Post-91567

Post 50 dari 66 dalam Alien Vairus Coronama Adventure (1)

HomeForumKomentar Cerita PendekAlien Vairus Coronama Adventure (1)Post-91567

#50 avatar
Nurslamet 6 Juli 2020 jam 10:38am  

Alien Vairus Coronama Adventure (16)

Disaat Edi berjuang menyelamatkan diri dari paruh dan cakar para burung, Al telah berteleportasi dan muncul di dalam gua yang akan dituju Edi. Dengan santainya tokoh kita yang gemblung itu menonton Edi yang sedang kalang kabut sambil mengemil.

"Help! Help!" teriak Edi sambil terus melompat kesana kemari. Gerakan Edi semakin lama semakin sulit diikuti mata pendekar biasa. Tubuhnya terlihat seperti bayang-bayang. Para burung yang berusaha melukai Edi semakin geram dan meningkatkan kecepatan serangannya. Tubuh Edi bergerak di antara para burung dan membuat para burung pusing tujuh keliling. Tubuh mereka menjadi lepas kendali dan hilang keseimbangan. Mereka bertabrakan di udara dan jatuh ke tanah bagai daun kering yang gugur ke bumi.

Edi yang melihat para burung bertabrakan dan berjatuhan segera menghentikan gerakannya. Edi berdiri kaku dengan nafas memburu. Jantungnya berdetak cepat. Dia begitu ngeri melihat cakar para burung yang mirip kuku T-rex. Belum lagi paruhnya yang terlihat seperti sabit baja yang sangat tajam. Edi membayangkan bila cakar dan paruh para burung mengenai tubuhnya maka anggota tubuh yang terkena akan terpotong putus dan bila cakarnya mengenai perutnya maka usus-ususnya akan tercerai berai. Membayangkan hal itu maka tidak ada pilihan bagi Edi selain lari dan menghindarinya. Dalam ketakutannya Edi tidak menyadari bahwa dirinya bergerak secepat kilat dan tubuhnya seringan kapas. Edi jugalah yang telah membuat para burung kehilangan keseimbangan dan bertabrakan hingga berjatuhan. Dalam benak Edi itu pasti ulah Al yang menyerang para burung dari tempat tersembunyi.

"Hebat, bro. Hebat!" kata Al yang tahu-tahu sudah berdiri tidak jauh dari Edi.

"Hebat, hebat palalu peyang. Aku nyaris mati di kaki para burung. Kau malah menghilang. Apa begitu sikap seorang sahabat?" rungut Edi kesal. Edi merasa Al sengaja membiarkan dirinya dikejar-kejar para burung. Walau akhirnya Al membantunya, tetapi beberapa menit dibiarkan diburu para burung membuat Edi kesal. Bagaimana bila dalam beberapa menit itu dirinya terbunuh oleh para burung?

"Tenang, bro. Tenang...." kata Al berusaha mendinginkan suhu hati Edi yang sedang membara dibakar api kekesalan.

Sejenak kita beralih ke angkasa. Seekor burung raksasa berbulu merah melayang mendekati puncak gunung di mana Al dan Edi berada. Di punggungnya seorang gadis seusia Edi bertubuh kurus dan rambut dikuncir panjang duduk mengendalikan burung. Tatapan sang gadis yang setajam burung elang melihat dengan jelas adegan tubuh para burung bertabrakan dan jatuh ke tanah.

"Hm, siapa kedua orang itu. Gerakan mereka sangat cepat. Mungkin aku bisa mencari informasi dari mereka," gumam sang gadis sambil memerintahkan burung tunggangannya turun.

Burung raksasa berbulu merah segera turun menukik dan mendarat dengan mulus tidak jauh dari Al dan Edi. Kepakan sayapnya yang masih terbentang menciptakan pusaran angin yang menerbangkan dedaunan dan debu di sekitar tempatnya mendarat.

Sang gadis melompat turun dan berdiri dengan gagahnya. Ujung jubahnya terangkat oleh angin dari kepakan sayap burung tunggangannya. Rambut panjangnya yang terkuncir tergerai ke punggungnya. Bila diperhatikan dengan seksama, di ujung rambut yang terikat dengan pita merah terdapat sebuah benda mirip pisau. Bedanya, bila pisau hanya memiliki satu sisi tajam sementara benda yang terikat di rambut sang gadis tajam di kedua sisinya dan runcing di ujungnya.

Al dan Edi yang sedang bersitegang terkejut melihat sang gadis yang datang tanpa diundang.

"Siapa kalian?" tanya sang gadis sambil menatap Al dan Edi bergantian.

"Harusnya aku yang bertanya. Aku dan temanku ini sudah ada di puncak gunung ini sebelum kamu datang. Jadi menurut teori, aku yang harus bertanya padamu, who are you?" kata Al balik bertanya.

"Lancang mulutmu. Kamu rupanya belum tahu siapa aku," sahut sang gadis yang terlihat marah dengan sikap Al.

"Kamu ini pagimana sih. Aku mana tahu kamu lha wong kamunya aja belum menjawab pertanyaanku. Kamu kira kamu artis atau gadis yang lagi viral hingga dikenal banyak orang. Ngaca dong kamu ini siapa. Kamu gadis biasa kan yang belum pernah muncul di televisi dan bikin video heboh. Jadi wajar aja kalau aku gak kenal kamu," cerocos Al gantian memarahi sang gadis.

Wajah sang gadis merah padam. Namun bila dipikir-pikir omongan Al ada benarnya juga. Bagaimana Al bisa mengenalnya bila dia belum memperkenalkan diri.

"Namaku Lie Na," kata sang gadis menyebutkan nama.

"Siapa? Jackie Chan?" Al terkejut.

"Lie Na, keparat!" amarah sang gadis kembali meledak.

"Lina Kevarat. Nama yang bagus," puji Al.

Sang gadis menepuk jidatnya...