera saya tuntaskan dalam 2 bab, maka lebih jelas ketimbang JP (saat ini). Pada JP, yang tiba-tiba berkembang jadi panjang itu, pengembangan karakter tokoh ”saya” ada pada JP-2: Kim Tayhiap dan karakter tokoh ”aku” pada JP-3: Si Pedang Karat.

Maunya sih begitu, entah nanti aplikasinya seperti apa. Doakan saja, semoga terealisasi. Yang pasti, perkembangan ini membuat JP-1: Pertarungan jadi hanya sekedar proolog. Itu juga yang membuat tadinya hanya JP saja, tapi sekarang ada JP-1, JP-2, dan JP-3.

9. Saya setuju SMR adalah aneh karena kisah erotis ditulis dengan puitis. Ini memang sengaja karena dimaksudkan ”mengganggu kemapanan” pembaca. Alasan yang sama membuat saya menulis JP dalam format cersil ber-rima dengan tokoh aku/saya. Itu juga yang membuat saya memilih setting kereta api pada SMR misalnya.

Maka, untuk anda semua, sekali lagi terimakasih atas kritik dan saran yang diberikan serta kesediaan menjadi reader dari tulisan ini. Tanpa caci dan puji dari anda semua saya pasti gagal mengembangkan diri.

Salam,