Post-91512

Post 32 dari 66 dalam Alien Vairus Coronama Adventure (1)

HomeForumKomentar Cerita PendekAlien Vairus Coronama Adventure (1)Post-91512

#32 avatar
Nurslamet 29 Juni 2020 jam 9:38am  

Alien Vairus Coronama Adventure (9)

"Tolooonggg! Help me!" teriak Edi dari dasar sumur. Tubuh Edi tenggelam di dasar sumur. Air perut planet Mubi lebih dingin dari planet bumi. Edi terjebak di lumpur dasar sumur dan sulit menggerakan tubuhnya.

"Bagaimana cara aku menolongmu, bro?" tanya Al yang berdiri di tepi sumur.

"Lemparkan tambang, tali atau apa saja yang bisa menarikku naik," suara Edi bergema di dinding-dinding sumur.

"Wah, maaf bro. Aku gak bawa tambang atau tali," kata Al penuh sesal. "Tapi kamu coba tarik nafas lagi kayak tadi tapi salurkan ke atas," saran Al.

Beberapa saat kemudian. Wussshhh! Sebuah bayangan melesat keluar dari dasar sumur membungbung tinggi ke angkasa seperti roket yang ditembakan dari dasar sumur.

"Whooaaa!" teriak Edi ngeri. Tubuhnya menabrak awan dan terjerat di awan. Tubuh Edi terlilit awan putih. Sepintas Edi seperti kepompong.

"Help! Help!" Edi meronta-ronta minta tolong.

"Tenang, bro. Tenang!" kata Al yang duduk di awan putih sambil memakan makanan ringan.

"Tolong keluarkan aku. Aku belum mau mati. Huhuhuu," ratap Edi.

"Isi... Isi...." kata Al sambil mengunyah. (Maksud Al mungkin easy, easy). "Tarik nafas kemudian hembuskan sambil teriak: 'Hahh!' dan kamu akan terbebas. Percaya padaku!" kata Al santai.

"Hahh!!"

Buummm!!!

Ledakan dahsyat menggema mencerai beraikan awan yang melilit tubuh Edi. Serpihan awan beterbangan ke segala arah dengan kecepatan yang luar biasa. Al yang sedang asyik mengunyah tidak sempat menghindar. Di samping jaraknya yang terlalu dekat dengan Edi, dia tidak menyangka Edi akan secepat itu melaksanakan sarannya. Tubuh Al terlempar cukup jauh dan menabrak awan lain.

"Kupret! Gak ngasi aba-aba dulu langsung teriak aja. Kasi warning dulu kek atau apa kek," gerutu Al sambil bangkit dan duduk di tepi awan. Dikeluarkannya bungkusan cemilan dari balik bajunya.

"Kamu gak apa-apa?" tanya Edi yang tiba-tiba muncul di samping Al.

"Ah!" Al terkejut. Bungkusan makanan ringan yang dipegangnya terlempar karena kagetnya.

"Sontoloyo! Lain kali kalau mau muncul di sampingku bilang dulu. Untung aku gak jantungan. Kalau mengidap sakit jantung aku bisa mati mendadak," kata Al sambil memegang dadanya.

"Sorry. Aku menyerah dan gak bisa mengendalikan tubuhku. Ajian Kapas Sutra terlalu rumit dan tidak aku pahami. Aku gagal menguasainya," kata Edi dengan wajah sedih.

Al terpana. "Lah, kamu ini pagimana sih? Terus tadi kamu tahu-tahu muncul di sampingku itu gimana caranya?"

"Entah, aku lupa lagi," kata Edi polos.

Al hanya garuk-garuk kepala. Ajian Kapas Sutra sudah menyatu dengan baik pada raga Edi. Buktinya tadi Edi bisa muncul di sampingnya dalam sekedipan mata. Tidak menabrak dirinya dan tepat di sampingnya. Itu artinya pengendalian Edi pada ajian itu telah sempurna. Tetapi melihat raut wajah Edi yang kebingungan Al tahu Edi tidak berbohong. Edi tidak tahu bagaimana cara dia bergerak begitu cepat. Disaat kesadarannya penuh, Edi sulit mengendalikan pergerakan tubuhnya. Namun di saat-saat tertentu, Edi begitu sempurna menggunakan ajian itu.

"Sekarang kita mau kemana?" tanya Edi mengalihkan topik pembicaraan.

"Entahlah. Yang jelas cerita kita di planet ini baru saja dimulai. Aku merasa hari-hari berikutnya akan penuh warna," kata Al sambil memandang ke bawah. Samar-samar terlihat sebuah keraton nun jauh di ufuk planet Mubi. Keraton yang memancarkan aura mistis, magis dan misterius. Ada suara-suara aneh yang ditangkap indra pendengaran Al. Suara dengan gelombang yang sangat rendah hingga orang biasa tidak akan mendengarnya. Suara-suara itu mirip atau menyerupai rintihan halus.