Post 52 dari 66 dalam Alien Vairus Coronama Adventure (1)
Home → Forum → Komentar Cerita Pendek → Alien Vairus Coronama Adventure (1) → Post-91582
#52 | ![]() |
Nurslamet
8 Juli 2020 jam 12:14pm
 
Alien Vairus Coronama Adventure (18) "Hadapi aku, bangsat. Jangan berlari terus seperti seorang pengecut!" teriak Lie Na. Kemarahannya semakin memuncak. Namun Al terus berlari menghindari serangan senjata Lie Na. Al malah sengaja seperti mempermainkan Lie Na. Dia terus saja berlari mengelilingi Edi. Hal itu tentu saja membuat Lie Na semakin marah dan kalap. Karena Al menjadikan Edi sebagai perisai atau perlindungan, maka satu-satunya cara agar Al tidak bisa lagi berlindung di balik tubuh Edi adalah dengan membunuh Edi. Berpikir begitu, Lie Na mengubah arah serangan. Ujung benda tajam yang terikat pada ujung rambutnya melesat ke arah leher Edi. Edi, yang sekujur tubuhnya sudah bermandikan keringat, melihat dengan jelas pisau tajam itu bergerak ke arah lehernya. Ketakutan Edi semakin memuncak. Dirinya tentu saja tidak ingin mati konyol, mati sia-sia dan mati begitu saja. Dalam ketakutannya yang luar biasa, Edi melompat menghindar. Mata pisau lewat dan gagal membunuh Edi. Namun seperti dikatakan di atas, mata pisau bagai punya mata dan bernyawa. Benda tajam itu melenting berputar dan kembali menyambar leher Edi. Edi kembali melompat dan berlari menghindar, namun senjata Lie Na terus mengejarnya. Cerita kini berubah. Lie Na malah menguber-uber Edi! Kita lihat tokoh kita. Disaat arah serangan mata pisau berubah arah dan menyerang Edi, Al melompat menjauh dan duduk dengan santainya di sebuah batu besar. Dikeluarkannya makanan ringan dari balik bajunya dan tanpa menghiraukan Edi yang sedang berjuang di antara hidup dan mati, Al malah ngemil dan menonton Edi dan Lie Na yang bagai kucing mengejar-ngejar tikus. "Jangan terlalu banyak melompat, bro. Badannya jangan kaku begitu. Rileks aja. Ya begitu. Tetap pertahankan posisi itu," kata Al bak seorang komentator terkenal mengkomentari gerakan Edi yang dinilainya terlalu kaku. "Kamu juga Lin lebih cepat lagi menyerangnya. Gerakanmu terlalu lambat. Temanku jangan dikasi hati nanti dia minta bibir. Keluarkan semua kepandaianmu. Anggap saja temanku itu pria yang telah menghamilimu tapi dia tidak mau bertanggung jawab. Jadi jangan ragu-ragu untuk menghajarnya," kata Al pada Lie Na. Lie Na dan Edi yang mendengar komentar Al sontak hatinya membara. Edi yang merasa Al sengaja ingin melihatnya terbunuh menjadi sangat kesal pada Al. Lie Na merasa Al sedang mempermainkannya dan kemarahannya pada Al sudah melampaui ambang batas. Entah sengaja atau tidak, lebih tepatnya entah sudah janjian atau tidak, Edi dan Lie Na menghentikan acara kejar-kejaran mereka dan berbalik menghadap Al yang duduk santai sambil ngemil menonton mereka. Tubuh Edi dan Lie Na terlihat mengeluarkan api tanda mereka sedang marah. Grrrr!!! Edi dan Lie Na menggeram dan secara bersamaan mendorongkan kedua telapak tangan mereka kearah Al. Segera suara menderu bagai ada gelombang tsunami maha dahsyat menderu ke arah Al. Al yang terkejut dan tidak menduga akan ada adegan seperti itu tidak sempat menghindar. Yang bisa dilakukannya adalah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Edi dan Lie Na. Mendorongkan kedua telapak tangannya kedepan. Segera suara gemuruh bagai ada ombak tsunami keluar dari telapak Al dan melesat menyambut serangan gabungan Edi dan Lie Na. Duuaaarrr!!! Ledakan dahsyat menggema memecah keheningan. Batu-batu beterbangan. Tebing terjal yang menjulang di sekitar mereka runtuh bergemuruh dihantam gelombang kejut yang tercipta sesaat setelah ledakan. Para burung yang baru pulih dari pusingnya dan akan bangkit terpental jauh. Namun burung tunggangan Lie Na sempat terbang dan lolos dari hantaman gelombang kejut. |