Post-91558

Post 47 dari 66 dalam Alien Vairus Coronama Adventure (1)

HomeForumKomentar Cerita PendekAlien Vairus Coronama Adventure (1)Post-91558

#47 avatar
Nurslamet 3 Juli 2020 jam 4:44am  

Alien Vairus Coronama Adventure (13)

Kamera kita alihkan ke tempat lain. Masih di dalam keraton Kencana Kumala. Di sebuah kamar yang mewah, luas, harum dan wangi sebuah tempat tidur berkelambu sutra yang disulam benang emas dan bertirai kain putih yang tembus pandang sesosok wanita berpakaian hitam duduk bersila dalam posisi meditasi. Di depannya duduk seorang wanita cantik berpakain sutra mewah bersulam benang emas dan bertabur pernak pernik dari batu mulia. Sang wanita berpakaian hitam wajahnya tertutup cadar. Aura magis dan misterius mengelilingi tubuhnya. Ada kesan angker dan perasaan seram di hati setiap orang yang menatapnya. Bulu kuduk akan meremang bila terus menatapnya seakan sang wanita berpakaian hitam adalah monster menakutkan yang datang dari alam lain. Namun sang wanita cantik yang duduk di depannya seakan tidak merasakan perasaan angker atau seram.

"Guru, ada gerangan apa guru memanggil murid?" tanya wanita cantik berkulit putih yang terlihat wajahnya masih muda. Orang akan menebak usianya sekitar 30 tahun.

"Cleomatra, muridku. Aku merasakan aura asing telah datang ke planet ini. Aura itu sangat samar dan halus namun aku masih bisa merasakannya. Aura itu seperti tidak asing bagiku. Walau samar dan dia menyembunyikan aura aslinya tapi aku masih bisa mendeteksinya. Musuh besar kita telah tiba. Kamu harus cepat menyempurnakan ilmumu agar kamu menjadi makhluk abadi dan tidak bisa mati atau dibunuh oleh siapapun. Aku akan terus mengawasi musuh besar kita. Bila keadaan mendesak kita tidak akan menunggu bulan purnama tiba. Sepuluh hari lagi waktu yang lama sementara musuh besar kita sudah ada di luar. Sangat dekat dengan kita. Aku akan membantumu langsung untuk menjadi manusia abadi. Kamu adalah harapanku yang akan membantuku menyingkirkan musuh besarku," kata sang wanita berpakaian hitam yang masih dalam posisi duduk bermeditasi.

"Apakah musuh kita sedemikian kuatnya hingga guru harus cemas? Bukankah guru adalah ratu penguasa kegelapan yang memiliki kuasa tiada tanding?" tanya wanita cantik yang tidak lain adalah sang permaisuri. Istri prabu Wong A Gung.

"Aku memang makhluk abadi yang tidak bisa mati, tetapi dikehidupanku sebelumnya musuh besar kita dengan curang dan menggunakan tipu muslihat berhasil menyegel dan memenjarakan jiwaku. Aku harus menderita dan terkurung ratusan tahun sampai kamu datang membebaskan aku. Sekarang dia kembali datang dan aku yakin sudah mengendus keberadaanku tapi kali ini aku tidak akan tertipu lagi. Aku akan memusnahkan jiwanya atau paling tidak memenjarakannya di suatu tempat yang tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya," kata sang wanita berpakaian hitam dan ketika kalimat terakhirnya terucapkan aura misterius di sekujur tubuhnya meningkat drastis. Emosi dan kemarahannya serta dendam kesumatnya pada musuh besarnya yang telah menyegel dan memenjarakannya ratusan tahun begitu berbekas di hatinya. "Ada yang harus aku ingatkan ketika kamu berhadapan dengannya. Dia cerdik dan culas. Di samping ilmunya tinggi, dia juga seorang super jenius. Bila hanya berperang ilmu kesaktian saja aku sanggup mengalahkannya, tetapi menghadapi otak kancilnya aku sedikit kewalahan. Saat itu aku lengah dan terpedaya masuk dalam jebakannya yang berakibat ragaku hancur dan jiwaku tersegel dan terpenjara. Tapi aku belum kalah. Dia menang karena curang. Sekarang, di perang babak ini aku tidak akan jatuh dua kali pada lubang yang sama. Curang harus dibalas curang dan siasat harus dibalas taktik. Aku sudah mengatur strategi untuk membunuhnya," tegas wanita bercadar hitam. Aura membunuh yang begitu pekat dan kuat menyelimuti tubuhnya. Namun aura itu tidak bisa keluar jauh dari tubuhnya seakan tertahan dinding gaib. Rupanya wanita bercadar hitam berusaha menyembunyikan dirinya dengan memasang pelindung dan penyembunyi aura. Dia tidak ingin musuh besarnya mengendus dan mendeteksi keberadaannya sebelum semua persiapan untuk menghadapinya selesai.