Post 58 dari 66 dalam Alien Vairus Coronama Adventure (1)
Home → Forum → Komentar Cerita Pendek → Alien Vairus Coronama Adventure (1) → Post-91590
#58 | ![]() |
Nurslamet
10 Juli 2020 jam 5:15pm
 
Alien Vairus Coronama Adventure (21) Wanita dewasa keluar dari dapur membawa nampan berisi ceret kuning keemasan, tiga cawan dan sepiring camilan kemudian meletakannya di meja. "Kalian harus lebih hati-hati dan waspada. Firasat bunda semakin tidak enak," kata wanita dewasa sambil menuang air anggur merah ke dalam tiga cawan. "Iya, Bunda. Banyak pembunuh bayaran yang menginginkan kematian Edison," sahut Meymei sambil menghela nafas. "Bukan cuma Edison, kamu juga Meymei. Bunda yakin kamu juga sudah menjadi target mereka. Kalian harus hati-hati. Jangan mudah percaya pada orang yang baru kalian kenal. Siapa tahu mereka adalah pembunuh bayaran yang sedang menyamar dan menunggu kalian lengah," kata sang wanita sambil duduk di depan Edison dan Meymei. "Lalu apa yang harus ananda lakukan sekarang, Bunda?" tanya Meymei dipenuhi kebingungan. "Untuk sementara kalian aman di sini. Tapi bukan untuk selamanya. Firasat Bunda juga mengatakan madu Bunda pasti akan terus mencari Bunda dan cepat atau lambat, tempat ini pasti akan ditemukan. Tapi kalian tidak perlu khawatir Bunda sudah menyiapkan jalan untuk meloloskan diri bila tempat ini ditemukan oleh orang-orang yang bermaksud tidak baik pada kita," kata sang wanita mendamaikan hati Meymei dan Edison. Meymei akan bicara lagi namun dia melihat Bundanya mengangkat tangan tanda menyuruhnya untuk diam. Dilihatnya Bundanya memejamkan mata tanda sedang berkonsentrasi. Kaakkk!!! Wuussss.... Meymei dan Edison mendengar lengking suara burung yang begitu nyaring dan terdengar suara melintas di atas pucuk-pucuk pohon bambu tepat di atas rumah panggung yang mereka diami. "Aneh, raja burung Kakau mengejar burung Redthunder," gumam sang wanita sambil membuka matanya. "Mungkin mengejar para pemburu yang datang untuk menangkap anak-anaknya, Bunda..." tebak Meymei. "Bisa jadi. Oh, sial. Pengendara Redthunder berputar-putar di sekitar tempat ini. Apa maksudnya," gerutu sang wanita dengan raut kesal. Dalam pikirannya Hutan Bambu Kuning sangat luas dan mereka tidak sengaja melintas di atas tempatnya, tetapi pikiran sang wanita dimentahkan karena pendengarannya yang tajam bisa mendengar bila sepasang burung yang melintas di atas rumahnya berputar-putar di sekitar rumahnya. Apakah hanya kebetulan belaka atau memang pengendara burung Redthunder tahu kalau di situ ada rumah. Disaat ketiganya diam dalam kebingungan dan tidak tahu apa yang harus diperbuat, tiba-tiba... Braakkk!! Terdengar benturan keras di udara dan... Braaasss... terdengar suara benda jatuh menerobos pucuk-pucuk pohon bambu kuning tepat dimana tadi Edison dan Meymei masuk. Sejenak kita mundur beberapa saat ke belakang... Burung merah yang membawa Lie Na, Edi dan Al baru saja mengudara dan terbang dengan kecepatan penuh ketika tiba-tiba seekor burung yang lebih besar terbang mengejar mereka. "Oh, shit!" umpat Al yang mengenali burung yang mengejar burung yang ditungganginya. "Raja burung Kakau mengejar kita. Pasti dia marah karena anak-anaknya banyak yang terluka karena ledakan tadi. Lin, bawa terbang rendah. Raja burung Kakau tak tertandingi di angkasa tinggi tapi dia agak lemah bila terbang rendah," perintah Al pada Lie Na. Entah mengapa Lie Na mematuhi perintah Al dan membawa burung tunggangannya turun menukik dan terbang rendah melintasi lembah, jurang dan ngarai. Tapi raja burung Kakau terus mengejarnya namun kecepatan dan kelincahannya menurun. "Aduh, bro. Gimana nih. Aku belum mau mati," kata Edi dengan wajah pucat dan badan gemetar. Dia masih ngeri pada paruh dan cakar burung Kakau yang mirip kuku T-rex. "Kamu peluk Lie Na terus merem. Jadi ketika kita sama-sama mati kamu gak tau. Tau-tau kita sudah di akhirat," kata Al asal aja. "Apa dia mau aku peluk, bro?" tanya Edi dengan tampang polos. "Meneketehe. Kamu tanya aja sendiri," sahut Al cuek. "Di depan kita Hutan Bambu Kuning. Apa kita harus memutar arah?" tanya Lie Na yang berusaha bersikap tenang. "Terus aja," kata Al. Raja burung Kakau terus mengejar seakan tidak mau melepaskan buruannya walau sudah terbang jauh dan melewati wilayah kekuasaannya. Tak terasa Hutan Bambu Kuning sudah hampir setengahnya mereka lewati. Kaakkk!!! Suara raja burung Kakau yang marah melengking tinggi. "Berputar seperti huruf O!" perintah Al. Lie Na menurut. Burung Redthunder yang dikendarainya miring ke kanan dan terbang berputar masih dalam kecepatan tinggi. "Terus begitu!" perintah Al. Raja burung Kakau yang kemarahannya sudah melebihi batas hilang kesabarannya dan bertindak nekat. Dia merubah arah terbang dan menyongsong Redthunder yang terbang berputar dilintasan yang itu-itu saja sehingga bisa dibaca oleh raja burung Kakau. Lie Na yang terkejut dan tidak menduga raja burung Kakau akan melakukan harakiri tidak sempat merubah arah terbang dan.... Braakkk! Kedua burung bertabrakan. Tubuh Lie Na, Edi dan Al terpental dan jatuh menimpa pucuk-pucuk pohon bambu kuning. |