Home → Forum → Komentar Cerita Pendek → Alien Vairus Coronama Adventure (1)
Komentar untuk Alien Vairus Coronama Adventure (1)
#21 | ![]() |
Dayat45
26 Juni 2020 jam 3:11pm
 
tambah lagi updet'a suhu |
#22 | ![]() |
Nurslamet
27 Juni 2020 jam 2:56pm
 
Alien Vairus Coronama Adventure (7) "Sebelum aku membunuhmu, katakan siapa yang telah membayarmu untuk membunuh Edison?" tanya Meymei dengan tatapan berapi namun sedingin es. Ki Evros akan berbicara, namun tiba-tiba sepasang mata yang sangat besar muncul di langit. Sepasang mata merah menyala. Sebelum mereka pulih dari rasa kagetnya, gelombang panas yang teramat sangat menyerang mereka disusul dengan turunnya api dari langit. Dalam sekejap tempat mereka berdiri telah menjadi lautan api yang membakar apa saja yang ada di area itu. Amukan api berlangsung beberapa menit. Beberapa saat kemudian lautan api lenyap menyisakan kepulan asap pada tanah yang menghitam. Pohon-pohon yang menjadi arang dan bebatuan yang merah membara. Di tempat berdirinya Ki Evros terlihat setumpuk abu putih. Tidak jauh dari tumpukan abu empat tubuh melayang beberapa meter dari tanah. Edison dan Meymei berpegangan tangan. Di sekitar tubuh mereka ada kekuatan kasat mata yang mendorong benda apapun yang mendekati tubuh mereka. Kekuatan kasat mata itulah yang melindungi Meymei dan Edison dari amukan api. Tidak jauh dari Edison dan Meymei, dua tubuh berdiri melayang. Yang satu pakaiannya gosong namun kulitnya utuh dan tidak ada luka bakar sedikitpun. Yang satunya terlihat biasa-biasa saja seakan tidak pernah ditelan lautan api sebelumnya. "Api biasa tidak akan bisa membakar tubuhmu," kata Al pada Edi yang tampak shock. Beberapa menit yang lalu Edi benar-benar ketakutan. Bagaimana tidak. Dirinya secara tiba-tiba berada dalam lautan api. Edi melihat dengan jelas tubuh Ki Evros yang terbakar dan jeritan kematiannya. Dalam sekejap Edi melihat tubuh Ki Evros berubah menjadi arang dan kemudian menjadi abu. Walau dalam lautan api, anehnya mata Edi masih bisa melihat keadaan di sekitarnya. Dia juga melihat Meymei yang menyambar dan memeluk Edison. Ketika api akan reda, Meymei melepaskan pelukannya dan hanya memegangi tangan Edison. Edi juga melihat Al yang malah mengeluarkan makanan ringan dalam kemasan yang biasa dia lihat di super market atau toko-toko makanan dan memakannya dengan santai. Padahal saat itu tubuh Al dalam lautan api atau kata lain sedang di dalam api. Kok sempat-sempatnya makhluk gemblung itu ngemil. Edi melihat Al membuang bungkusan bekas makanan ringannya dan dalam sekejap bungkusan itu menyala dan menjadi abu. Edi sendiri merasa ajalnya akan tiba. Tidak pernah terlintas dalam benak Edi, bahkan di dalam mimpi sekalipun, dirinya akan berada di dalam kobaran api. Dia sedang dibakar di dalam api! Mati aku, keluh Edi di dalam hati. Edi merasa tubuhnya menjadi ringan dan tanpa bobot. Edi merasa seperti berada di ruang hampa. Tubuhnya terangkat dan melayang di permukaan tanah. Edi menyangka dirinya sudah mati dan yang melayang adalah ruhnya. Namun lagi-lagi Edi melihat Al mengeluarkan sebotol energi drink dan menenggaknya kemudian melemparkan botolnya. Dalam sekejap botol bekas energi drink terbakar dan menjadi abu. Kesadaran Edi kembali pulih. Dirinya belum mati! Edi mencubit lengannya. Sakit! Dirinya memang belum mati dan bisa tetap hidup di dalam api. Suatu hal yang luar biasa dan menjadi sensasi di hati Edi. Dia tidak mati walau dibakar di dalam api! "Sekarang kamu percaya kan bahwa tubuhmu sekuat Raden Gatot Kaca?" kata Al lagi membuyarkan lamunan Edi. Saat itu tubuh Edi masih melayang beberapa meter dari permukaan tanah dan bergerak menjauh dari Edison dan Meymei. Setiap ada hembusan angin maka tubuh Edi bergerak seakan dirinya adalah selembar daun yang melayang tertiup angin. "Ta... Tapi bagaimana cara aku turun?" tanya Edi gagap. Dirinya benar-benar tidak mengerti dengan keadaannya sekarang. "Itu Ajian Kapas Sutra. Bila di planet bumi ajian itu adalah versi terbaru dari Saipi Angin," terang Al. "Sapi Angin?" "Bukan Sapi Angin, dodol. Saipi Angin. Kau ini tidak pernah baca cersil ya?" radang Al. "Cara gue turun gimana?" tanya Edi frustasi. Apalah artinya dia memiliki ajian itu bila tidak tahu cara memakainya. "Bentar aku lihat dulu buku panduan manualnya soalnya aku juga agak lupa gitu," kata Al sambil mengeluarkan sebuah buku dari balik bajunya. Di sampul buku tertulis: Buku Panduan Manual Ajian Kama Sutra dan gambar lelaki dan perempuan yang tanpa busana. "Astaga!" Al terkejut. "Maaf, bro. Salah ambil," kata Al lagi dengan wajah memerah. Buku yang dipegang Al lenyap dan berganti buku kecil yang di sampulnya ada tulisan: Buku Panduan Manual Ajian Kapas Sutra. Edi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Al... |
#23 | ![]() |
Yoga1980
28 Juni 2020 jam 7:36am
 
Menunggu update. Walau sedikit2 tapi rutin. Moga tamat |
#24 | ![]() |
Nurslamet
28 Juni 2020 jam 7:57am
 
Setiap cerita / bacaan yang saya unggah ke indozone saya usahakan tamat. Namun karena satu dan lain hal, seperti kesibukan di dunia nyata dan mood yang anjlok, cerita itu jadi terbengkalai. Bila sudah tidak ada mood rasanya susah sekali untuk melanjutkan cerita itu. Tetapi cerita ini saya usahakan selesai. Seperti kata Suhu, sedikit tapi sering. Di samping itu saya mengunggahnya di format cerpen agar semua bisa membacanya. Di format bacaan chapter lengkap hanya bisa dibaca oleh anggota saja. Sedang di format cerpen, selain anggota para tamu atau pengunjung yang bukan anggota atau belum punya akun di indozone bisa membacanya. Ini sesuai dengan tujuan saya berbagi cerita kepada para Suhu yang ada di indozone dan kepada para Suhu pengunjung situs web ini. |
#25 | ![]() |
Yoga1980
28 Juni 2020 jam 10:40am
 
Sip. Sukses selalu buat suhu nur |
#26 | ![]() |
rojolele
28 Juni 2020 jam 10:49am
 
Up suhu biar hari libur ga jenuh. Hanya indozone dan cerita suhu nur yg menemani waktu libur |
#27 | ![]() |
Nurslamet
28 Juni 2020 jam 11:12am
 
Alien Vairus Coronama Adventure (8) "Ajian Kapas Sutra adalah sebuah ilmu meringankan dosa, maaf, meringankan tubuh level tinggi. Tubuh pemiliknya bisa seringan kapas sehingga bisa melompat tinggi, melayang, berlari cepat dan terbang bagai burung," kata Al mendeskripsikan ajian yang dimiliki Edi. "Ajian itu akan berfungsi dengan baik dan membawa manfaat bagi kamu bila kamu bisa mengendalikan gaya dorong dan gaya tolak yang ada di sekitarmu. Secara sederhana ajian itu musuh gravitasi. Ketika diaktifkan atau sedang aktif tanah menolak dan mendorong tubuhmu. Akibatnya tubuhmu akan terangkat dan melayang seperti sekarang. Efek samping dari tubuhmu yang ringan maka angin akan menjadi musuhmu dalam arti angin sepoi-sepoi pun bisa mendorong dan menerbangkan tubuhmu. Itu baru angin semilir aja apalagi bila angin kencang, tornado dan puting beliung tubuhmu akan diterbangkan sampai ke langit atau dibawanya entah kemana," lanjut Al sambil membolak-balik halaman buku Panduan Manual Ajian Kapas Sutra. "Terus gue kapan turunnya?" tanya Edi setengah frustasi. Tubuhnya terus melayang dan bergerak semakin jauh dari area pertempuran. Sosok Edison dan Meymei sudah tidak terlihat lagi. Angin yang bertiup agak kencang membuat tubuh Edi bagai layang-layang putus dari benangnya. Terbang melayang tertiup angin. "Sabar, bro. Menghitung dari satu, membaca dari huruf A dan mengaji dari Alif. Semua harus dari awal agar mendapat pemahaman yang sempurna. Semua perlu waktu. Tidak bisa instan karena yang instan selalu diiringi efek samping. Kamu lihat kan anak yang baru lahir tidak bisa langsung berdiri dan berlari. Semua perlu waktu dan proses. Ingat selalu untuk tidak melupakan proses," kata Al bak seorang filsuf terkenal abad pertengahan. Edi menarik nafas sesak. Setahun saja bersama Al dia bisa terkena stroke. Al terlalu rumit. Sikapnya tidak bisa dipahami. Tingkah lakunya aneh dan kadang nyeleneh. Cara berpikirnya kadang terbalik. Al sosok misterius yang komplek. Kadang terlihat jenius tapi kadang juga kayak orang idiot. Bicaranya kadang lugas, tegas dan jelas. Namun kadang juga berbelit-belit, bertele-tele dan berlete-lete. Seperti saat sekarang. Edi maunya to the poin. Apa susahnya memberi tahu dirinya tutorial Ajian Kapas Sutra. Bukan ceramah model kuliah. Edi mendadak sebal pada Al yang bertingkah bak seorang dosen yang sedang mengkuliahi mahasiswanya. Al seakan bisa membaca pikiran Edi, dia segera merubah mode bicaranya langsung ke tutorial. "Yang harus kamu lakukan sekarang adalah menyalurkan tenaga inti ke kakimu," kata Al. "Caranya?" tanya Edi yang tetap tidak mengerti. "Tarik nafas dalam-dalam. Tahan. Kamu akan merasakan seperti ada ribuan semut di sekitar perutmu. Itu adalah tenaga inti tubuhmu yang berkumpul di zona zero atau titik nol. Itu seperti tentara yang siap diberangkatkan ke medan perang. Pusatkan pikiranmu dan arahkan ribuan semut itu ke bawah secara perlahan atau sedikit-sedikit. Ingat sedikit-sedikit. Jangan sekaligus agar pendaratan berjalan lancar, aman dan mulus," kata Al memberikan tutorial. Edi segera menarik nafas dalam-dalam dan menahannya. Benar saja seperti apa yang dikatakan Al, ada sensasi seperti ribuan semut yang berjalan dan berkumpul di sekitar perutnya. Edi cepat menyalurkannya ke bawah. Ke kakinya. Aliran yang seperti ribuan semut berjalan segera turun dengan cepat. Tubuh Edi seketika turun bak meteor jatuh. Buummm!!! Tubuh Edi menghantam permukaan tanah dan masuk kedalam tanah cukup dalam. Bekas jatuhnya tubuh Edi menciptakan sumur yang cukup dalam. Al hanya geleng-geleng kepala melihat pendaratan Edi yang gagal. "Dasar manusia selalu tergesa-gesa dan tidak sabar. Maunya serba instan. Langsung jadi. Gak mau melalui proses. Maunya langsung ke hasil," kata Al sambil menghela nafas. |
#28 | ![]() |
Nurslamet
28 Juni 2020 jam 11:15am
 
Terima kasih untuk apresiasi para Suhu. Chapter 4a sudah diunggah. Moga bisa menemani waktu libur para Suhu. |
#29 | ![]() |
Andre80
28 Juni 2020 jam 11:20am
 
Mantaaappp |
#30 | ![]() |
Roni99
28 Juni 2020 jam 3:56pm
 
Lanjut hu |
#31 | ![]() |
Alexander90
28 Juni 2020 jam 4:43pm
 
Top markotop. Lanjut terusss... |
#32 | ![]() |
Nurslamet
29 Juni 2020 jam 9:38am
 
Alien Vairus Coronama Adventure (9) "Tolooonggg! Help me!" teriak Edi dari dasar sumur. Tubuh Edi tenggelam di dasar sumur. Air perut planet Mubi lebih dingin dari planet bumi. Edi terjebak di lumpur dasar sumur dan sulit menggerakan tubuhnya. "Bagaimana cara aku menolongmu, bro?" tanya Al yang berdiri di tepi sumur. "Lemparkan tambang, tali atau apa saja yang bisa menarikku naik," suara Edi bergema di dinding-dinding sumur. "Wah, maaf bro. Aku gak bawa tambang atau tali," kata Al penuh sesal. "Tapi kamu coba tarik nafas lagi kayak tadi tapi salurkan ke atas," saran Al. Beberapa saat kemudian. Wussshhh! Sebuah bayangan melesat keluar dari dasar sumur membungbung tinggi ke angkasa seperti roket yang ditembakan dari dasar sumur. "Whooaaa!" teriak Edi ngeri. Tubuhnya menabrak awan dan terjerat di awan. Tubuh Edi terlilit awan putih. Sepintas Edi seperti kepompong. "Help! Help!" Edi meronta-ronta minta tolong. "Tenang, bro. Tenang!" kata Al yang duduk di awan putih sambil memakan makanan ringan. "Tolong keluarkan aku. Aku belum mau mati. Huhuhuu," ratap Edi. "Isi... Isi...." kata Al sambil mengunyah. (Maksud Al mungkin easy, easy). "Tarik nafas kemudian hembuskan sambil teriak: 'Hahh!' dan kamu akan terbebas. Percaya padaku!" kata Al santai. "Hahh!!" Buummm!!! Ledakan dahsyat menggema mencerai beraikan awan yang melilit tubuh Edi. Serpihan awan beterbangan ke segala arah dengan kecepatan yang luar biasa. Al yang sedang asyik mengunyah tidak sempat menghindar. Di samping jaraknya yang terlalu dekat dengan Edi, dia tidak menyangka Edi akan secepat itu melaksanakan sarannya. Tubuh Al terlempar cukup jauh dan menabrak awan lain. "Kupret! Gak ngasi aba-aba dulu langsung teriak aja. Kasi warning dulu kek atau apa kek," gerutu Al sambil bangkit dan duduk di tepi awan. Dikeluarkannya bungkusan cemilan dari balik bajunya. "Kamu gak apa-apa?" tanya Edi yang tiba-tiba muncul di samping Al. "Ah!" Al terkejut. Bungkusan makanan ringan yang dipegangnya terlempar karena kagetnya. "Sontoloyo! Lain kali kalau mau muncul di sampingku bilang dulu. Untung aku gak jantungan. Kalau mengidap sakit jantung aku bisa mati mendadak," kata Al sambil memegang dadanya. "Sorry. Aku menyerah dan gak bisa mengendalikan tubuhku. Ajian Kapas Sutra terlalu rumit dan tidak aku pahami. Aku gagal menguasainya," kata Edi dengan wajah sedih. Al terpana. "Lah, kamu ini pagimana sih? Terus tadi kamu tahu-tahu muncul di sampingku itu gimana caranya?" "Entah, aku lupa lagi," kata Edi polos. Al hanya garuk-garuk kepala. Ajian Kapas Sutra sudah menyatu dengan baik pada raga Edi. Buktinya tadi Edi bisa muncul di sampingnya dalam sekedipan mata. Tidak menabrak dirinya dan tepat di sampingnya. Itu artinya pengendalian Edi pada ajian itu telah sempurna. Tetapi melihat raut wajah Edi yang kebingungan Al tahu Edi tidak berbohong. Edi tidak tahu bagaimana cara dia bergerak begitu cepat. Disaat kesadarannya penuh, Edi sulit mengendalikan pergerakan tubuhnya. Namun di saat-saat tertentu, Edi begitu sempurna menggunakan ajian itu. "Sekarang kita mau kemana?" tanya Edi mengalihkan topik pembicaraan. "Entahlah. Yang jelas cerita kita di planet ini baru saja dimulai. Aku merasa hari-hari berikutnya akan penuh warna," kata Al sambil memandang ke bawah. Samar-samar terlihat sebuah keraton nun jauh di ufuk planet Mubi. Keraton yang memancarkan aura mistis, magis dan misterius. Ada suara-suara aneh yang ditangkap indra pendengaran Al. Suara dengan gelombang yang sangat rendah hingga orang biasa tidak akan mendengarnya. Suara-suara itu mirip atau menyerupai rintihan halus. |
#33 | ![]() |
Roni99
29 Juni 2020 jam 9:51am
 
mkasih sdah apdet suhu. critanya makin seru |
#34 | ![]() |
Ekoprasnowo
29 Juni 2020 jam 12:23pm
 
Lanjut |
#35 | ![]() |
Nurslamet
30 Juni 2020 jam 4:02am
 
Alien Vairus Coronama Adventure (10) Kita tinggalkan dulu Al dan Edi. Mari kita lihat Edison dan Meymei. "Siapa mereka sebenarnya? Mengapa yang satunya wajahnya sangat mirip dengan kamu? Bila aku tidak melihat Pedang Mustika Kumala yang kamu pegang, aku akan mengira dia itu kamu," bisik Meymei pada Edison. Saat itu tubuh mereka melayang ke arah yang berlawanan dengan Al dan Edi. Posisi mereka semakin jauh dari Edi dan Al. "Aku tidak tahu siapa mereka. Mereka datang begitu saja dari langit. Yang mirip aku mengaku bernama Edi dan yang satunya bernama Alien. Yang aku tahu mereka orang baik," kata Edison. "Kamu jangan terlalu percaya pada orang yang baru kamu kenal. Dari luar mereka terlihat seperti orang baik, tapi hati dan niat mereka yang sesungguhnya kita tidak tahu," kata Meymei mengingatkan. Edison terdiam. Dia bermaksud akan menceritakan tentang Sirup Tirta Amarta yang telah diminumnya, namun entah mengapa dalam benaknya ada pertimbangan lain. Edison merasa dirinya bagai ketiban durian runtuh. Bertahun-tahun dia berkeliling ke pelosok negeri mencari kabar keberadaan Sirup Tirta Amarta, namun usahanya belum membuahkan hasil. Cairan super sakti itu seakan hanya legenda atau mitos belaka. Ada nama namun sangat sulit untuk membuktikan keberadaannya. Edison nyaris putus asa dan hampir menganggap cairan itu hanya dongeng semata alias tidak ada. Namun siapa sangka tanpa diduga dan tidak terbayang sebelumnya cairan super sakti itu malah datang sendiri padanya. Tentu saja melalui perantaraan orang lain (baca: Edi). Awalnya Edison menganggap cairan yang diberikan Edi adalah Sirup Tirta Amarta palsu karena tidak masuk akal dan diluar nalar orang yang tidak saling mengenal memberikan suatu benda yang teramat langka dan berharga pada orang lain secara gratis. Akal logika pun sulit menerima hal itu. Namun seperti yang diceritakan sebelumnya, beberapa kali mengalami hal pahit yang nyaris merenggut nyawanya dikarenakan orang yang sepintas baik padanya telah mengajarkan Edison suatu teknik membaca sifat, watak dan karakter orang dari sorot mata dan bahasa tubuhnya. Wajah, lidah dan tingkah laku atau sikap bisa direkayasa atau dimanipulasi, tetapi sorot mata dan bahasa tubuh tidak bisa atau sulit dipalsukan. Sorot mata adalah cerminan langsung dari hati. Pantulan gelombang niat dan maksud yang sesungguhnya atau niat asli. Tulus atau punya maksud lain bisa terpantul dari sorot mata. Tetapi tentu saja tidak semua orang bisa mendeteksi atau membacanya. Diperlukan kepekaan hati untuk menangkap sinyal atau menterjemahkan arti sorot mata. Begitu pula dengan bahasa tubuh. Dari gerak tubuh akan terbaca apakah seseorang itu mengatakan hal yang sesungguhnya atau berdusta. Hanya orang yang peka yang bisa mendeteksi, membaca dan menterjemahkan atau menafsirkan arti sorot mata dan bahasa tubuh. "Ada apa?" tanya Meymei yang melihat Edison terdiam. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan siapa pemilik mata dewa api itu. Dari tempat jauh saja dia bisa membakar kita, apalagi bila berhadapan langsung," sahut Edison berdusta dan mengalihkan topik obrolan. Edison merasa persoalan Sirup Tirta Amarta biarlah untuk saat ini hanya dirinya saja dan kedua tuan penolongnya yang tahu. Orang lain tidak harus tahu karena akan mengundang banyak pertanyaan dan membahayakan dirinya. Bila orang banyak tahu dirinya telah meminum cairan super sakti itu maka bisa dipastikan banyak pendekar-pendekar sakti yang memburunya untuk membuktikan seberapa hebat pengaruhnya pada peminumnya. Mempertimbangkan hal itu Edison membulatkan tekad untuk merahasiakan dirinya telah meminum Sirup Tirta Amarta. Meymei menghela nafas. "Di negeri ini berapa banyak orang yang memiliki kesaktian setara dewa. Mata Dewa Api adalah legenda. Masih ada tapi jarang muncul di kancah persilatan. Aku yakin itu muridnya atau pewarisnya. Tetapi catatan Mata Dewa Api memiliki murid atau pewaris sangat minim," kata Meymei setengah mengeluh. Untuk beberapa saat mereka berada dalam kebuntuan. Suasana menjadi hening. Tubuh keduanya masih tetap melayang masih dalam keadaan saling berpegangan. |
#36 | ![]() |
Tommy20
1 Juli 2020 jam 4:06am
 
Menunggu update |
#37 | ![]() |
Nurslamet
1 Juli 2020 jam 4:40am
 
Alien Vairus Coronama Adventure (11) Keraton Kencana Kumala. Di sebuah wisma nan mewah dan megah kediaman Raden Surya Kesuma. "Bangsat! Namanya aja yang besar dan tenar, kemampuan nol. Membunuh anak kemarin sore saja tidak becus!" amuk Raden Surya Kesuma. Dia baru saja mendapat laporan dari pengawal pribadinya yang melaporkan kegagalan Ki Evros dan empat anak buahnya yang gagal membunuh Edison. "Edison dibantu dua remaja lelaki tidak dikenal, raden. Di samping itu adik tiri raden juga datang membantunya. Bila Eyang Mata Dewa Api tidak cepat turun tangan, rahasia raden akan terbongkar," lapor Ki Siluman. "Kirim pembunuh lain. Aku tidak akan nyenyak tidur dan enak makan bila Edison masih hidup. Dia duri dalam daging bagiku. Ayahanda lebih percaya dan menyayangi dia daripada aku. Adik bungsuku sudah aku jebloskan ke penjara bawah tanah, tinggal Edison yang masih akan menjadi batu sandungan bagi diriku," geram Raden Surya Kesuma sambil mengepalkan tangannya. "Meymei juga harus disingkirkan, raden. Walau dia tidak peduli dengan tahta, tapi dia pelindung Edison," saran Ki Siluman. "Iya. Aku juga berpikiran begitu. Adik tiriku itu bisa menjadi batu sandunganku juga. Aku curiga dia dikirim ayahanda untuk melindungi Edison," kata Raden Surya Kesuma yang sepemikiran dengan Ki Siluman yang juga merangkap penasehat pribadinya. "Satu pembunuh bayaran peringkat empat sudah bersedia menjalankan misi, raden. Dia bernama Lie dengan gelar Si Pedang Terbang," lapor Ki Siluman. "Lie Si Pedang Terbang? Hm, sepertinya kali ini bocah sialan itu tidak akan lolos lagi. Aku sudah lama mendengar nama besarnya," kata Raden Surya Kesuma dengan tatapan berbinar penuh harap. "O ya Raden, ada hal yang ingin paman sampaikan mengenai raden Wu," kata Ki Siluman dengan nada ragu. "Wu Han? Ada apa dengan bocah tolol yang sekarat di penjara bawah tanah itu? Bukankah dia sudah tersegel dan kematian akan menjemputnya?" tanya Raden Surya Kesuma dengan dahi berkerut. "Raden Wu Han memang sudah tersegel dan dalam kondisi sekarat, raden. Namun dia tidak kunjung mati walau luka-lukanya sangat parah dan kondisinya terus memburuk. Raden tentu ingat darah yang mengalir di tubuh raden Wu Han adalah darah Kelelawar Vairus. Raja segala kelelawar dan sangat sakti. Tidak bisa mati dengan mudah. Raden Wu Han adalah pewaris langsung darah raja kelelawar itu. Jadi tidak bisa mati dengan mudah," kata Ki Siluman mengingatkan Raden Surya Kesuma. "Terus maksud paman apa membicarakan bocah tolol itu?" tanya Raden Surya Kesuma menatap tajam abdi kepercayaannya itu. "Apa tidak sebaiknya kita bunuh saja raden Wu Han, raden?" kata Ki Siluman bertanya tetapi hakikatnya menjelaskan maksud isi hatinya. Sesaat Raden Surya Kesuma terdiam. "Aku rasa saat ini belum perlu. Walau bocah tolol itu bisa bertahan hidup sampai sekarang, tetapi sudah tidak berbahaya atau bukan lagi ancaman serius bagiku. Lagi pula apa yang bisa dilakukan dia yang tersegel dan dalam kondisi sekarat," papar Raden Surya Kesuma memberikan argumennya. "Baiklah kalau itu menurut pendapat raden. Paman ikut saja. Paman berpendapat begitu karena firasat paman tidak enak. Paman merasa bocah itu akan sangat membahayakan raden bila tetap hidup, apalagi sampai terlepas," kata Ki Siluman sambil menghela nafas. "Paman jangan mencemaskan hal itu. Lagipula pamankan tahu kecil kemungkinan bocah sialan itu bisa meloloskan diri. Selain tubuhnya tersegel dan penuh luka parah yang terus menggerogoti nyawanya, penjara bawah tanah telah kita modifikasi dan penuh jebakan maut dan beracun. Siapa pun, selain kita, tidak akan ada yang bisa masuk dan menjumpai bocah itu, apalagi membebaskannya. Jadi paman tenang aja dan tidak usah memikirkan hal itu lagi," kata Raden Surya Kesuma membeberkan pendapatnya. "Baiklah kalau begitu, raden. Paman undur diri dan akan mengirim pembunuh bayaran berikutnya untuk membunuh Edison," kata Ki Siluman sambil menjura. Selesai berkata tubuh Ki Siluman lenyap. Raden Surya Kesuma hanya manggut-manggut dan merasa puas dengan kinerja Ki Siluman, pengawal pribadinya yang menjaga dan melindunginya dari tempat gelap. Sudah menjadi rahasia umum bila raja dan keluarganya memiliki pengawal pribadi dan para pengawalnya ada yang bergerak dan melindungi majikannya dari tempat tersembunyi. |
#38 | ![]() |
Nurslamet
1 Juli 2020 jam 4:47am
 
Sudah, Suhu. Terima kasih sudah setia menunggu |
#39 | ![]() |
Alexander90
1 Juli 2020 jam 4:58am
 
Wow ada wuhan... pas itu suhu si corona bila ketemu si wuhan 😆😅😃😎 |
#40 | ![]() |
X3c04
1 Juli 2020 jam 5:56am
 
Lama ga masuk indozone trnyata ada crita baru suhu nur. Genre campur aduk dan crita ngawur khas suhu nur. Tpi setelah baca seru jga. Lanjut sampe tamat suhu. Ane pantengi trus nih crita |