Post-91521

Post 35 dari 66 dalam Alien Vairus Coronama Adventure (1)

HomeForumKomentar Cerita PendekAlien Vairus Coronama Adventure (1)Post-91521

#35 avatar
Nurslamet 30 Juni 2020 jam 4:02am  

Alien Vairus Coronama Adventure (10)

Kita tinggalkan dulu Al dan Edi. Mari kita lihat Edison dan Meymei.

"Siapa mereka sebenarnya? Mengapa yang satunya wajahnya sangat mirip dengan kamu? Bila aku tidak melihat Pedang Mustika Kumala yang kamu pegang, aku akan mengira dia itu kamu," bisik Meymei pada Edison. Saat itu tubuh mereka melayang ke arah yang berlawanan dengan Al dan Edi. Posisi mereka semakin jauh dari Edi dan Al.

"Aku tidak tahu siapa mereka. Mereka datang begitu saja dari langit. Yang mirip aku mengaku bernama Edi dan yang satunya bernama Alien. Yang aku tahu mereka orang baik," kata Edison.

"Kamu jangan terlalu percaya pada orang yang baru kamu kenal. Dari luar mereka terlihat seperti orang baik, tapi hati dan niat mereka yang sesungguhnya kita tidak tahu," kata Meymei mengingatkan.

Edison terdiam. Dia bermaksud akan menceritakan tentang Sirup Tirta Amarta yang telah diminumnya, namun entah mengapa dalam benaknya ada pertimbangan lain. Edison merasa dirinya bagai ketiban durian runtuh. Bertahun-tahun dia berkeliling ke pelosok negeri mencari kabar keberadaan Sirup Tirta Amarta, namun usahanya belum membuahkan hasil. Cairan super sakti itu seakan hanya legenda atau mitos belaka. Ada nama namun sangat sulit untuk membuktikan keberadaannya. Edison nyaris putus asa dan hampir menganggap cairan itu hanya dongeng semata alias tidak ada. Namun siapa sangka tanpa diduga dan tidak terbayang sebelumnya cairan super sakti itu malah datang sendiri padanya. Tentu saja melalui perantaraan orang lain (baca: Edi). Awalnya Edison menganggap cairan yang diberikan Edi adalah Sirup Tirta Amarta palsu karena tidak masuk akal dan diluar nalar orang yang tidak saling mengenal memberikan suatu benda yang teramat langka dan berharga pada orang lain secara gratis. Akal logika pun sulit menerima hal itu. Namun seperti yang diceritakan sebelumnya, beberapa kali mengalami hal pahit yang nyaris merenggut nyawanya dikarenakan orang yang sepintas baik padanya telah mengajarkan Edison suatu teknik membaca sifat, watak dan karakter orang dari sorot mata dan bahasa tubuhnya. Wajah, lidah dan tingkah laku atau sikap bisa direkayasa atau dimanipulasi, tetapi sorot mata dan bahasa tubuh tidak bisa atau sulit dipalsukan. Sorot mata adalah cerminan langsung dari hati. Pantulan gelombang niat dan maksud yang sesungguhnya atau niat asli. Tulus atau punya maksud lain bisa terpantul dari sorot mata. Tetapi tentu saja tidak semua orang bisa mendeteksi atau membacanya. Diperlukan kepekaan hati untuk menangkap sinyal atau menterjemahkan arti sorot mata. Begitu pula dengan bahasa tubuh. Dari gerak tubuh akan terbaca apakah seseorang itu mengatakan hal yang sesungguhnya atau berdusta. Hanya orang yang peka yang bisa mendeteksi, membaca dan menterjemahkan atau menafsirkan arti sorot mata dan bahasa tubuh.

"Ada apa?" tanya Meymei yang melihat Edison terdiam.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan siapa pemilik mata dewa api itu. Dari tempat jauh saja dia bisa membakar kita, apalagi bila berhadapan langsung," sahut Edison berdusta dan mengalihkan topik obrolan. Edison merasa persoalan Sirup Tirta Amarta biarlah untuk saat ini hanya dirinya saja dan kedua tuan penolongnya yang tahu. Orang lain tidak harus tahu karena akan mengundang banyak pertanyaan dan membahayakan dirinya. Bila orang banyak tahu dirinya telah meminum cairan super sakti itu maka bisa dipastikan banyak pendekar-pendekar sakti yang memburunya untuk membuktikan seberapa hebat pengaruhnya pada peminumnya. Mempertimbangkan hal itu Edison membulatkan tekad untuk merahasiakan dirinya telah meminum Sirup Tirta Amarta.

Meymei menghela nafas. "Di negeri ini berapa banyak orang yang memiliki kesaktian setara dewa. Mata Dewa Api adalah legenda. Masih ada tapi jarang muncul di kancah persilatan. Aku yakin itu muridnya atau pewarisnya. Tetapi catatan Mata Dewa Api memiliki murid atau pewaris sangat minim," kata Meymei setengah mengeluh.

Untuk beberapa saat mereka berada dalam kebuntuan. Suasana menjadi hening. Tubuh keduanya masih tetap melayang masih dalam keadaan saling berpegangan.