Post 10 dari 11 dalam UNEK UNEK
Home → Forum → Komentar Review → UNEK UNEK → Post-90367
#10 | ![]() |
Jetkul
9 Desember 2018 jam 9:39am
 
Sejak menikah bulan september lalu, waktu untuk mengupdate Kisah Sebilah Keris menjadi begitu sempit. Sebelum menikah masih ada sedikit waktu dikala libur, sebelum tidur dan waktu senggang untuk memikirkan jalan cerita dan mengetik KSK (walau ide awal membuat KSK hanya iseng atau pengisi waktu sebelum tidur). Jadi tidak digarap serius, tapi ada juga keinginan untuk menjadi penulis asli yang full time dan memfokuskan diri pada menulis (menulis sebagai profesi), namun menghasilkan uang dari menulis cerita adalah suatu mimpi, faktanya tidak begitu banyak orang yang beruntung dari jalur ini. Akhirnya sejak menikah saya fokus ke pekerjaan di dunia nyata yang penghasilannya sudah pasti. Namun konsekwensinya saya harus mengubur keinginan menjadi penulis full time karena kesibukan mencari nafkah. Sudah bukan rahasia profesi pengarang cerita pada awalnya begitu suram. Waktu yang dihabiskan begitu banyak, tetapi tidak sebanding dengan penghasilan. Karena itu kebanyakan pengarang indozone adalah "pengarang iseng" yang akan menulis bila tidak ada yang akan dikerjakan. Menulis bukan profesi, tetapi "pembunuh waktu" atau menunggu ngantuk datang sebelum tidur. Saya pribadi sejak menikah sulit menemukan momen seperti sebelum menikah. Saya mengarang KSK adalah iseng, asal2an dan murni kesenangan / bukan mencari penghasilan. Namun ketika saya berniat fokus dan serius dalam menulis, saya menyadari bahwa menulis tidak bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi beberapa kebutuhan yang bersifat harus segera dipenuhi yang memerlukan dana segera. Dari jalur menulis jelas tidak bisa diharapkan. Karena itu saya membanting tulang di dunia nyata atau full time pada pekerjaan yang penghasilannya sudah pasti. Itulah realita, dilema dan konflik batin yang dialami seorang penulis. Saya ungkapkan di sini agar rekan2 memahami alasan klise / klasik seorang pengarang yg ceritanya gantung, macet dan berhenti atau terbengkalai. Di lubuk hati seorang pengarang tetap merasa berdosa menggantung cerita, tetapi akan lebih berdosa bila kebutuhan hidup keluarga tidak tercukupi... |